
Foto: Dokumentasi area duduk Retrorika yang memanfaatkan barang bekas sebagai elemen desain.
Kota Batu – Di sebuah sudut hijau Kota Batu, berdiri sebuah kafe yang tampak biasa dari luar, namun menyimpan filosofi yang jarang ditemui di bisnis kuliner hari ini. Retrorika Coffe Bar & Resto Kota Batu bukan hanya tempat untuk makan dan hangout: ia adalah ruang yang mengubah cara kita melihat sampah. Bagi pemiliknya, Bu Ismi dan suaminya, barang bekas bukanlah barang antik melainkan bahan baku, ide, kreativitas dan keberlanjutan.
Konsep itu tidak datang hanya semalam. Tahun 2018, mereka justru memulai perjalanan dari hal yang sangat berbeda; sebuah cafe bertema kaktus. Namun tidak cukup disitu saja, mereka memutar ide untuk mencentuskan sebuah konsep baru yang lebih berani. Menjadikan barang bekas sebagai identitas visual kafe. Bukan antik, bukan nostalgia, Tetapi desain yang hidup kembali.
Dari Tumpukan Sampah ke Identitas Desain
Banyak orang mengira dekorasi Retrorika adalah barang antik yang diburu dari pasar loak. Padahal tidak. Bu Ismi menegaskan; antik itu punya nilai histori. Barang bekas? Ia punya kemungkinan.
Dengan sudut pandang itulah, setiap benda di Retrorika bukan dipilih untuk terlihat vintage, tapi untuk bercerita ulang melalui desain. Sang suami yang berprofesi sebagai desainer grafislah yang mengelola barang-barang bekas itu menjadi elemen artistik yang mempertemukan antara estetik dan keberlanjutan.
Mulai dari kursi kayu, meja dari bekas pintu yang disusun ulang, rak dari potongan industrial hingga pajangan dinding estetik mulai dari dvd lawas, logam, mesin ketik, rantang bekas yang dijadikan pot tanaman dan elemen lainnya semua dirangkai untuk memberi satu pesan: sampah masih punya potensi.
Sustainable Bukan Tren, Tapi Standar Kerja
Retrorika tidak berhenti pada dekor. Mereka memilih jalur yang lebih menantang: menjalankan bisnis dengan prinsip 5R: Refuse, Reduce, Reuse, Recyle, Repair.
Sebagian besar sampah anorganik di Retrorika mereka ambil dari Mojokerto, lalu diolah ulang menjadi bagian desain interior. Sampah yang memang tidak dapat diproses, sekitar 15% saja, dan disetor ke DLH Kota Batu.
“Mindset-nya penggunaan barang bijak” begitu Ismi selaku owner menggambarkannya.
Di dapur Retrorika, sistem pengelolaan sampahnya juga sudah terbagi perkategori. Di pilah ke dalam tiga kategori.
- Sisa makanan, untuk pakan ternak seperti sapi dan ayam
- Daun & sisa tanaman, diolah menjadi kompos untuk usaha tanaman mereka, Retro Plant.
Bahkan tisu toilet pun dipilih dari material bambu. Takeaway? Tidak memakai plastik lagi. Mereka menyediakan tumbler kaca (Rp8.000) dan besek bambu (Rp2.500), karena bambu mudah terurai.
Dari Kaktus ke Komunitas Kreatif
Retrorika bukan hanya tempat makan, tapi juga sebagai tempat belajar. Program rutin mereka, SASISU (Sabtu Siang Seru), menjadi ruang diskusi, workshop, bahkan pelatihan kecil. Tidak muluk-muluk. Temannya selalu dekat dengan keseharian: meramu dan menyulam, eco print, motivation letter dan diskusi soal pola konsumsi.
Merubah pandangan customer juga bukan hal mudah. Di awal pembukaan, banyak pengunjung menganggap konsep mereka “unik tidak seperti cafe pada umumnya”. Namun konsisten menciptakan kebiasaan. Kini, Retrorika dikenal sebagai kafe yang bukan hanya nyaman, tapi punya karakter kuat dan unik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Bahkan mereka tidak berniat membuka cabang. Identitas mereka itu ingin tetap ditemukan hanya di Kota Batu.

Barang Bekas Tidak Butuh Romantisasi, Tapi Kesempatan
Di dunia desain, barang antik sering mendapat posisi istimewa. Ada nilai sejarah, nilai nostalgia, bahkan nilai ekonomi. Tapi Retrorika memiliki nilai unik sendiri: barang bekas justru dianggap punya ruang kreasi yang lebih bebas.
Konsep “barang bekas bukan barang antik” menjadi pondasi desain mereka. Bukan romantisasi masa lalu, tetapi gagasan bahwa sampah yang kita hasilkan hari ini bisa kembali hidup besok. Dengan bentuk baru, fungsi baru, dan makna baru.
Di tengah geliat bisnis kuliner. Indonesia menghasilkan sampah organik hingga 57% menurut KLHK (2024). Retrorika sendiri menerapkan sistem foodprint. Berdasarkan penjelasan dari situs Foodprint by Nutritics, foodprint adalah alat yang menghitung jejak karbon dan jejak air di setiap menu, sehingga bisnis dapat mengetahui seberapa besar dampak lingkungan dari makanan yang mereka sajikan. Dengan upaya ini Retrorika ingin memastikan jejak konsumsi mereka bisa dipertanggungjawabkan.
Dari Mojokerto, Muncul cerita baru di Retrorika
Retrorika menjadikan Mojokerto sebagai salah satu sumber material bekasnya, keputusan yang diambil dengan pertimbangan dan kebutuhan pengolahan uang di kafe tersebut. Sebagai kota dengan timbulan sampah harian cukup tinggi dan upaya pengelolaan yang teru berkembang. Nah dari situ, Ret rorika menjadikan Mojokerto salah satu kota yang dipilih untuk mengubah limbah menjadi elemen desain baru. Mulai dari rak, dekor gantungan, interior di sekeliling cafe, hingga furnitur kecil.
Retrorika Coffe Bar & Resto menunjukkan bagaimana desain bisa menjadi bahasa perubahan. Barang bekas di tangan mereka bukan sekedar benda yang lolos dari tempat pemilahan sampah, melainkan simbol pilihan: pilihan untuk memperbaiki, mengurangi, dan menciptakan ruang yang lebih bertanggung jawab. Retrorika berdiri memberi sudut pandang baru: barang bekas tidak membutuhkan romantisasi, hanya kesempatan untuk digunakan kembali.