
Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan
Malang – Halo Naters! Fenomena doom spending yakni pengeluaran konsumtif yang dipicu oleh rasa cemas, ketidakpastian atau trauma finansial kini semakin mendapat sorotan, tidak hanya di kalangan umum, tetapi juga di antara mahasiswa dan generasi muda. Ketika masa depan terasa suram atau kurang pasti, beberapa mahasiswa memilih “membelanjakan sekarang” daripada menabung atau merencanakan ke depan.
Alih-alih menabung atau berinvestasi, banyak dari mereka memilih untuk menikmati momen sekarang dengan membeli barang-barang yang memberi rasa senang sesaat mulai dari outfit baru, nongkrong di kafe, hingga tiket konser favorit. Fenomena ini menggambarkan paradoks generasi muda masa kini, mereka sadar pentingnya pengelolaan keuangan, namun di sisi lain sulit menahan dorongan untuk mencari kenyamanan di tengah ketidakpastian hidup.
Belanja Sebagai Pelarian dari Ketidakpastian
Di Indonesia, perilaku konsumtif mahasiswa meningkat seiring maraknya penggunaan dompet digital, layanan PayLater, dan promosi belanja online. Media sosial pun memperkuat tekanan sosial dengan menonjolkan gaya hidup glamor, kemewahan, dan kebahagiaan instan.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi PayLater di Indonesia tumbuh signifikan dalam dua tahun terakhir. Kenaikan ini menunjukkan tingginya minat konsumen muda terhadap fasilitas kredit digital yang menawarkan kemudahan transaksi cepat tanpa perencanaan matang.
Tren ini juga terlihat dalam perilaku mahasiswa yang kerap menghabiskan pengeluaran untuk kuliner, nongkrong di kafe, menonton konser, traveling, hingga membeli fesyen streetwear dan gawai terbaru.
Gen Z Paling Rentan terhadap Doom Spending
Menurut Intuit Prosperity Index Study pada Januari 2023, alih-alih memangkas pengeluaran, 73% Gen Z justru mengatakan mereka lebih suka hidup di masa sekarang. Inilah yang membuat doom spending gen Z menjadi topik perhatian saat ini.
Sementara secara global, survei dari McKinsey & Company (2024) mengungkapkan bahwa lebih dari 60% generasi Z dan milenial di dunia mengaku tetap berbelanja meskipun sedang menghadapi kekhawatiran ekonomi. Fenomena serupa juga terlihat di Indonesia, di mana menurut data Katadata Insight Center (2023), penggunaan layanan PayLater di kalangan mahasiswa meningkat hingga 38% dalam dua tahun terakhir.
Tekanan Psikologis dan Gaya Hidup Digital
Menurut sejumlah pengamat ekonomi perilaku, doom spending tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga tekanan emosional. Banyak mahasiswa menjadikan aktivitas belanja sebagai bentuk pelarian dari stres akademik, kecemasan karier, dan rasa takut menghadapi masa depan.
Di sisi lain, media sosial seperti TikTok dan Instagram menjadi pendorong utama munculnya perilaku konsumtif melalui fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Konten haul, unboxing, hingga ulasan produk viral menciptakan dorongan psikologis untuk membeli sesuatu hanya demi mengikuti tren, bukan karena kebutuhan.
Menikmati Hidup Tanpa Harus Boros
Meski tekanan sosial dan ekonomi bisa memicu doom spending, mahasiswa tetap bisa menikmati hidup dengan cara yang lebih sadar. Membatasi paparan iklan, membuat daftar prioritas pengeluaran, dan menunda keputusan pembelian besar selama 24 jam adalah langkah sederhana yang dapat menekan dorongan konsumtif.
Pada akhirnya, keseimbangan antara kebutuhan emosional dan stabilitas finansial adalah kunci utama. Hidup hemat bukan berarti hidup membosankan justru menjadi bentuk kontrol diri dan kesiapan menghadapi masa depan yang lebih pasti.