
Foto: Dok Pribadi/Natera
Malang – Halo Naters! Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap krisis sampah plastik, hadir sebuah cerita menarik dari kafe yang terletak di Jalan Sultan Agung, Malang. Kopi Nako yang selama ini dikenal sebagai tempat nongkrong anak muda kini menjadi ruang yang tidak hanya estetik, tetapi juga berkelanjutan. Di tempat inilah, ribuan gelas plastik yang biasanya berakhir menjadi sampah diolah menjadi meja, kursi, panel interior, hingga elemen dekorasi yang mempercantik ruangan.
Kafe Kopi Nako, hasil kolaborasi antara Kompas dan pengelola lokal, resmi dibuka pada tanggal 27 Oktober 2025. Kafe ini tak hanya menyajikan kopi dan tempat ngobrol, tapi juga mengusung konsep ramah lingkungan yang nyata mulai dari pengelolaan sampah mandiri hingga pemanfaatan limbah jadi produk baru. Gerai ini menjadi cabang ke-64 Kopi Nako sekaligus yang ketiga hasil kolaborasi dengan Kompas.
Dari Gelas Plastik Bekas Jadi Furnitur Estetik
Setiap hari, ribuan gelas plastik digunakan pelanggan di seluruh outlet Kopi Nako. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut bisa menambah beban lingkungan. Namun kali ini, Kopi Nako berinovasi dengan mengubah gelas-gelas bekas itu menjadi produk bernilai tinggi.
Melalui kerja sama dengan Daur Baur, startup lokal yang bergerak di bidang pengolahan sampah plastik, limbah gelas dikumpulkan langsung dari outlet. Prosesnya cukup ketat: gelas dipilah, dibersihkan, dan dikirim ke micro-factory Daur Baur untuk diolah menggunakan teknologi upcycling.
Melalui program ini, gelas plastik bekas minuman yang dihasilkan di outlet Kopi Nako tidak lagi berakhir di tempat pembuangan. Sampah tersebut dikumpulkan, dibersihkan, lalu diproses oleh Daur Baur menjadi material panel dan papan daur ulang yang kemudian digunakan sebagai meja kafe, kursi sampai elemen dekorasi interior

Foto: Dok Pribadi/Natera
“Berbagai jenis sampah diolah kembali menjadi barang bernilai guna, seperti meja, atap, dan sarana lainnya,” ujar Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengutip dari laman resmi Pemerintah Kota Malang, malangkota.go.id (27/10/2025).
Material hasil olahan Daur Baur memiliki pola dan tekstur unik, memberikan sentuhan modern dan estetik tanpa meninggalkan kesan hangat khas Kopi Nako. Setiap sudut kafe pun kini tak hanya nyaman untuk bersantai, tapi juga menyimpan cerita tentang keberlanjutan.
Dalam konteks keberlanjutan, pendekatan ini termasuk ke dalam sustainable design, desain yang tidak hanya memikirkan estetika dan fungsi, tetapi juga dampak ekologis dari setiap keputusan material.
Bukan Sekadar Konsep, Tapi Komitmen Nyata
Kolaborasi ini bukan sekadar gimmick branding ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah di lokasi produksi, Kopi Nako dan Daur Baur berupaya memutus rantai sampah plastik yang biasanya berakhir di TPA atau bahkan mencemari lingkungan.
Langkah nyata yang dilakukan Kopi Nako bersama Daur Baur ini menjadi contoh bahwa perubahan besar dapat dimulai dari hal sederhana. Melalui penerapan sistem sirkular, setiap cangkir kopi yang disajikan di kafe kini menyimpan nilai keberlanjutan. Tidak hanya mengurangi timbulan sampah plastik, inisiatif ini juga membantu menumbuhkan kesadaran baru di kalangan pengunjung bahwa gaya hidup hijau bisa dimulai dari aktivitas sehari-hari.
Model sirkular seperti ini penting karena Indonesia masih berada dalam daftar negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Tanpa intervensi langsung dari pelaku industri, sampah plastik pasca-konsumsi akan terus bertambah.
Menjadi Contoh untuk Industri Lain
Upaya ini membuka peluang bagi kafe, restoran, dan brand kuliner lain untuk melakukan hal serupa. Dengan memanfaatkan limbah internal sebagai material desain, industri makanan dan minuman dapat menurunkan jejak karbon sekaligus meningkatkan kepedulian konsumen terhadap isu lingkungan.
Kopi Nako Malang bukan hanya tempat untuk menikmati kopi, tetapi juga ruang bagi perubahan budaya bahwa setiap tindakan kecil seperti memilih wadah minum atau memilah sampah dapat berkontribusi pada sistem yang lebih besar.
Pada akhirnya, keberlanjutan tidak harus dimulai dari solusi besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah melihat gelas plastik bekas bukan sebagai sampah, tetapi sebagai materi masa depan.