Ampas Kentucky Tak Lagi Sia-Sia, Palim Olah Jadi Pakan Bebek

Ember-ember kaleng biru berjejer rapat
Di balik ember-ember kaleng biru ini, tumpukan ampas sisa gorengan tak lagi berakhir sebagai limbah dapur.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Di sudut gudang, ember-ember kaleng biru berjejer rapat. Sekilas isinya tampak seperti pasir kecokelatan yang menumpuk dalam jumlah besar. Namun, aroma samar minyak goreng mengungkap asalnya.

Ampas kentucky, limbah dapur yang selama ini kerap kali kita abaikan, kini terkumpul di sana. Sisa tepung dan remah gorengan ini biasanya berakhir bersama sampah organik tanpa pengolahan lebih lanjut.

Limbah tersebut dikumpulkan oleh Hari Suprayitno, seorang pengepul minyak jelantah dari warung-warung dan dapur warga di Kota Malang. Selain minyak bekas, Hari juga mengumpulkan ampas kentucky yang selama ini luput dari perhatian banyak orang.

Ketika Ampas Kentucky Tak Lagi Berakhir

Mulanya, Hari Suprayitno, pendiri Palim yang dulunya bernama Siklus Hijau hanya mengumpulkan satu hingga dua liter minyak jelantah dari warga sekitar. Bahkan Ia sempat berkeliling menggunakan sepeda untuk menjemput limbah dapur tersebut.

Nah kita di sini itu sebagai pengepul jelantah ini, ini hampir 7 tahunan

Di dapur, limbah tak hanya berupa jelantah dan sisa makanan basah. Ampas gorengan yang berasal dari sisa tepung dan remah makanan dari penggorengan jugalah limbah. Biasanya, limbah ini langsung berakhir bersama sampah organik lainnya. 

Namun, PaLim memilih jalur berbeda. Selain minyak jelantah, Hari mulai memperhatikan sisa tepung gorengan dari warung-warung kecil. Ampas kentucky yang biasanya berakhir begitu saja ia kumpulkan, lalu dimanfaatkan sebagai pakan bebek pedaging.

Tiga botol yang berisikan beragam jenis minyak jelantah dan ampas gorengan
Sampel minyak jelantah di PaLim dengan tingkat kejernihan berbeda, sebagian masih bercampur ampas gorengan, menunggu proses pengolahan lanjutan.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Setelah ampas terkumpul, Hari memasukkan limbah ini ke dalam mesin spinner, alat yang bekerja menyerupai pengering pada mesin cuci. Proses ini bertujuan mengurangi sisa minyak yang masih menempel pada ampas kentucky.

“Jadi pas itu ya, itu dimasukkan spinner. Spinner itu kayak mesin cuci pengering baju itu lho.”

Mesin spinner terus berputar hingga minyak tersisa menetes keluar dari ampas. PaLim menampung kembali minyak yang keluar, sementara ampasnya menjadi lebih kering. Teksturnya pun berubah, menyerupai pasir halus.

“Ini kan otomatis minyaknya kan netes. Netes, minyaknya diambil lagi, dan si ampasnya itu kan sudah kering. Jadi Kayak jadi pasir gitu. Nah, nanti dicampur Pur, dedak, dan konsentrat.”

Setelah kering, PaLim mencampur ampas tersebut dengan pur, dedak, dan konsentrat sesuai takaran. Proses pencampuran ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan nutrisi pakan. Campuran ini kemudian dikemas ke dalam karung-karung yang siap jadi pakan bebek.

“Dicampur ada takarannya sendiri terus habis itu dikemas dan dikarungin sekitar 25 kiloan”

Kembali Jadi Pakan

PaLim membatasi pemanfaatan pakan ini hanya untuk bebek pedaging. Mereka menilai ampas kentucky kurang cocok untuk bebek petelur karena dapat memengaruhi kualitas telur. Karena itu, pakan ini sangat efektif untuk penggemukan.

“Kalau bebek petelur itu nggak bagus buat telurnya. memang dikasih hanya untuk bebek pedaging Biar gemuk-gemuk..”

Bebek-bebek yang sedang menyantap pakannya
Ampas kentucky yang diolah kembali menjadi pakan bebek pedaging, menghubungkan limbah dapur dengan kebutuhan pangan ternak.
Foto : Freepik

Untuk penyalurannya, PaLim bekerja sama dengan peternakan bebek di Blitar. Ampas kentucky hasil olahan ini dikirim ke peternakan milik rekan mereka. Di wilayah ini, peternakan bebek pedaging memang  berkembang cukup pesat.

Lewat pengolahan ampas kentucky, PaLim tak hanya mengelola minyak jelantah. Dari dapur hingga peternakan, sisa gorengan ini tetap berputar dan tidak berakhir mencemari lingkungan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.