
Foto : Dok Pribadi/Natera
Hello Naters!—Di tengah banyak kafe yang berlomba menjual estetika dan menu kekinian, Retrorika kafe di kawasan Bumi Aji, Kota Batu, justru memilih jalur berbeda. Mereka berkonsep kafe eco-friendly dengan tujuan menjalankan kampanye lingkungan secara nyata.
Konsep ini tidak hadir sebagai gimmick. Sejak awal, Retrorika ingin menjadi ruang yang nyaman bagi pengunjung sekaligus tempat edukasi. Di kafe ini, kampanye lingkungan tidak digelar dengan poster besar atau jargon yang rumit. Sebaliknya, pesan itu hadir lewat praktik sederhana yang bisa dilihat langsung.
Salah satu caranya adalah melalui merchandise yang mereka jual. Ruang sepetak kecil di dekat kasir bukan sekadar ruang pajangan, tetapi bagian dari strategi untuk mengajak pengunjung memahami bahwa gaya hidup ramah lingkungan bisa dimulai dari hal kecil. Owner Retrorika, Ismi, menjelaskan bahwa tujuan mereka bukan hanya menjual produk, tetapi menghidupkan pemahaman bahwa alam masih menyediakan banyak alternatif yang bisa kita gunakan kembali.
“Banyak sekali produk dari alam yang sebenarnya bisa kembali ke kita dan aman untuk lingkungan,” jelas Ismi ke Natera. Pernyataan itu menjadi dasar bagaimana Retrorika memilih barang-barang yang mereka tawarkan.
Merchandise Zero Waste Retrorika
Berbeda dari kafe lain yang menjual merchandise sebatas aksesori atau dekorasi, Retrorika mengkurasi produk berdasarkan nilai keberlanjutannya. Sebagian merchandise bahkan berlabel zero waste, dibuat dari bahan alami yang bisa kembali ke tanah tanpa menimbulkan residu.
Salah satu produk yang banyak menarik perhatian adalah batu apung, digunakan sebagai penggosok badan ketika mandi. Produk ini menjadi alternatif ramah lingkungan untuk scrub berbahan mikroplastik yang umum dijual di pasaran.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Ada juga showerpuff dari sayur gambas kering. Di luar bentuknya yang unik, produk ini sepenuhnya alami dan bisa dikomposkan setelah tidak terpakai. Di rumah tangga modern, gambas kering mungkin tampak asing, tetapi Retrorika mengingatkan bahwa bahan ini sesungguhnya sudah lama digunakan sebelum produk plastik mendominasi pasar.
Untuk kebutuhan dapur, Retrorika menawarkan spons cuci piring dari serabut kelapa, solusi yang menggantikan spons sintetis yang sering menjadi limbah mikroplastik. Selain itu, tersedia sendok kayu dan sedotan stainless yang dapat digunakan berulang kali dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Seluruh produk ini dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp5.000 hingga Rp50.000. Harga yang inklusif ini bukan strategi bisnis semata, tetapi dirancang agar lebih banyak orang dapat mencoba alternatif ramah lingkungan tanpa terkendala biaya.
Setiap merchandise yang dipilih pasti memiliki alasan semuanya adalah alat sederhana yang digunakan sehari-hari, tetapi dibuat dari bahan yang lebih aman dan berkelanjutan. Melalui pilihan produk ini, Retrorika ingin menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar; cukup mengganti satu barang kecil saja sudah langkah maju.
Kampanye Lewat Barang Sehari-hari
Bagi Retrorika, merchandise bukanlah produk sampingan. Ia adalah bagian dari kampanye lingkungan yang dilakukan secara halus, tapi konsisten. Setiap barang yang dibeli pengunjung menjadi media yang membawa pesan: bahwa kita bisa memilih alternatif yang lebih baik untuk bumi.
Pendekatan ini berbeda dari kampanye lingkungan yang bersifat seremonial atau kampanye online yang cepat hilang dari perbincangan. Retrorika menggunakan pendekatan yang lebih membumi produk yang dipakai setiap hari, yang masuk ke rumah, dan memengaruhi kebiasaan tanpa paksaan.
Ismi melihat merchandise sebagai cara untuk memperkenalkan kembali produk dari alam. Batu apung, gambas kering, serabut kelapa, kayu ini semua adalah bahan yang sudah digunakan sejak lama. Namun banyak orang kini beralih ke produk plastik karena dianggap lebih modern. Retrorika berusaha memperbaiki persepsi itu.
“Kalau masyarakat bisa kembali ke produk yang berasal dari alam, dampaknya besar sekali,” ujar Ismi sesi wawancara Natera
Produk-produk alami ini mudah terurai, tidak meninggalkan limbah, dan lebih aman bagi lingkungan. Respon pengunjung pun cukup positif. Banyak yang awalnya membeli karena penasaran, lalu kembali setelah merasa cocok. Ada pula pengunjung yang menceritakan produk ini ke teman mereka, membuat kampanye kecil Retrorika menyebar dari mulut ke mulut.
Di tengah maraknya isu sampah plastik dan limbah rumah tangga, langkah Retrorika menjadi contoh bagaimana bisnis kecil bisa menjalankan kampanye lingkungan secara relevan dan efektif. Tanpa retorika berlebihan, tanpa kampanye besar-besaran, tapi lewat barang sederhana yang dipakai pengunjung setiap hari.
Retrorika Café membuktikan bahwa kafe bukan hanya tempat minum kopi. Dengan pendekatan yang konsisten dan produk yang terjangkau, mereka menjadikan merchandise sebagai alat edukasi yang nyata. Kampanye lingkungan mereka berjalan bukan lewat poster, tetapi lewat pilihan produk yang kembali ke alam dan kembali ke kita.