Limbah Jadi Karya Lewat Kolaborasi Yustin dan Rate Model

Limbah plastik yang biasanya berakhir di TPA disulap Yustin menjadi tas berkarakter kuat. Produk ini menjadi bagian dari kolaborasinya dengan Rate Model dalam mengangkat fashion berbahan daur ulang.
Yustin menunjukkan salah satu tas berbahan limbah plastik yang telah diproses ulang di ruang kerjanya di Kelurahan Bandulan, Malang. Produk-produk seperti ini kelak dipakai dalam kolaborasinya bersama
Foto: Dok Pribadi/Natera

Natera.id — Naters tau nggak sih? Kolaborasi kreatif antara Yustin, CEO Yust Collection, dan agensi Rate Model Malang menghadirkan perspektif baru tentang fashion berbahan daur ulang. Kerja sama ini bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menunjukkan bahwa sampah dapat berubah menjadi kostum berkelas tanpa kehilangan nilai estetika.

Nama Yustin mulai dikenal di komunitas daur ulang Malang sejak 2017. Saat itu, ia mengembangkan kriya berbahan limbah non-logam, hingga akhirnya mendapatkan izin resmi pada 2019 dan mendirikan Yust Collection sebuah usaha kreatif yang memadukan batik tulis dengan material daur ulang.

“Awalnya aku bikin apa saja,” kenangnya. Mulai dari home decor, vas bunga, tas, hingga tempat pensil. Bahan bakunya beragam: kertas, kain perca, plastik, kardus, bungkus detergen, bahkan kaset CD tak terpakai. Dari perjalanan panjang itu, Yustin akhirnya memfokuskan diri pada tas. Ia menjahit perca, merajut kresek, menganyam kertas, dan menggabungkan batik tulis dengan material daur ulang menciptakan perpaduan nilai tradisi dan kreativitas lingkungan.

Dari Daur Ulang ke Dunia Mode

Kolaborasi Yustin dengan Rate Model dimulai dari permintaan sederhana: membuat kostum ulang tahun agensi dengan konsep daur ulang. Dari sana, kerja sama keduanya berkembang menjadi proyek tahunan.

Tahun pertama, ia membuat kostum berbahan koran. Tahun berikutnya, plastik menjadi material utama. Lalu tema “Power of Perca” memperlihatkan bagaimana potongan kain sisa dapat menjelma menjadi busana kuat dan penuh karakter.

Karya-karya Yustin kemudian digunakan Rate Model untuk fashion show, kompetisi, hingga pemotretan profesional. Banyak diantaranya langsung terjual setelah diperagakan. “Yang dari kertas koran itu cepat banget lakunya,” ujarnya.

Beberapa kostum bahkan pernah dibawa hingga Jakarta dan Bali, serta memenangkan penghargaan “The Best Costume” dalam ajang nasional. Ada pula sekolah-sekolah yang menyewa karyanya untuk lomba fashion dan akhirnya memutuskan membeli karena dinilai layak menjadi inventaris resmi.

Namun saat pandemi, produksi kostum melambat. Pada 2023, Yustin memutuskan berhenti memproduksi kostum daur ulang secara massal karena waktu, tenaga, dan ruang penyimpanannya terlalu besar. “Sekarang aku fokus tas saja. Lebih enak, lebih efisien,” katanya.

Pemberdayaan Warga dan Tantangan di Balik Limbah

Salah satu kekuatan Yust Collection adalah jaringan produksi yang melibatkan warga sekitar. Setiap bulan, Yustin mengadakan pelatihan gratis untuk ibu-ibu di lingkungan RW-nya. Dari situ, ia merekrut orang yang memiliki ketelitian dalam pekerjaan tertentu, seperti melinting kertas, merajut kresek, menggunting perca, atau membuat ornamen.

“Setiap orang punya keahliannya. Ada yang ahli kertas, ada yang ahli kresek, ada yang ahli botol,” tutur Yustin. Ia menekankan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal mengolah sampah, tetapi juga memberdayakan orang lain.

Bahan baku Yustin sebagian besar berasal dari warga. Mereka sudah paham bahwa sampah harus bersih dan kering sebelum disetor. Bahkan satu RW bisa menyediakan cukup limbah untuk produksi, pelatihan, dan workshop di berbagai kecamatan maupun instansi pemerintah.

Yustin juga terhubung dengan banyak komunitas lingkungan. Ia pernah menjadi instruktur di Bank Sampah Malang selama tiga tahun, serta sering diminta pemerintah kecamatan untuk mengisi workshop dan pameran UMKM. Dukungan pemerintah berupa mesin jahit kayu menjadi salah satu fasilitas penting dalam proses pembuatan tasnya.

Namun bekerja dengan limbah juga memiliki tantangan. Bagi Yustin, tantangan terbesar bukan pada rasa jijik, melainkan etika. Ia pernah mempelajari teknik pengolahan limbah popok, tetapi menolaknya karena pertimbangan agama dan kesehatan. Untuk material lain seperti plastik dan kain, semua harus dicuci, dikeringkan, dan dipilah sebelum diproses. Tidak semua orang bisa membayangkan bentuk akhir produk, sehingga Yustin sering memberi contoh berulang kali agar warga memahami prosesnya.

Di ruang produksinya, tersimpan berbagai tas, gantungan kunci, hingga souvenir pesanan ratusan unit. Satu tas membutuhkan waktu hingga tiga hari, mulai dari melinting, mengeringkan, mewarnai, hingga merangkai. Harganya beragam, dari Rp5.000 untuk souvenir kecil hingga kostum daur ulang yang dulu pernah mencapai dua juta rupiah.

Melalui Rate Model, karya-karya itu bukan hanya tampil, tetapi juga mendapatkan panggung dan penonton yang menghargai proses panjangnya. “Orang luar itu beli bukan hanya karena artistiknya, tapi keruwetan prosesnya,” ujarnya sambil tertawa.

Warisan Kreatif yang Terus Hidup

Yustin tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga mencetak generasi baru perajin lingkungan. Banyak mahasiswa magang yang pernah belajar di tempatnya kini menciptakan karya di berbagai daerah, dari Jawa hingga Kalimantan. “Seneng kalau mereka bisa. Bikin apa gitu, terus berhasil,” katanya.

Bagi Yustin, sampah bukan akhir tetapi awal. Lewat kolaborasinya dengan Rate Model, ia membuktikan bahwa kreativitas dapat mengangkat limbah ke panggung yang lebih tinggi, baik secara estetika maupun ekonomi.

Upaya yang dilakukan Yustin juga sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap persoalan limbah dan sisa konsumsi secara nasional. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat bahwa tingkat food loss and waste di Indonesia masih sangat tinggi, dengan estimasi mencapai ratusan kilogram per kapita per tahun. Data ini menunjukkan bahwa persoalan sampah, baik organik maupun anorganik, bukan hanya masalah lokal, melainkan tantangan nasional yang membutuhkan peran aktif masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas kreatif seperti yang dilakukan Yust Collection dan kolaborasinya bersama Rate Model.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.