Ngopi kini sudah jadi bahasa pergaulan Gen Z. Dari nugas, nongkrong, healing tipis-tipis, sampai foto buat kasih makan Instagram, kafe selalu jadi tempat singgah nomor satu.
Tapi di balik segelas kopi susu dan foto estetik itu, ada jejak lain yang sering luput diperhatikan, yaitu sampah. Cup plastik, sedotan, tisu, dan styrofoam kerap tertinggal setelah meja dibersihkan.
Di Malang, beberapa kafe memilih jalan yang berbedaloh Naters! Mereka membuktikan bahwa ngopi tetap bisa seru dan estetik, tanpa harus menambah beban lingkungan.
Retrorika Coffee Bar & Resto
Begitu masuk ke Retrorika Coffee Bar & Resto, mata langsung disambut tanaman hijau dan furnitur dengan karakter kuat. Barang-barang antik tersebar di sudut ruang, menghadirkan nuansa hangat yang terasa hidup.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Menariknya, hampir seluruh ornamen itu bukan barang baru. Meja, kursi, hingga dekorasi merupakan hasil olahan barang bekas yang diberi napas kedua.
“Kami memanfaatkan barang bekas bukan karena murah, tapi karena kami tidak ingin menambah residu sampah untuk lingkungan,” kata Ismi Wahid, selaku CEO cafe Retrorika.
Barang-barang tersebut berasal dari rongsokan di Mojokerto. Dari sanalah suami Ismi berburu material untuk diolah menjadi furnitur bernilai estetis dan punya cerita.
Retrorika juga mengusung konsep greenpreneurship sebagai fondasi bisnisnya. Prinsip keberlanjutan diterapkan dari hulu hingga hilir, bukan sekadar jargon pemasaran. Sampah yang dihasilkan kafe ini dipilah dan diolah sendiri. Tidak ada cerita buang lalu selesai.
“Sampah organik itu kami bagi dua. Satu yang sisa makanan kita yang dimakan manusia itu dikumpulkan jadi satu, terus diberikan ke ternak. Kami kerjasama dengan peternak dan kami juga punya ternak di situ,” jelasnya.
Sementara itu, sisa dapur seperti kulit buah dan sayur digiling, diolah menjadi kompos, lalu digunakan kembali untuk tanaman di Retrorika. Sebagiannya bahkan dibagikan ke warga sekitar.
Dalam urusan take away, Retrorika memilih melawan arus industri F&B. Tidak ada styrofoam atau cup plastik sekali pakai.
Semua makanan dibungkus menggunakan besek bambu, sedangkan minuman disajikan dalam tumbler kaca yang bisa digunakan berulang kali.
“Memang kelihatanya lebih ribet ya, tapi balik lagi saya ingin menerapkan bisnis green entrepreneur di cafe ini” tambahnya, saat wawancara bersama tim natera.
Untuk besek bambu, pelanggan harus mengeluarkan Rp2.500. Sementara, Tumbler kaca untuk minuman seharga Rp8.000, sebagai ajakan membeli kesadaran, bukan sekadar wadah.
Di Retrorika, kamu juga tidak akan menemukan tisu di setiap meja. Sebagai gantinya, Retrorika sediakan kain serbet yang bisa berkali pakai. Bahkan, pelanggan yang membawa tumbler atau food box sendiri justru mendapat apresiasi.
“Kami malah memberikan 10% diskon untuk mereka yang take away, tapi bawa tempat sendiri, tumbler sendiri, atau food box sendiri. Ini reward bagi mereka. Oh, ternyata kamu sudah terbiasa bawa tumbler.”
Diskon ini menciptakan efek domino. Pelanggan merasakan sesuatu yang baru dan tanpa sadar ikut menyebarkan gaya hidup ramah lingkungan.
Kopi Nako

Foto : Dok Pribadi/Natera
Sebagai jaringan kedai kopi dengan puluhan cabang, Kopi Nako sadar betul besarnya sampah yang mereka hasilkan. Kesadaran itu tumbuh seiring ekspansi outlet yang terus bertambah.
Pada 2021, Kopi Nako melahirkan inisiatif bernama Daur Baur. Program ini menggunakan kembali gelas plastik bekas menjadi material dengan fungsi baru. Melalui kolaborasi lintas pihak dan pendekatan sustainable design, gelas plastik ini akan melewati tahap pengolahan menjadi dinding arsitektural di Ruang Daur Baur.
Sebanyak 150 hingga 240 gelas plastik membentuk wiremesh yang unik dan mencuri perhatian. Tidak hanya estetik, tetapi juga penuh makna.
Kolaborasi melibatkan Stereoflow, JKTPLAY, FLAB, Robries, Kick Your Butt, hingga Rapeľ. Setengah ton cup bekas dapat terolah menjadi furnitur dan elemen bangunan.
Kini Kopi Nako memiliki lebih dari 30 cabang di berbagai kota. Di Malang, Kopi Nako resmi beroperasi sejak Sabtu, 19 Oktober 2025, dan buka 24 jam.
Gartenhaus

Foto : Dok Pribadi/Natera
Gartenhaus menghadirkan ruang outdoor yang benar-benar terasa seperti kebun. Monstera, tanaman hias langka, hingga pohon kopi tumbuh di berbagai sudut.
Sampah organik dari dapur Gartenhaus tidak langsung berakhir percuma. Ampas kopi, daun kering, dan sisa jahe kembali ke tanah sebagai pupuk.
“Kalau ampas kopi, kita ambil ampasnya saja. Kalau wedang jahe, kita buang dulu airnya, lalu sisanya balik ke tanah. Kita pakai teknik penguraian alami.” ujar Eno, Salah satu karyawan Gartenhaus.
Sejak awal, Gartenhaus membatasi penggunaan tisu. Keputusan ini lahir dari pengalaman melihat tisu berserakan dan merusak estetika kebun.
Tanpa AC, ruang tetap sejuk berkat kanopi alami tanaman. Konsep green building terasa nyata, bukan sekadar tempelan konsep.
Diavel Coffee

Dari ruang kolaborasi hingga kebiasaan pilah sampah, perubahan lingkungan bisa mulai dari meja kopi.
Foto : iLitterless
Diavel Coffee berdiri awal 2023 dengan konsep casual dining yang inklusif. Tempat ini cocok untuk keluarga, teman, hingga pekerja lepas.
Berbagai workshop sudah pernah mereka gelar, mulai dari Coffeepreneur hingga kelas merajut. Kolaborasi menjadi kunci membangun ruang yang hidup.
Kesadaran soal sampah muncul saat event Coffeepreneur bersama iLitterless. Dari situ, kafe ini mulai memilah sampah dan bergabung dalam program iCos dari iLitterless.
“Kalau dari cafe, mostly yang disetorkan adalah kotak susu, kemudian ada cup juga.” ujar Nina Amelia, Educational and Outreach Coordinator iLitterless.
Kini, pemilahan sampah menjadi kebiasaan seluruh karyawan. Diavel percaya, perubahan bisa terjadi mulai dari kafenya sendiri.
Vosco Coffee

Dari tukar sampah jadi kopi gratis, kesadaran lingkungan tumbuh pelan-pelan, tepat di tengah rutinitas nongkrong harian.
Foto : polomap
Green Consumer Day menjadi momentum kolaborasi Vosco Coffee dan iLitterless. Program tukar sampah gratis kopi ini mereka gelar di Blimbing, Malang.
Mereka mengajak para konsumennya untuk menukar sampah anorganik dengan segelas kopi. Edukasi berjalan berdampingan dengan pengalaman menyenangkan.
Owner Vosco Coffee, Hendy Suryo Leksono, menyebut dampaknya terasa nyata. Kesadaran konsumen meningkat, sekaligus berdampak pada penjualan.
“Untuk kafe, ada program pick up my litter (PML). Ini gratis. Kamu juga beri training pegawainya mengenai cara pilah sampah,” tambah ujar Nina Amelia, Educational and Outreach Coordinator iLitterless.
Bahkan, Vosco memberi diskon hingga 30 persen bagi pelanggan yang memilah sampah. Sebuah bukti bahwa kepedulian bisa berjalan seiring bisnis.
Lima kafe ini membuktikan satu hal. Ngopi bukan cuma soal rasa, tetapi juga pilihan. Dan dari pilihan kecil, perubahan besar bisa terjadi.