
Kota Malang – Palim sebuah perjuangan sunyi yang mengubah sisa minyak goreng jadi biodiesel ramah lingkungan. Kisah ini bermula dari sosok Hari Supriyatno, seorang warga Malang yang pernah hidup dalam masa paling sulitnya menganggur tanpa kepastian.
Tujuh tahun lalu, Hari menghabiskan dua bulan tanpa pekerjaan. Di saat itulah seorang temannya dari Turen mengenalkan peluang usaha pengumpulan minyak jelantah. Tanpa pengalaman apa pun soal limbah, Hari nekat memulai. Modalnya bukan dari bank, melainkan pinjaman Rp500 ribu dari seorang teman. Dari uang itulah cikal bakal PALIM berdiri, yang saat itu masih bernama Siklus Hijau.
Awalnya sangat sederhana. Hari berkeliling dari warung ke warung dan dari rumah ke rumah dengan sepeda motor. Ia membeli jelantah dengan harga sekitar Rp3.000–Rp5.000 per liter. Tak ada syarat minimal. Meski hanya satu atau dua liter, tetap ia ambil. Baginya, yang terpenting adalah membangun kepercayaan masyarakat.
“Saya waktu itu nggak mikir untung. Pokoknya jalan dulu. Yang penting jelantah nggak dibuang sembarangan,” ujarnya.
Perjalanan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana minyak bekas dibuang ke selokan, sungai, bahkan dicampur dengan sampah rumah tangga. Dilansir dari Malangkota.go.id minyak jelantah seringkali dianggap sebagai limbah rumah tangga yang tidak berguna lagi. Padahal, kata Hari, jika dibuang sembarangan, minyak bekas bisa mencemari air tanah dan merusak saluran pembuangan.
Dari sini lah kesadaran lingkungan PALIM tumbuh. Seiring waktu, jaringan pengumpulan semakin luas. Tak hanya rumah tangga, PALIM kini mengambil jelantah dari warung makan, restoran, kafe, hotel, hingga bank sampah. Rata-rata, setiap hari bisa terkumpul sekitar 400 liter minyak bekas. Harga pembelian stabil di kisaran Rp5.000 per liter.
Minyak jelantah yang terkumpul tidak langsung diolah menjadi biodiesel di Indonesia. Faktanya, hingga kini belum banyak fasilitas dalam negeri yang mampu memproses jelantah menjadi biodiesel skala besar. Peran PALIM adalah sebagai pengumpul sekaligus penyedia bahan baku. Jelantah dikirim ke pabrik penampungan, lalu diekspor ke luar negeri salah satunya Belanda untuk diproses menjadi biodiesel ramah lingkungan. Setelah itu, produk biodiesel tersebut bahkan bisa kembali masuk ke Indonesia sebagai bahan bakar alternatif.

Meski demikian, prosesnya tidak bisa sembarangan. Jelantah harus disortir. Tidak boleh tercampur solar, air, atau bahan kimia lain. Di PALIM, proses pengecekan ini masih dilakukan secara manual melalui pengamatan visual dan pengalaman lapangan.
Bagi Hari, tantangan terbesarnya justru bukan teknis, melainkan mengubah pola pikir masyarakat. Masih banyak yang mengira minyak bekas bisa digunakan kembali untuk memasak. Ada pula yang tidak percaya bahwa jelantah bisa menjadi bahan bakar.
Karena itu, PALIM rutin menggelar sosialisasi ke masyarakat, termasuk ibu-ibu PKK, kampus, dan komunitas. Edukasi sederhana mereka bawa: jangan buang jelantah ke saluran air dan jangan gunakan ulang untuk makanan.
Kini, PALIM telah berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat penampungan limbah. Ia menjadi jembatan antara sampah rumah tangga dan energi terbarukan. Bagi Hari, perjuangan ini bukan soal bisnis semata.
“Saya cuma ingin limbah ini nggak jadi masalah, tapi jadi manfaat. Kalau bisa bantu lingkungan dan bantu ekonomi warga, itu sudah cukup,” katanya.
Di tangan orang-orang seperti Hari, jelantah tak lagi hanya residu dapur. Ia berubah menjadi harapan baru bagi masa depan energi yang lebih bersih.