
Foto : Dok Pribadi/Natera
Kota Malang—Tak banyak orang yang melihat daun gugur sebagai sesuatu yang layak disimpan. Namun bagi Cecilia Putri Wardani, atau yang akrab dipanggil Dani, daun adalah narasi. Tekstur, warna, guratan, hingga bentuk kecil pada permukaannya adalah bahasa visual yang bisa menghidupkan kain. Dari pola pikir itulah lahir produk miliknya Thrilogic.
Kecintaan Dani pada tanaman bukan datang tiba-tiba. Sejak duduk di bangku SMA ia gemar merawat tumbuhan atau daun-daun liar menurutnya cantik yang tumbuh di sekitar rumah. Bunga dan daun daun itu menurutnya itu seperti memori. Setiap bentuknya sebenarnya banyak makana ketika dijadikan sebuah cerita. Dari kegemaran itu, ia mulai bereksperimen dengan eco print pada 2019. Yang awalnya sekadar hobi, berubah menjadi perjalanan kreatif yang mempertemukannya dengan banyak cerita, banyak tanaman, dan banyak mimpi.
Motif Bercerita
Saat banyak pelaku usaha tekstil berlomba lomba menghadirkan motif modern dengan mesin cetak, Dani mengambil arah sebaliknya. Ia justru kembali pada alam. Ia memaksa dirinya untuk pelan mengikuti ritme daun jatuh dan warna alami yang tidak pernah benar-benar bisa ia prediksi. Dari situlah Thrilogic lahir sebagai usaha yang eco-friendly, berprinsip keberlanjutan, dan mengutamakan cerita dalam setiap motifnya.
Bagi Dani, daun bukan sekadar bahan baku, tapi daun itu bahasa. Setiap bentuk, tulang daun, dan warna yang berbeda menyimpan cerita yang bisa dibaca jika diberi ruang oleh imajinasi. Dari situlah ia memandang eco print yang ia produksi bukan hanya sebagai teknik memindahkan motif daun ke kain, melainkan proses memahami motif alam, lalu merangkumnya menjadi karya seni yang hidup dengan penuh makna.
Prinsip itu ia pegang teguh sejak awal membangun Thrilogic. “Motif harus punya cerita, makanya saya nggak pernah potong motif,” tegas Dani kepada NATERA.
Baginya, memotong motif sama saja memutus cerita yang sudah disusun alam. Karena itu, setiap produk Trilogic dibiarkan utuh, mengikuti alur bentuk daun apa adanya. Hasilnya, setiap karya memiliki monolog yang berbeda. Mulai dari kemeja, dress, hingga bucket hat, semuanya membawa narasi masing-masing menggambarkan tenang, liar, lembut, atau kuat, tergantung daun yang menempel di atas kain. Dan karena tak pernah ada dua daun yang benar-benar sama, Dani percaya di situlah letak keistimewaan eco print Trilogic: setiap produk hadir sebagai satu karya unik, tak bisa disalin, dan tak akan pernah terulang

Foto : Dok Pribadi/Natera
Salah satu motif andalan Dani adalah daun kopi. Bukan semata mata karena bentuknya yang simetris atau warnanya yang kuat saat tercetak di kain, tetapi karena narasi yang ia bangun di balik setiap motifnya. Bagi Dani, daun kopi menyimpan jejak perjalanan panjang sebuah tanaman yang tumbuh di perbukitan, berhadapan dengan angin dingin, hujan, dan waktu, hingga akhirnya menjadi bagian dari budaya kopi yang lekat dengan keseharian banyak orang. Ia merangkai motif-motif itu layaknya potongan monolog cerita pendek lahir dari alam, lalu hidup kembali di atas kain yang menceritakan alam.
Bentuk Jadi Ide
Menariknya, daun-daun untuk eco print itu tak selalu ia cari jauh-jauh. Sebagian besar justru datang dari sekitar rumah. Tetangga yang sudah paham kegiatannya kerap ikut mengumpulkan daun untuk Dani. Pagi hari, kantong-kantong berisi daun kopi, daun jambu, hingga dedaunan liar sering tergantung di pagar rumahnya hadiah kecil yang diam-diam ikut membentuk cerita di setiap karya. Dari halaman rumah dan kepedulian orang-orang sekitar, eco print Dani tumbuh sebagai karya yang bukan hanya personal, tapi juga mencakup hal luas.
Namun Dani tak selalu puas dengan apa yang sudah ia temukan. Bersama suaminya, ia kerap mencari ide dan inspirasi baru dari daun-daun lain yang belum pernah ia olah sebelumnya. Mereka berkeliling, menyusuri Malang Kabupaten, Malang Kota, hingga Kota Batu bukan untuk sekadar berjalan-jalan, tapi membaca setiap bentuk, mengamati tanaman, dan membayangkan motif apa yang bisa lahir dari daun-daun yang mereka temui di sepanjang perjalanan.
Prinsip Thrilogic
Tak berhenti pada proses pencetakan kain. Dani memegang satu prinsip yang ia pegang sejak awal berdiri Thrilogic yaitu tak ada residu sampah dari karya yang ia hasilkan. Daun-daun sisa atau bekas proses eco print tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi pupuk kompos. Kompos itu kemudian kembali ke tanah, menyuburkan tanaman di sekitar rumahnya, tanaman yang kelak akan ia petik daunnya untuk motif baru. Sebuah siklus kecil yang berulang: dari daun, menjadi karya dari sisa, kembali ke tanah lalu tumbuh lagi menjadi cerita berikutnya.
Motif-motif itu akhirnya tidak hanya hidup di kain, tetapi juga hidup di panggung. Produk Trilogic pernah melenggang di Melbourne Fashion Week salah satu parade fashion internasional yang menampilkan karya kreatif dari berbagai negara. Tidak hanya itu, motif daun kopi yang ia hasilkan juga menarik perhatian sebuah coffee shop di Portugal, membuka ruang kolaborasi antara seni, lingkungan, dan budaya kopi.
Perjalanan Dani tidak hanya soal kain bermotif atau hasil visual yang menarik. Lebih dari itu, ia sedang membangun bahasa baru di industri mode lokal bahasa motif yang memiliki makna. Di tengah gempuran fast fashion, ia menghadirkan sesuatu yang berbeda sebuah proses kreatif yang memperlambat kita dan mengajak melihat kembali hubungan manusia dengan alam.