
Foto: Dok Pribadi/Natera
Kota Batu – Halo Naters! Di banyak kafe dan rumah makan, sisa makanan sering kali berakhir di tempat sampah. Nasi yang tak habis, lauk tersisa, hingga olahan tepung bercampur tanpa pemilahan. Padahal, limbah organik ini masih menyimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat.
Di Cafe Retrorika, Kota Batu, sisa makanan justru diposisikan sebagai bagian dari sistem berkelanjutan. Limbah organik dari dapur kafe tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi pakan ternak unggas dan ayam kampung. Ismi, owner Cafe Retrorika, menyebut langkah ini sebagai upaya mengurangi sampah sekaligus menutup siklus pangan.
Pemilahan Limbah dari Dapur
Pengelolaan limbah organik di Cafe Retrorika dimulai sejak dari dapur. Tidak semua sisa diperlakukan sama. Limbah organik dipilah berdasarkan jenisnya agar bisa dimanfaatkan secara optimal.
Sisa makanan manusia seperti nasi, lauk pauk, dan makanan olahan dipisahkan khusus untuk pakan ternak. Sementara limbah dapur lainnya kulit buah, daun sayur, serta sisa bumbu diolah melalui proses dekomposer untuk dijadikan kompos.
“Kalau sisa makanan manusia itu untuk pakan ternak. Tapi kalau kulit buah dan sisa sayur, kami olah jadi kompos,” ujar Ismi.
Pemilahan ini menjadi kunci utama. Tanpa proses ini, limbah berisiko tercampur dan kehilangan nilai gunanya. Dengan sistem pemisahan yang konsisten, hampir seluruh limbah organik dari aktivitas kafe dapat dimanfaatkan kembali.
Dari Limbah Makanan ke Protein Unggas
Sisa makanan yang telah dipilah tidak langsung diberikan kepada ternak. Limbah tersebut dikumpulkan dan dibiarkan membusuk selama beberapa hari. Proses ini bertujuan untuk memunculkan belatung, yang justru menjadi sumber protein alami bagi unggas dan ayam kampung.
Belatung dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan mudah dicerna oleh ternak. Fase pembusukan ini menjadi bagian penting dari pengolahan limbah.
“Sisa makanan itu tidak langsung dikasihkan. Biasanya kami biarkan sekitar tiga hari sampai ada belatungnya, karena itu protein yang bagus untuk unggas,” kata Ismi.
Dengan cara ini, volume sampah organik berkurang signifikan, sekaligus menekan ketergantungan peternak pada pakan pabrikan yang harganya terus meningkat.
Kerja Sama dengan Peternak Lokal
Cafe Retrorika tidak menjalankan peternakan sendiri. Solusi ini dijalankan melalui kerja sama dengan peternak lokal. Limbah organik dari kafe dibawa ke lokasi peternakan untuk diproses dan dimanfaatkan sebagai pakan ayam kampung dan unggas.
Jenis ternak yang digunakan menyesuaikan kebutuhan dan ketersediaan. Jika hasil peternakan tersedia, bahan pangan dapat kembali masuk ke sistem. Jika tidak, kebutuhan tetap dipenuhi dari pasar tradisional.
“Kami memang kerja sama dengan peternak. Limbah dari sini dibawa ke sana, lalu ternaknya dikelola di sana,” ujar Ismi.
Model ini menciptakan hubungan saling menguntungkan. Kafe mengurangi sampah organik, sementara peternak memperoleh sumber pakan tambahan yang bernutrisi.
Menutup Siklus Pangan dari Kafe
Pengolahan limbah organik menjadi pakan ternak memberikan dampak ganda. Di satu sisi, jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir berkurang. Di sisi lain, sistem ini membantu menekan emisi dari pembusukan sampah makanan yang biasanya menghasilkan gas metana.
Inisiatif Cafe Retrorika menunjukkan bahwa pengelolaan limbah organik tidak harus rumit atau berskala besar. Dari dapur kafe, sisa makanan bisa kembali menjadi bagian dari rantai pangan melalui peternakan unggas.
Apa yang tersisa di piring hari ini, dalam beberapa hari bisa menjadi energi bagi ayam kampung. Bukan dibuang, tapi diputar kembali menjadi bagian dari sistem pangan yang lebih berkelanjutan.