
Foto ; Dok Pribadi/Natera.
Hello Naters!—Kalau banyak kafe sibuk cetak paper bag baru untuk merchandise, Retrorika justru memanfaatkan kotak susu bekas sebagai packaging kaos. Simple, murah, tapi punya cerita hijau di baliknya.
Limbah Kotak Susu Menjadi Identitas
Di salah satu sudut sejuk Kota Batu, berdiri sebuah kafe dengan konsep yang langsung mencuri perhatian. Dari luar, Retrorika tampak seperti kafe pada umumnya. Namun begitu melangkah masuk, suasananya berubah total. Seluruh interiornya dirakit dari barang-barang bekas yang disulap menjadi sesuatu yang benar-benar baru. Kursi dari Tabung gas rusak, meja yang dibuat dari pintu kayu tua, hingga pot tanaman yang berasal dari sepatu usang setiap sudutnya seperti ingin bercerita bahwa Retrorika adalah ruang yang hidup dari kreativitas dan semangat daur ulang.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Ismi Wahid, owner Retrorika Kafe, mengakui bahwa bisnis F&B tidak pernah lepas dari produksi limbah. “Bisnis F&B pasti menghasilkan berbagai sampah, salah satunya yang paling banyak ya kotak susu, Dari situ saya mulai miki gimana ya caranya supaya semua itu nggak numpuk begitu saja?” ujarnya saat ditemui tim Natera di Retrorika Kafe.
Kotak susu UHT memang menjadi salah satu jenis limbah yang jarang disadari banyak pemilik kafe. Padahal, kemasan multilayer ini bukan sekadar karton di dalamnya terdapat lapisan plastik dan aluminium foil yang membuatnya jauh lebih sulit untuk terurai. Jika hanya dibuang ke TPA limbah kotak susu bisa bertahan puluhan tahun tanpa benar benar bisa terurai sempurna. kondisi ini, yang terjadi di banyak coffee shop, membuat tumpukan sampah kotak susu menjadi persoalan yang terus berulang.
Retrorika mengambil jalan berbeda. Alih-alih membuangnya, kotak-kotak susu bekas itu dikumpulkan, dibersihkan, dicat ulang, lalu diproses melalui tahapan khusus agar siap digunakan kembali. Di tangan tim Retrorika, limbah yang sebelumnya tidak punya nilai jual kini berubah menjadi packaging kaos yang unik dan fungsional. Retrorika memang memproduksi dan menjual kaos merchandise sebagai salah satu produk pendamping kafe. Strateginya sederhana tetapi kuat tanpa memakai paper bag baru, mereka memanfaatkan kotak susu bekas sebagai kemasan kaos memberikan identitas visual yang khas sekaligus mengurangi produksi sampah baru.
Kreatif yang Lahir dari Masalah.
Setiap minggu, Retrorika menghasilkan puluhan kotak susu UHT 900 ml dari kebutuhan minuman di dapur mereka. Tanpa masuk ke tempat sampah seperti di banyak kafe lain, kotak-kotak ini justru punya manfaat yang besar. Di tangan tim Retrorika, limbah itu berubah menjadi kemasan kaos yang unik sebuah bentuk kreativitas yang langsung mencuri perhatian pembeli sejak pertama melihatnya.
Proses daur ulangnya dibuat sederhana tapi penuh detail. Kotak susu yang sudah kosong terlebih dahulu dicuci bersih, lalu dipotong rapi agar permukaannya halus. Setelah itu, kotak dijemur hingga benar-benar kering sebelum masuk ke tahap pewarnaan. Pilox menjadi pilihan utama untuk memberikan karakter visual sedikit glossy, gaya retro, tetapi tetap punya vibe modern yang cocok dengan identitas kafe. Sentuhan terakhir adalah stiker brand Retrorika yang ditempel sebagai penanda. sederhana, namun kuat mempertegas kesan handmade dan penuh personality.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Kaos produksi Retrorika kemudian dilipat presisi dan dimasukkan ke dalam kotak tersebut. Hasil akhirnya bukan sekadar kemasan souvenir, tetapi paket lengkap: estetis, fungsional, dan membawa pesan pentingnya menjaga lingkungan. respons spontan dari pengunjung cafe itu yang membuktikan bahwa kreativitas bisa membuat limbah punya nilai baru.
“Orang kira kotak susu itu sampah. Padahal kalau diproses lagi, dia punya struktur yang kuat dan bisa dipakai berkali-kali,” ujar Ismi Wahid saat diwawancarai tim NATERA.
Kreasi kemasan ini tidak hanya menjawab isu limbah di kafe, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Retrorika menerapkan prinsip green entrepreneur dengan cara mengolah limbah yang tak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus menambah cerita di balik setiap produk yang mereka jual. Packaging bukan lagi sekadar bungkus, melainkan bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari bahan paling sederhana.