
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di Kota Malang, sejak sekitar tujuh tahun lalu, PALIM hadir mengajak masyarakat mengubah kebiasaan membuang minyak jelantah sembarangan. Kini PALIM menjadi tempat pengolahan minyak jelantah jadi biodiesel. Inisiatif ini digagas oleh Hari Supriyatno melalui edukasi langsung ke rumah tangga, warung, hingga hotel, demi mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memberi nilai ekonomi pada limbah dapur.
Minyak jelantah selama ini kerap diperlakukan sebagai limbah tak berguna. Ia dibuang ke saluran air, tanah, atau dicampur dengan sampah rumah tangga tanpa dipikirkan dampaknya. Padahal, jelantah memiliki potensi besar mencemari lingkungan seperti menyumbat saluran air, mencemari tanah, hingga merusak kualitas air tanah. Dari kegelisahan itulah PALIM lahir, membawa misi sederhana tapi berat, yaitu mengubah kebiasaan.
Hari Supriyatno, pendiri PALIM, mengenang masa awal inisiatif ini ketika dirinya baru saja menganggur.
“Saya waktu itu nganggur dua bulan, tujuh tahun yang lalu. Usaha minyak jelantah ini awalnya saya nggak tahu sama sekali,” ujarnya.
Berbekal rasa penasaran dan ajakan seorang teman, Hari mulai terjun langsung ke lapangan, mendatangi warung-warung dan rumah tangga untuk mengambil jelantah yang sebelumnya dibuang percuma.
Dengan modal terbatas bahkan hanya sekitar Rp500 ribu dari temannya, Hari rela berkeliling rumah warga dengan membawa jerigen. Hari tidak pernah menaruh target besar di awal.
Saya dulu waktu mencari jelantah itu tidak ada batas minimal pengambilan. Ada satu liter, dua liter, tetap saya ambil,” kata Hari.
Baginya, yang terpenting saat itu bukan keuntungan, melainkan membiasakan masyarakat untuk tidak lagi membuang jelantah sembarangan. Namun, tantangan terberat justru datang dari rendahnya kesadaran publik. Banyak warga belum memahami bahwa minyak jelantah memiliki dampak lingkungan serius.
Masyarakat kan banyak yang nggak ngerti kalau jelantah itu bisa dijadikan bahan baku biodiesel. Banyak yang mikirnya masih bisa dipakai lagi atau dibuang aja,” tutur Hari.
Kebiasaan lama menggunakan minyak goreng berulang kali dan membuang sisanya ke saluran air masih dianggap wajar.
PALIM memilih jalan edukasi sebagai kunci perubahan. Hari dan timnya yang sebagian besar berasal dari keluarga dan lingkungan terdekat secara rutin melakukan sosialisasi ke ibu rumah tangga, warung, hingga komunitas warga. Edukasi dilakukan dengan bahasa sederhana dan membawa pesan bahwa jelantah tidak hanya berbahaya jika dibuang sembarangan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Kita sosialisasi pelan-pelan. Jelantah ini bisa dijual, bisa jadi uang, dan tidak merusak lingkungan,” jelasnya.
Strategi PALIM: Jemput Satu Liter, Tanpa Syarat
Strategi PALIM juga menekankan kemudahan bagi warga. Tidak ada batas minimal setoran, bahkan satu liter pun akan dijemput tanpa biaya.
“Kalau di tempat lain biasanya nunggu sampai 20 liter, kita nggak. Satu liter pun tetap kita ambil,” kata Hari.
Dilansir dari malangkota.id harga yang ditawarkan kepada masyarakat yang setor minyak jelantah pun relatif stabil, sekitar Rp5.000 per liter, sehingga masyarakat merasa dihargai dan tidak dirugikan.
Perlahan, pendekatan ini mulai membuahkan hasil. Warga yang awalnya ragu mulai rutin mengumpulkan jelantah.
“Awalnya bilang, ‘Pak, nggak ada jelantah.’ Tapi setelah satu-dua hari tahu bisa jadi uang, lama-lama mereka kumpulkan,” ujar Hari.
Dari rumah tangga, lingkaran kepercayaan melebar ke warung, kafe, bank sampah, hingga hotel.
Jelantah sebagai Bahan Baku Biodiesel
Jelantah yang terkumpul oleh PALIM kemudian disalurkan sebagai bahan baku biodiesel melalui pabrik pengolahan. Meski proses pengolahan minyak jelantah hingga menjadi biodiesel hanya banyak dilakukan di luar negeri, peran PALIM menjadi krusial sebagai penghubung antara limbah rumah tangga dan industri energi terbarukan.
“Kita ini sebenarnya kakinya pabrik. Tugas kita memastikan jelantah tidak dibuang ke lingkungan,” ungkap Hari.
Kini, PALIM tidak hanya dikenal sebagai pengumpul jelantah, tetapi juga sebagai penggerak perubahan perilaku. Setiap liter jelantah yang disetor berarti satu langkah kecil menjauh dari pencemaran. Bagi Hari, perjuangan ini belum selesai.
Harapan saya sederhana, masyarakat sadar bahwa jelantah itu bukan sampah. Kalau dikelola, dia punya manfaat dan tidak merusak lingkungan,” katanya.
Di tengah krisis lingkungan dan energi, PALIM menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari dapur rumah tangga. Dari minyak sisa gorengan, lahir harapan akan lingkungan yang lebih bersih dan kebiasaan baru yang lebih bertanggung jawab.