Menanam Kesadaran dari Halaman Buku

Edukasi lingkungan melalui buku anak dapat membentuk kebiasaan sejak kecil.
Foto: DK Wardani

Malang – Halo Naters! Di tengah meningkatnya krisis lingkungan, berbagai upaya edukasi terus dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Namun, satu pertanyaan mendasar kerap muncul: dari mana perubahan itu seharusnya dimulai?

Bagi seorang penggerak edukasi lingkungan, jawabannya bukan dari kebijakan besar atau teknologi canggih, melainkan dari sesuatu yang sederhana yaitu buku cerita anak.

Sejak 2010, ia mulai menggunakan buku sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai lingkungan. Langkah ini tidak lahir dari perencanaan besar, melainkan dari kesadaran bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas.

“Sejak tahun 2010 ketika saya mulai menulis buku, saya berusaha memasukkan isu lingkungan ke dalam buku-buku saya,” ujarnya.

Buku-buku tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya edukasi yang lebih luas, sekaligus menjadi fondasi lahirnya sebuah gerakan yang dikenal sebagai SAC (Sahabat Alam Cilik), sebuah inisiatif yang mendorong literasi lingkungan sejak usia dini.

Buku sebagai Awal Perubahan

Penggunaan buku cerita anak sebagai media edukasi lingkungan berangkat dari kegelisahan melihat rendahnya environmental literacy di masyarakat. Banyak orang memahami isu lingkungan secara teori, tetapi tidak menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan formal seperti pendidikan di sekolah. Dibutuhkan cara lain yang lebih dekat dengan kehidupan anak sejak dini.

Melalui buku cerita, ia mencoba menyisipkan nilai-nilai sederhana tentang hubungan manusia dengan alam.

“Kalaupun tidak secara langsung tentang isu lingkungan, saya ingin anak-anak memahami bahwa bumi ini adalah amanah. Kita diberi keberlimpahan, tapi juga punya tanggung jawab,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan secara naratif, bukan menggurui. Anak-anak diajak mengenal konsep lingkungan melalui cerita yang dekat dengan keseharian mereka.

Salah satu karya yang ditulisnya adalah seri buku “Dunia Kita”, yang mengangkat berbagai tema dasar tentang lingkungan, termasuk air sebagai sumber kehidupan.

Dalam salah satu bagian, ia menjelaskan fakta sederhana namun penting yaitu bahwa sebagian besar air di bumi sebenarnya tidak dapat digunakan manusia.

“Hanya 3 persen air di bumi yang bisa dimanfaatkan, dan dari itu hanya sekitar 1 persen yang layak minum, yang diperebutkan oleh miliaran manusia,” ujarnya.

Fakta ini dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami anak, sehingga mereka tidak hanya membaca cerita, tetapi juga mulai memahami keterbatasan sumber daya alam.

Dari Buku ke Gerakan Edukasi

Seiring waktu, buku-buku tersebut tidak hanya menjadi karya literasi, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari gerakan edukasi yang lebih luas melalui program SAC.

Program ini menjadikan buku sebagai salah satu media utama untuk membangun kesadaran lingkungan, terutama pada anak-anak dan keluarga.

Menurutnya, pendekatan ini penting karena perubahan perilaku tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan formal.

“Environmental literacy itu harus dibangun dari bawah. Tidak bisa hanya mengandalkan sekolah,” ujarnya.

Melalui buku, nilai-nilai lingkungan dapat masuk ke ruang yang lebih personal rumah. Anak-anak membaca bersama orang tua, berdiskusi, dan perlahan membentuk pemahaman yang lebih utuh tentang lingkungan.

Pendekatan ini juga menjadi cara untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik yang selama ini sering terjadi.

Ia menilai banyak orang mengalami apa yang disebut sebagai “dualisme” ketika seseorang memahami sesuatu secara teori, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Di sekolah dia pintar jawab, tapi di masyarakat dia melakukan sebaliknya. Itu yang ingin saya hindari,” katanya.

hindari,” katanya.

Melalui buku cerita, ia berharap nilai-nilai yang dipelajari anak tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari karakter mereka.

Menghindari Dualisme

Bagi penggagas inisiatif ini, tantangan terbesar dalam edukasi lingkungan adalah memastikan bahwa pengetahuan benar-benar menjadi perilaku.

Ia melihat banyak anak bahkan orang dewasa yang mampu menjelaskan konsep lingkungan dengan baik, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini, menurutnya, adalah bentuk dualisme yang harus dihindari sejak dini.

Melalui buku cerita, ia berupaya membangun karakter yang konsisten di mana apa yang dipahami anak di sekolah juga tercermin dalam perilakunya di rumah dan di masyarakat.

Pendekatan ini menjadi penting karena kebiasaan tidak terbentuk dalam satu ruang saja. Anak perlu mendapatkan nilai yang sama di berbagai lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah.

Buku menjadi salah satu media yang mampu menjembatani kedua ruang tersebut.

Cerita yang dibaca di rumah dapat memperkuat apa yang dipelajari di sekolah, sekaligus menanamkan nilai yang lebih personal dan emosional.

Dalam jangka panjang, ia berharap pendekatan ini dapat melahirkan generasi yang tidak hanya paham tentang lingkungan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaganya.

Sebab pada akhirnya, perubahan besar sering kali dimulai dari hal sederhana seperti satu cerita yang dibaca sejak kecil, yang perlahan membentuk cara pandang dan karakter seseorang terhadap dunia di sekitarnya.


Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.