Beautiful in Tr(ust)ash: Ketika Sampah Dipamerkan untuk Menguji Kepercayaan Kita

Kota Malang – Sampah selama ini identik dengan sesuatu yang disingkirkan, disembunyikan, atau segera dibuang dari pandangan. Namun melalui pameran Beautiful in Tr(ust)ash), iLitterless justru mengajak publik untuk berhenti sejenak dan menatap sampah dari jarak yang lebih dekat. Pameran ini tidak sekadar menampilkan karya visual, tetapi juga menghadirkan narasi tentang konsumsi, pemilahan, dan kepercayaan terhadap proses pengelolaan sampah.

Pameran Beautiful in Tr(ust)ash) diinisiasi oleh iLitterless sebagai bagian dari upaya edukasi lingkungan yang selama ini mereka jalankan. Mengusung permainan kata trust dan trash, pameran ini ingin mengajak pengunjung bertanya: sejauh mana kita percaya bahwa sampah yang kita pilah benar-benar dikelola dengan baik?

Menurut Nina, perwakilan iLitterless, pameran ini lahir dari keresahan yang sama dengan kerja-kerja mereka sehari-hari. “Kami melihat masih banyak orang yang ragu untuk memilah sampah karena merasa ujungnya tetap tercampur. Lewat pameran ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah yang dipilah punya cerita lanjutan,” ujar Nina.

Ruang Pamer sebagai Media Edukasi
Beautiful in Tr(ust)ash) digelar sebagai ruang temu antara karya, data, dan proses. Di dalam pameran, pengunjung tidak hanya melihat instalasi visual berbahan sampah terpilah, tetapi juga mendapatkan konteks tentang asal-usul material, jenis sampah yang digunakan, serta bagaimana sampah tersebut biasanya ditangani oleh iLitterless.

Pameran ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari tim internal iLitterless, mitra komunitas, hingga individu yang selama ini terlibat dalam program pemilahan dan penjemputan sampah. Karya-karya yang ditampilkan sebagian besar berasal dari sampah konsumsi sehari-hari, seperti kemasan plastik, botol, kotak minuman, hingga residu yang sering dianggap tidak bernilai.

“Yang dipamerkan bukan cuma hasil akhirnya, tapi juga prosesnya. Dari mana sampah ini berasal, bagaimana dipilah, dan kenapa tidak semua sampah bisa langsung didaur ulang,” jelas Nina.

Mengangkat Realitas Sampah yang Tidak Selalu Indah

Berbeda dari pameran daur ulang yang cenderung menampilkan hasil akhir yang estetik, Beautiful in Tr(ust)ash) juga memberi ruang pada realitas yang tidak selalu nyaman. Beberapa bagian pameran menampilkan fakta tentang jenis sampah yang masih sulit ditangani, keterbatasan fasilitas, serta tantangan di lapangan.

Pendekatan ini sengaja dipilih agar pameran tidak berhenti pada apresiasi visual semata. iLitterless ingin pengunjung memahami bahwa pengelolaan sampah adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, bukan solusi instan.

“Kami tidak ingin memoles sampah seolah semuanya bisa selesai dengan satu langkah. Ada sampah yang bisa dikelola, ada yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama,” kata Nina.

Makna Kepercayaan dalam Pengelolaan Sampah

Judul Beautiful in Tr(ust)ash) menjadi penekanan utama pameran ini. Keindahan dalam konteks ini bukan hanya soal bentuk, tetapi tentang kepercayaan kepercayaan bahwa memilah sampah adalah langkah yang bermakna, dan kepercayaan bahwa proses pengelolaan membutuhkan kolaborasi banyak pihak.

Melalui pameran ini, iLitterless ingin membangun ulang relasi antara masyarakat dan sampahnya sendiri. Sampah tidak lagi diposisikan sebagai “urusan akhir”, melainkan sebagai bagian dari rantai tanggung jawab yang dimulai dari konsumsi harian.

“Kalau orang tidak percaya, mereka akan berhenti memilah. Padahal perubahan itu justru dimulai dari tindakan kecil yang diulang terus,” ujar Nina.

Lebih dari Sekadar Pameran

Bagi iLitterless, Beautiful in Tr(ust)ash) bukan sekadar agenda pameran, melainkan medium dialog. Pameran ini menjadi ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan merefleksikan ulang kebiasaan konsumsi yang selama ini dianggap normal.

Pengunjung diajak melihat bahwa sampah yang dihasilkan setiap hari merepresentasikan pola hidup, pilihan produk, hingga sistem yang lebih besar di belakangnya. Dengan menempatkan sampah di ruang pamer, iLitterless berusaha memindahkan isu lingkungan dari pinggir percakapan ke ruang yang lebih terbuka.Menurut kaca mata Natera, pameran seperti Beautiful in Tr(ust)ash) penting bukan karena menawarkan jawaban, melainkan karena berani membuka pertanyaan. Ketika sampah dipamerkan, yang diuji bukan hanya estetika, tetapi juga kepercayaan kita apakah kita mau terlibat lebih jauh, atau kembali memalingkan pandangan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.