
Foto: Dok Pribadi/ Natera
Malang – Sebuah kafe berbasis lanskap bernama Khace di Malang memanfaatkan lahan hijau luas sebagai multifunction lawn, yakni ruang terbuka yang tidak hanya digunakan untuk bersantai dan aktivitas komunitas, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas tanah melalui pemilihan vegetasi tertentu sejak mulai dibangun pada Mei 2025. Digagas oleh Judha Widitha bersama komunitas arsitek lanskap, area ini dirancang sebagai bagian dari ekosistem ruang hidup yang menggabungkan fungsi sosial dan ekologis dalam satu kesatuan.
Di Khace, rumput bukan sekadar pelapis tanah. Ia menjadi elemen utama yang “bekerja” di balik kenyamanan ruang. Hamparan hijau yang tampak sederhana itu justru menjadi titik temu antara desain, aktivitas, dan keberlanjutan.
Judha menjelaskan bahwa area lawn sejak awal memang dirancang sebagai ruang multifungsi. Tidak hanya untuk duduk santai, tetapi juga untuk berbagai kegiatan komunitas, mulai dari diskusi, workshop, hingga pertunjukan seni.
“Lapangan rumput itu memang kami siapkan untuk berbagai macam kegiatan. Bahkan kalau ada mini konser atau pertunjukan, itu bisa dilakukan di sana,” ujarnya dalam wawancara bersama tim Natera.
Pendekatan ini berangkat dari prinsip dasar yang mereka pegang dalam merancang ruang, ruang harus hidup. Jika tidak digunakan, ia akan menjadi “ruang mati” sebuah istilah yang berulang kali muncul dalam catatan lapangan tim Natera.
Rumput Bahia , Kecil Tapi Krusial
Yang membuat lawn di Khace berbeda bukan hanya pada luasnya, tetapi pada jenis rumput yang digunakan. Alih-alih memilih rumput dekoratif, Khace menggunakan rumput bahia (Paspalum notatum) jenis rumput yang dikenal tahan terhadap kondisi minim air dan memiliki akar kuat.
Dalam transkrip wawancara, Judha menyebut bahwa rumput ini dipilih karena multifungsi. Selain sebagai penutup tanah, rumput bahia juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan berperan sebagai penahan lereng.
“Rumput ini biasanya digunakan untuk area yang kurang air. Selain itu juga bisa jadi pakan ternak dan berfungsi sebagai penahan tanah supaya tidak longsor,” jelasnya.
Artinya, di balik fungsi sosialnya, lawn Khace juga menjalankan fungsi ekologis yang tidak kasat mata. Akar rumput bekerja mengikat tanah, menjaga struktur lahan tetap stabil, sekaligus mengurangi risiko erosi , hal yang sering luput dari perhatian dalam desain ruang komersial.
Secara ilmiah, fungsi ini sejalan dengan temuan Food and Agriculture Organization yang menyebut bahwa vegetasi penutup tanah seperti rumput berperan penting dalam mengurangi erosi dan menjaga kualitas tanah, terutama di area terbuka.
Ruang Santai yang Tetap “Bekerja”
Di permukaan, lawn Khace tetap terasa seperti ruang santai tempat pengunjung duduk, berbincang, atau sekadar menikmati udara terbuka tanpa pendingin buatan. Namun, di balik itu, ruang tersebut tetap menjalankan perannya sebagai bagian dari sistem lanskap yang lebih besar.
Konsep ini mencerminkan cara pandang arsitektur lanskap yang tidak memisahkan fungsi dan estetika. Setiap elemen dirancang untuk memiliki nilai guna, bahkan ketika terlihat sederhana.
Dalam praktiknya, lawn menjadi salah satu ruang paling fleksibel di Khace. Area ini bisa menampung berbagai aktivitas dalam skala berbeda, dari pertemuan kecil hingga acara komunitas dengan puluhan orang.
Catatan wawancara juga menunjukkan bahwa Khace secara sadar membuka ruang ini untuk kolaborasi lintas komunitas. Aktivitas seperti pameran seni, pertunjukan, hingga rencana agenda seperti “flower picnic” menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang.
Terhubung dengan Sistem yang Lebih Luas
Fungsi lawn tidak berhenti pada stabilitas tanah. Rumput yang tumbuh di area tersebut juga menjadi bagian dari sistem yang lebih luas, terutama dalam konsep circular economy yang sedang dibangun di Khace.
Dalam catatan lapangan, disebutkan bahwa rumput dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak di area “umbara” sebuah ruang peternakan kecil yang menjadi bagian dari ekosistem Khace.
Siklus ini memperlihatkan bagaimana satu elemen lanskap dapat memiliki banyak fungsi sekaligus. Rumput tidak hanya menjaga tanah, tetapi juga mendukung sistem produksi pangan skala kecil.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip yang didorong oleh United Nations Environment Programme terkait ekonomi sirkular, di mana sumber daya digunakan secara berulang dan limbah diminimalkan dalam satu sistem yang terintegrasi.
Tantangan dan Proses Bertumbuh

Foto: Dok Pribadi/ Natera
Meski konsepnya terlihat matang, Khace masih berada dalam tahap pengembangan. Banyak elemen, termasuk lanskap dan vegetasi, masih dalam proses adaptasi.
Judha secara terbuka mengakui bahwa membangun ekosistem seperti ini bukan hal mudah. Selain faktor teknis, tantangan juga datang dari upaya menjaga konsistensi visi jangka panjang.
“Yang paling berat itu bagaimana visi ini bisa terus berjalan dan sustain,” ujarnya.
Namun, alih-alih menutupi proses tersebut, Khace justru menjadikannya bagian dari pengalaman. Ruang ini sengaja tidak dibuat instan, tetapi dibiarkan berkembang seiring waktu.
Lebih dari Sekadar Nongkrong
Bagi banyak pengunjung, lawn Khace mungkin terlihat seperti tempat nyaman untuk duduk dan menikmati waktu. Namun, di balik itu, ada narasi yang lebih dalam tentang bagaimana ruang bisa dirancang secara sadar.
Multifunction lawn di Khace menunjukkan bahwa ruang hijau tidak harus pasif. Ia bisa menjadi aktif, produktif, dan berkontribusi langsung terhadap lingkungan.
Di tengah kota yang semakin padat dan minim ruang terbuka, pendekatan seperti ini menawarkan perspektif baru bahwa desain tidak hanya soal bentuk, tetapi juga fungsi dan dampaknya.
Dan mungkin, dari sesuatu yang sederhana seperti rumput, kita bisa belajar bahwa ruang yang baik bukan hanya yang terlihat indah, tetapi yang mampu bekerja, tumbuh, dan menjaga kehidupan di sekitarnya.