Retrorika Kafe Mengolah Sampah Masakan Menjadi Kompos

penyemprotan EM4
Revan menyemprotkan EM4 ke sampah organik yang telah dicacah. Langkah kecil ini mempercepat pengomposan, mengubah sisa dapur menjadi harapan baru bagi tanah dan lingkungan.
Foto : Dok Pribadi/Natera.

Di kawasan Bumi Aji, Kota Batu, ada sebuah kafe yang tidak hanya sibuk meracik menu dan menyeduh kopi. Retrorika Kafe juga sibuk mengurus sisa masakan mereka sendiri. Di tempat ini, potongan sayur, kulit buah, hingga cangkang telur tidak berakhir di tong sampah besar yang menunggu diangkut ke TPA. Di tengah gaya hidup masyarakat kota yang serba cepat dan budaya habis pakai, buang,  Retrorika memilih langkah yang lebih pelan. Mereka mengolah sampah organik menjadi kompos. 

Limbah Dapur Jadi Kompos

Rutinitas di dapur Retrorika Kafe berjalan seperti dapur pada umumnya sibuk, panas, dan penuh aktivitas. Bedanya, di dapur sudah ada tiga jenis tempat sampah organik. Sejak awal, sisa potongan sayur, buah, dan cangkang telur langsung dipilah. Tidak ada proses sortir ulang di belakang, dan tidak ada alasan nanti saja memilahnya, untuk karyawan dapurnya.

Setiap hari, kafe ini menghasilkan sekitar 5 kilogram sampah organik. Angka itu bisa meningkat hingga 9 kilogram saat akhir pekan atau hari libur, ketika pengunjung datang lebih ramai. Bagi banyak usaha kuliner, volume ini sering dianggap konsekuensi bisnis. Tapi di Retrorika, angka itu justru menjadi keuntungan sendiri bagi cafe ini.

Revan, salah satu karyawan yang sehari-hari mengurus proses ini, memastikan seluruh sampah organik dibawa ke tempat pengomposan setiap hari. Tidak dibiarkan menumpuk supaya banyak terlebih dahulu. Langkah kecil ini mungkin terlihat sederhana. Namun di kota wisata seperti Batu yang aktivitas kulinernya terus tumbuh, pemilahan sampah menjdi hal yang krusial. Sampah yang dipilah sejak awal punya peluang lebih besar untuk kembali ke alam, bukan berakhir di gunungan TPA.

Mengolah Limbah Dapur Retrorika Kafe

Di gudang pengomposan, sisa masakan Retrorika tidak ditimbun. Tahap pertama adalah pencacahan. Sampah organik dimasukkan ke mesin cacah yang dirakit sendiri. Mesin ini dibuat dengan tujuan memperkecil ukuran sampah, agar proses pembusukan berlangsung lebih cepat dan merata.

sampah cacah kompos retrorika kafe
Mesin pencacah rakitan ini memperkecil ukuran sampah organik dapur, membantu mikroorganisme bekerja lebih cepat. Cara sederhana agar proses pengomposan berlangsung efisien dan tidak berlarut-larut.
Foto : Dok Pribadi/Natera.

Setelah dicacah, sampah dimasukkan ke dalam bak penampungan kompos. Di sinilah cairan EM4 disemprotkan. EM4 (Effective Microorganisms 4) merupakan cairan berisi kumpulan mikroorganisme baik seperti bakteri asam laktat, bakteri fotosintetik, ragi, dan actinomycetes yang membantu mempercepat proses penguraian bahan organik menjadi kompos.

Tahap berikutnya bak kompos ditutup dan dibiarkan selama kurang lebih delapan bulan. Tidak ada proses instan. Mikroorganisme bekerja perlahan, mengurai sisa limbah dapur hingga berubah menjadi tanah yang kaya unsur hara.

Ketika kompos sudah matang, proses belum selesai. Kompos yang baru diambil dari bak penampungan dijemur terlebih dahulu selama sekitar satu hari. Tujuannya untuk menurunkan kadar air dan menstabilkan tekstur. Setelah itu, kompos dicampur dengan sekam agar hasil akhirnya lebih gembur dan siap digunakan sebagai media tanam.

Aksi Lewat Kompos

Pupuk kompos hasil olahan Retrorika Kafe digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya untuk bisnis tanaman mereka, Retroplant. Selain itu, kompos juga dimanfaatkan untuk merawat tanaman di sekitar area kafe. Tanaman tanaman ini tumbuh dari siklus yang sama dari dapur, kembali ke tanah, lalu menjadi ruang hijau yang dinikmati pengunjung.

retroplant
Tanaman yang dijual di Retrorika Cafe, yang dikenal dengan nama Retroplant, didominasi jenis sukulen tanaman hemat air yang tumbuh pelan dan merepresentasikan upaya menghadirkan kehijauan berkelanjutan.
Foto : Dok Pribadi/Natera.

Namun cerita tidak berhenti di situ. Retrorika membuka akses kompos ini untuk warga sekitar. Siapa pun yang membutuhkan bisa mengambilnya secara gratis. Bagi Ismi, sang pemilik kafe, langkah ini adalah bentuk kampanye lingkungan yang paling jujur. 

“Saya berikan gratis ya karena itung itung sosialisasi peduli lingkungan lewat kompos” ujarnya ke Natera.

Ia percaya, ketika warga menggunakan kompos tersebut untuk kebun kecil atau tanaman rumah, kesadaran lingkungan tumbuh secara alami. Tanpa campaign bahkan tanpa poster besar. Cukup lewat praktik yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.