
Malang – Bagaimana layanan Pickup My Litter iLitterless bekerja membantu warga Kota Malang memilah sampah sejak dari rumah dibahas dalam liputan bersama iLitterless melalui wawancara dengan Nina Amelia, Education and Outreach Coordinator iLitterless. Layanan ini dikembangkan untuk menjawab persoalan sampah perkotaan dengan pendekatan penjemputan terjadwal yang disertai edukasi berkelanjutan, agar pemilahan tidak berhenti sebagai wacana semata.
iLitterless Indonesia dicetuskan oleh Ence Adinda bersama Mayedha Adifirsta dan Hendi Suryo Leksono dari obrolan santai anak muda di Malang pada tahun 2021, sebagai respons atas persoalan sampah di industri FnB. Inisiatif ini diwujudkan melalui layanan jemput sampah terpilah gratis Pick-up My Litter (PML) dan kolaborasi dengan kafe-kafe perintis untuk membangun sistem manajemen sampah di Kota Malang.
Persoalan sampah di kota kerap berujung di tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, akar masalahnya justru berada jauh sebelum itu di rumah tangga, kos-kosan, dan tempat usaha kecil, tempat sampah pertama kali dihasilkan. Minimnya pemilahan sejak dari sumber membuat sampah bercampur dan sulit diolah, sehingga memperberat beban sistem persampahan kota. Pickup My Litter hadir untuk mengintervensi titik awal tersebut.
Dari Pengalaman Lapangan ke Sistem Penjemputan
Nina Amelia menjelaskan bahwa ide layanan Pickup My Litter iLitterless lahir dari pengalaman panjang mendampingi warga dan pelaku usaha yang sebenarnya memiliki kesadaran lingkungan, tetapi tidak tahu harus ke mana setelah memilah sampah. Banyak yang sudah berusaha memilah di rumah, namun akhirnya kembali mencampur karena tidak ada sistem lanjutan.
“Kami sering melihat di TPS, pekerja harus memilah sampah dalam waktu singkat. Padahal, kalau dari rumah sudah terpilah, itu sangat membantu,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup didorong oleh kampanye semata. Tanpa sistem yang memudahkan, niat baik individu akan berhenti di rumah. PML kemudian dirancang sebagai layanan yang menjembatani kesadaran personal dengan sistem pengelolaan yang nyata.
Cara Kerja Layanan Pickup My Litter iLitterless

Secara operasional, PML memungkinkan pengguna menjadwalkan penjemputan sampah terpilah dari rumah, kos, maupun kafe. Untuk kafe mitra, layanan ini disediakan secara gratis dengan jadwal penjemputan rutin satu kali dalam seminggu. Sementara bagi individu, PML dikenakan biaya layanan sebesar Rp15.000 per penjemputan di wilayah Kota Malang.
“Untuk kafe, jadwalnya sudah tetap. Kalau individu, lebih fleksibel, tergantung kapan mereka siap setor sampah,” jelas Nina.
Namun, tidak semua jenis sampah dapat dijemput. iLitterless menetapkan kriteria dasar agar sampah dapat diproses lebih lanjut sampah harus terpilah, kering, bersih dari sisa makanan, dan tidak berbau. Jenis yang diterima meliputi plastik, kertas, kaleng, serta kemasan bekas minum seperti kotak susu. Sampah medis dan styrofoam belum dapat diterima karena keterbatasan mitra pengolahan.
Edukasi sebagai Inti, Bukan Pelengkap
Berbeda dengan layanan angkut sampah konvensional, layanan Pickup My Litter iLitterless menempatkan edukasi sebagai fondasi. Penjemputan tanpa pemahaman dinilai hanya akan memindahkan masalah.
“Kalau cuma jemput sampah tanpa edukasi, itu tidak akan berhasil. Orang harus paham kenapa sampahnya perlu dipilah,” kata Nina.
Pendekatan edukasi dilakukan secara bertahap dan kontekstual. iLitterless tidak menuntut pengguna langsung memilah banyak kategori.
“Kalau belum bisa banyak, mulai saja dari satu jenis dulu, misalnya botol plastik,” ujarnya.
Pendekatan ini dianggap lebih realistis, terutama bagi anak muda yang baru membangun kebiasaan memilah sampah.
Terhubung dengan Ekosistem Daur Ulang
Sampah yang dijemput melalui PML tidak berhenti di gudang iLitterless. Sampah tersebut disalurkan ke mitra pengolah yang mampu mendaur ulang sesuai jenis material. Untuk kemasan bekas minum, iLitterless terhubung dengan skema tanggung jawab produsen atau Extended Producer Responsibility (EPR), sehingga material memiliki peluang kembali ke rantai produksi.
Informasi mengenai mekanisme layanan PML dipublikasikan secara terbuka melalui laman resmi iLitterless
Transparansi ini penting untuk menjaga kepercayaan pengguna bahwa sampah yang sudah dipilah benar-benar diproses, bukan sekadar dipindahkan.
Tantangan Menjaga Konsistensi
Meski minat masyarakat cukup tinggi, tantangan terbesar PML adalah konsistensi. Nina mengakui, semangat memilah sampah kerap naik turun.
“Ada yang semangat di awal, setor sekali, tapi habis itu berhenti. Di situlah tantangannya,” ujarnya.
Karena itu, iLitterless memadukan layanan PML dengan pendekatan komunitas dan komunikasi berkelanjutan. Alih-alih menghakimi, mereka memilih pendekatan persuasif agar pengguna merasa didampingi.
Memilah sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Bagi iLitterless, Pickup My Litter bukan solusi instan untuk krisis sampah, melainkan alat transisi menuju gaya hidup yang lebih sadar. Layanan ini membantu individu merasakan bahwa memilah sampah bukan sesuatu yang rumit atau eksklusif.
“Harapan kami, orang bisa benar-benar merasakan bahwa memilah sampah itu mudah dan masuk akal,” kata Nina.
Dengan sistem penjemputan yang jelas dan edukasi yang konsisten, iLitterless mencoba menggeser persepsi bahwa pengelolaan sampah adalah urusan belakang rumah semata.
Di tengah persoalan sampah perkotaan yang kian kompleks, layanan Pickup My Litter iLitterless menawarkan pendekatan praktis menghubungkan kebiasaan kecil di rumah dengan sistem daur ulang yang lebih besar. Perubahan mungkin dimulai dari satu kantong sampah asal ada sistem yang siap menjemputnya.