Museum Singhasari Tawarkan Pengalaman Membuat Topeng dari Limbah untuk Wisatawan

Kabupaten Malang – Museum Singhasari menghadirkan program edukasi membuat topeng Malangan dari limbah kertas bagi wisatawan dan pelajar. Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi sampah sekaligus memperkenalkan budaya topeng kepada pengunjung.

Di salah satu sudut Museum Singhasari, aroma cat yang lembut bercampur dengan riuh tawa anak-anak sekolah yang sibuk mewarnai topeng-topeng kecil. Di meja panjang itu, puluhan bentuk wajah Panji tokoh sentral dalam seni topeng Malangan mulai menemukan warnanya masing-masing. Pagi itu, museum tampak lebih hidup dari biasanya. Tak hanya jadi ruang sunyi bagi artefak, Museum Singhasari menjelma menjadi ruang belajar interaktif yang menghadirkan program edukasi untuk membuka kesempatan bagi pengunjung untuk menyentuh langsung proses kreatif budaya Jawa Timur.

Program tersebut dikenal dengan nama “Belajar Bersama”, sebuah inisiatif museum untuk menjadikan proses belajar sejarah dan budaya lebih dekat, lebih menyenangkan, dan lebih relevan dengan isu lingkungan hari ini. Tidak sekadar mengamati koleksi, pengunjung diajak membuat sendiri topeng berbahan bubur kertas yang ternyata berasal dari limbah kantor, termasuk dari dinas yang menaungi museum.

“Biasanya kantor-kantor bingung mau buang kertas ke mana. Di sini, kami manfaatkan kembali dan jadikan bahan dasar topeng,” ujar Pak Erwin.

pengelola program edukasi museum. Menurutnya, setiap minggu museum menerima 3 hingga 4 dus limbah kertas untuk diolah. Kertas-kertas yang awalnya hanya menumpuk di pojok ruangan kantor itu kini berubah menjadi media ekspresi seni sekaligus alat penyampai sejarah.

Prosesnya pun memiliki nilai edukatif tersendiri. Dilansir dari SURYA.CO.ID cara membuat topeng berbahan dasar bubur kertas adalah dengan merendam kertas yang tidak terpakai, dihancurkan menjadi bubur kertas, lalu dicampur dengan tepung, lem, hingga kalsium untuk menghasilkan adonan yang lebih kuat. Setelah itu, adonan dicetak menggunakan mould silikon yang meniru bentuk topeng asli Malangan. Cetakan ini bisa digunakan ratusan kali, memastikan proses produksi tetap efisien dan minim limbah baru.

“Kami tetap mengacu pada bentuk topeng panji dan topeng malangan asli. Maknanya tetap sama, hanya bahannya saja yang berbeda,” terang Pak Erwin.

Program ini tidak hanya menarik minat sekolah-sekolah, tetapi juga wisatawan keluarga. Tak jarang ada pengunjung yang datang hanya berdua atau bahkan sendirian, lalu ikut duduk mewarnai topeng sambil menikmati suasana tenang museum. Aktivitas tersebut terbuka untuk siapa pun, tanpa syarat jumlah peserta.

Dengan tarif edukasi sekitar Rp20.000, pengunjung sudah mendapatkan satu topeng, cat, panduan singkat, serta boleh membawa pulang hasil karyanya. Aktivitas yang sederhana ini ternyata memberikan dampak besar: selain menekan volume sampah kertas, museum berhasil menumbuhkan kesadaran bahwa limbah bisa menjadi karya seni bernilai.

Museum Singhasari sendiri memiliki koleksi yang sarat sejarah, mulai dari artefak kerajaan Singhasari hingga replika tokoh-tokoh penting masa Jawa Kuno. Namun bagi sebagian pengunjung, pengalaman langsung membuat topeng menghadirkan kedekatan tersendiri.

“Biasanya kalau cuma lihat, mereka cepat lupa. Tapi kalau mereka membuat sendiri, pengalaman itu melekat,” kata Erwin.

Program edukasi ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan lokal. Museum Singhasari juga beberapa kali diundang untuk mengikuti pameran di luar kota, bahkan pernah memindahkan koleksi untuk pameran budaya di Surabaya dan bekerja sama dengan lembaga seni Jepang. Melalui pameran-pameran tersebut, topeng dari limbah kertas itu ikut memperkenalkan cara baru melestarikan budaya Malangan kepada khalayak yang lebih luas.

Aktivitas kreatif ini juga cocok dengan kurikulum sekolah, terutama untuk program P5 yang menekankan pendidikan karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Sejumlah sekolah menjadikan Museum Singhasari sebagai tujuan rutin untuk proyek pembelajaran tematik.

Meski demikian, nilai paling penting dari program ini justru terletak pada pesan lingkungannya. Di tengah tumpukan sampah kertas yang setiap hari dihasilkan institusi publik, museum menunjukkan bahwa solusi tidak harus besar ataupun rumit. Dengan kreativitas yang tepat, limbah dapat kembali hadir dalam bentuk yang jauh lebih bermanfaat.

“Sampah itu sebenarnya masih bisa kita jadikan karya seni. Yang penting adalah kemauan untuk melihatnya dengan cara berbeda,” tutup Erwin.

Di tangan para pengunjung baik anak-anak maupun orang dewasa topeng-topeng kecil bercorak Panji itu bukan lagi sekadar souvenir. Mereka adalah simbol kecil tentang bagaimana budaya dapat dirawat, lingkungan dapat dijaga, dan museum dapat menjadi ruang hidup yang terus berinteraksi dengan masyarakat.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.