
Foto: Dok Pribadi/Natera.
Kota Malang-Di sebuah sudut galeri daur ulang yang berada di Kec Kedungkandang, suara gunting beradu dengan bungkus plastik sisa kopi atau bumbunya dapur. Kilau kemasan bungkus menyala di bawah lampu, bukan untuk dibuang, tapi dirangkai. Di sinilah sampah plastik menemukan hidup keduanya. Bukan di TPA, melainkan di rak galeri daur ulang menjadi rompi, tas, hingga vas bunga.
Nuralfiatul Khasanah, atau yang akrab disapa Alfi, memulai langkahnya dari hal yang sangat sederhana. Tahun 2019, TPST di wilayah tempat tinggalnya berdiri hanya untuk memenuhi kewajiban ada bank sampah, sampah dipilah, lalu disetor ke bank sampah pusat. Tidak lebih saat itu, pengelolaan sampah belum dipikirkan sebagai upaya jangka panjang, apalagi ruang kreatif. Namun di balik rutinitas yang terasa formalitas itu, Alfi mulai memperhatikan tumpukan sampah yang tak dilirik jenis limbah yang dianggap tidak laku dan tak punya nilai.
Alih-alih mengabaikannya, justru memilih bertahan di sana. Ia memilah sampah dengan telaten, bukan hanya untuk mengurangi residu, tetapi karena penasaran. Dari proses itu, muncul eksperimen kecil. Sampah yang sebelumnya ditolak pasar mulai ia olah menjadi kerajinan sederhana. Awalnya bukan untuk membuat baju atau produk bernilai jual tinggi, melainkan sekadar mencoba dan belajar. Dari tangan Alfi, sampah pelan-pelan berubah bentuk, membawa cerita baru, sekaligus membuka kemungkinan yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Seiring waktu, TPST itu pun bertransformasi. Ruang yang dulunya hanya tempat sortir kini menjelma menjadi galeri daur ulang penuh karya unik dari sampah yang semula dianggap tak berguna. alfi kini dikenal sebagai salah satu pelopor TPST di wilayahnya, bukan karena ambisi besar, tetapi karena konsistensi. Ia membuktikan bahwa perubahan bisa tumbuh dari kepedulian kecil, dari keberanian untuk melihat sampah bukan sebagai akhir, melainkan awal dari nilai baru.
Sampah Plastik ke Meja Jahit
Awalnya sesederhana dengan mengelola bank sampah Alfi memilah hingga 70 jenis sampah setiap hari. Warga datang membawa plastik, kardus, dan botol semuanya harus sudah dalam kategori yang diterima Bank Sampah Pusat Malang
Tapi tidak semua sampah punya nasib baik, sebagian justru berhenti di tengah jalan. Bungkus kopi, plastik permen, kemasan bumbu instan dapur, hingga kresek tipis jenis sampah yang nyaris tak punya nilai jual.
“Kalau dibuang, ya kembali jadi sampah. Kalau disimpan, numpuk,” celetuk Alfi kepada Natera.
Dari kegelisahan itu, ide sederhana mulai tumbuh. Bagaimana kalau sampah-sampah yang dianggap tak laku ini diolah jadi sesuatu yang baru. Bukan sekadar pajangan, tapi benda yang bisa dipakai, disentuh, bahkan dipamerkan. Disitulah Alfi mulai bereksperimen membuat kerajinan dan kostum dari plastik daur ulang.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Prosesnya tidak instan. Plastik-plastik itu dicuci, dikeringkan, lalu dipilah berdasarkan warna dan teksturnya. Dari tangannya, sampah berubah jadi material. Alfi membagi karyanya ke dalam dua kategori kerajinan dengan teknik jahit dan teknik anyam.
Untuk karya yang dijahit, prosesnya lebih teknis. Ia menggambar pola, mengukur ukuran, memastikan semuanya pas sebelum masuk ke tahap penjahitan. Sementara pada karya anyam, imajinasi memegang peran utama. Tanpa pola baku, tangan Alfi bergerak mengikuti ide yang muncul saat produksi lebih bebas.
Satu rompi bisa memuat puluhan, bahkan ratusan, kemasan kopi. Satu tas adalah hasil dari ratusan potongan plastik kecil yang dirangkai dengan kesabaran. Di balik setiap jahitan dan anyaman, ada limbah yang berhasil diselamatkan dari tumpukan, dari kemungkinan kembali mencemari lingkungan.
Bagi Alfi, ini bukan sekadar soal estetika. Setiap karya adalah bentuk perlawanan kecil terhadap budaya sekali pakai. Sampah yang dulu dianggap tidak berguna, kini punya cerita baru dipakai di tubuh manusia, berjalan ke ruang publik, dan membuktikan bahwa limbah pun bisa punya nilai jika diberi kesempatan kedua.
Ketika Sampah Jadi Cuan
Bersama empat pengrajin, produk yang ia buat kini telah melanglang ke seluruh Indonesia. Harganya ramah di banyak kantong mulai Rp5.000 untuk kerajinan kecil, hingga Rp1 juta untuk karya yang lebih kompleks. Tak melulu dijual, sebagian juga disewakan dengan tarif Rp25.000 sampai Rp200.000.
Pesanan terbesar sejauh ini datang dari Jakarta: 30 rompi untuk sebuah acara. Bukan angka kecil, baik dari sisi tenaga maupun waktu. Tapi justru di sanalah lelah dan bangga saling bertemu.
“Rasanya campur aduk. Capek, tapi senang. Karena sampah yang biasanya dianggap jijik, malah dipakai di acara besar,” tuturnya kepada Natera.
Tentu jalannya tak selalu mulus. Musim hujan jadi musuh utama. Plastik basah susah kering, produksi melambat, bau dan jamur mulai mengintai. Namun seperti bahan yang mereka olah, Alfi dan timnya belajar tahan banting: menambah waktu jemur, mencari ruang pengeringan, dan memperpanjang kesabaran.
Yang membuat karya-karya ini istimewa bukan cuma soal rupa. Tapi Ada pesan yang dibawa bahwa sampah bukan akhir cerita, ekonomi sirkular bisa dimulai dari skala kecil, dan kreativitas mampu mengubah masalah lingkungan jadi peluang.