Daun Kering Kembali ke Tanah: Cara GartenHaus Malang Menjaga Green Space Tetap Hidup

Kota Malang – GartenHaus dikenal sebagai ruang hijau di tengah kawasan perkotaan: rimbun, teduh, dan terasa seperti kebun pribadi. Namun di balik suasana “hutan kota” yang kerap dipuji pengunjung, ada praktik sederhana yang menjadi kunci perawatan greenspace di tempat ini limbah daun kering tidak dibuang, melainkan dikembalikan ke tanah sebagai pupuk alami.

Green Space Bukan Sekadar Dekorasi

GartenHaus di Kota Malang dikenal sebagai ruang hijau di tengah kawasan perkotaan: rimbun, teduh, dan terasa seperti kebun pribadi. Namun di balik suasana “hutan kota” yang kerap dipuji pengunjung, ada praktik sederhana yang menjadi kunci perawatan greenspace di tempat ini limbah daun kering tidak dibuang, melainkan dikembalikan ke tanah sebagai pupuk alami.

Kak Eno, karyawan GartenHaus yang sudah bekerja selama empat tahun, menjelaskan bahwa konsep hijau memang sudah melekat sejak awal. Nama GartenHaus sendiri berarti “rumah taman”, sejalan dengan niat menghadirkan suasana seperti kebun yang hidup dan terus dirawat, bukan sekadar dekorasi tanaman. Green space bagi GartenHaus bukan pelengkap estetika, melainkan “napas” ruang yang membuat café tetap nyaman meski didominasi area terbuka.

Limbah Daun Dijadikan Pupuk, Tanpa Pupuk Tambahan

Ketersediaan tanaman yang banyak tentu membawa konsekuensi: daun gugur, ranting kecil, dan sisa-sisa organik dari kebun menjadi bagian dari rutinitas harian. Alih-alih dipandang sebagai sampah, GartenHaus memperlakukan daun kering sebagai sumber nutrisi. 

Kebanyakan limbahnya dari daun. Kita kembalikan lagi ke tanahnya,” kata Eno. Ia menambahkan,  “Karena kita nggak pakai pupuk-pupuk tambahan. Dari tanaman ke tanaman lagi.”

Prinsip “kembali ke tanah” ini membuat siklus perawatan menjadi lebih alami. Daun-daun yang gugur dikumpulkan, lalu dimanfaatkan untuk menjaga kesuburan area tanam. Praktik ini juga selaras dengan karakter tanaman di GartenHaus yang beragam mulai dari tanaman hias seperti monstera, sirih-sirihan, hingga tanaman rindang yang membentuk kanopi alami. Perawatan hijau dilakukan tanpa mengejar hasil instan, melainkan konsisten dari hari ke hari.

Efeknya Terasa: Lebih Sejuk Tanpa Banyak Intervensi

Green space yang terawat memberi dampak langsung pada kenyamanan. Banyak pengunjung merasakan suhu lebih stabil dan tidak “menyengat” meski area café semi-outdoor. Kak Eno menyebut respons pengunjung sebagian besar positif. “Banyak banget. Pengunjung sering bilang suasananya adem, nyaman,” ujar Kak Eno. Rimbunnya tanaman membantu menahan panas, memberi ruang bernapas untuk aliran udara, dan menciptakan pengalaman berbeda dibanding café-café yang mengandalkan ruangan tertutup.

Perawatan Harian: Konsisten, Dibantu Tim Internal

Pemanfaatan daun sebagai pupuk bukan berarti tanpa tantangan. GartenHaus berada di pinggir jalan dan menerima banyak pengunjung setiap hari. Itu artinya, kebersihan area hijau harus dijaga agar tanaman tetap sehat dan tidak terganggu sampah lain. Kak Eno menuturkan bahwa perawatan dilakukan dengan mengandalkan tenaga internal. “Kita manfaatkan tenaga yang ada di kita… bagian cleaning,” kata Kak Eno. Daun yang jatuh di area kolam atau sekitar kursi tetap diambil dan dikelola agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.

Di sisi lain, keterlibatan owner juga cukup besar dalam menjaga kualitas greenspace.

Kak Eno menyebut banyak perawatan tanaman dilakukan langsung oleh owner, sementara staf membantu ketika dibutuhkan. “Lebih banyak owner sendiri yang merawat. Kalau beliau butuh bantuan, baru staf ikut bantu,” kata Eno.

Ini menunjukkan bahwa green space bukan sekadar konsep bisnis, melainkan kebiasaan yang dipelihara.

Pesan yang Ingin Ditunjukkan: Sederhana tapi Berdampak

Siklus daun-kembali-ke-tanah yang diterapkan GartenHaus memberi pesan penting: praktik ramah lingkungan tidak selalu harus berangkat dari teknologi tinggi. Di tengah tren eco-lifestyle yang sering identik dengan produk atau alat tertentu, GartenHaus menunjukkan contoh yang lebih membumi—memulai dari halaman sendiri, dari daun yang jatuh setiap hari, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna.

Pada akhirnya, hijau yang terlihat di GartenHaus bukan sekadar hasil penataan, tetapi hasil dari kebiasaan merawat. Daun gugur tidak dianggap mengotori, melainkan menghidupi. Dan ketika pengunjung duduk di bawah rimbun tanaman sambil merasa adem, mereka sedang menikmati hasil dari siklus alam yang dipertahankan: dari tanaman, kembali ke tanah, lalu tumbuh lagi.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.