Penghargaan D’Belel Tas Upcycle Tandai Konsistensi Karya Berkelanjutan

Blitar – Penghargaan yang diraih D’Belel Tas Upcycle menjadi pengakuan formal atas konsistensi brand ini dalam mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai guna dan sosial, sebagaimana disampaikan Ardhiana Malrasari, Founder D’Belel, dalam wawancara bersama tim Natera. Sejumlah penghargaan tersebut menandai perjalanan D’Belel yang dibangun melalui proses panjang, bukan pencapaian instan.

Bagi Ardhiana, penghargaan hadir sebagai konsekuensi dari konsistensi. 


“Penghargaan itu datang belakangan. Dari awal kami hanya fokus bekerja dan bertahan,” ujarnya.

 Ia menilai, pengakuan menjadi penting bukan untuk euforia, melainkan sebagai validasi atas praktik upcycle yang selama ini dijalankan.

Finalis Apresiasi Kreasi Indonesia 2024

Salah satu pengakuan utama yang diraih D’Belel adalah penghargaan Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) 2024 sebagai finalis. Program nasional ini diselenggarakan oleh Direktorat Kuliner, Kriya, Desain, dan Fesyen, di bawah Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif. Sertifikat penghargaan AKI 2024 tersebut ditandatangani oleh Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bagi Ardhiana, status finalis AKI 2024 menjadi pengakuan penting karena datang dari lembaga resmi negara. 


“Itu membuat kerja upcycle yang selama ini kami lakukan dianggap serius dan layak diapresiasi,” katanya.

 Penghargaan tersebut memperkuat posisi D’Belel sebagai pelaku ekonomi kreatif yang konsisten mengusung praktik berkelanjutan.

Sertifikat Bootcamp ASIK Kriya

Selain AKI 2024, D’Belel juga menerima sertifikat sebagai peserta Bootcamp ASIK Kriya. Program ini berfokus pada penguatan kapasitas pelaku kriya, mulai dari pengembangan produk hingga strategi keberlanjutan usaha.

Ardhiana menilai sertifikat tersebut bukan sekadar bukti keikutsertaan, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang turut menguatkan praktik D’Belel. 


“Dari situ kami belajar memperbaiki cara kerja, bukan hanya soal produk, tapi juga bagaimana bertahan sebagai usaha,” ujarnya.

Pengakuan melalui sertifikat bootcamp ini memperlihatkan bahwa D’Belel tidak hanya diakui dari sisi hasil, tetapi juga dari kesediaannya untuk terus belajar dan beradaptasi.

Top 350 PFpreneur Perempuan UMKM untuk Nusantara

Penghargaan lain yang diraih D’Belel adalah sertifikat penghargaan Perempuan UMKM untuk Nusantara sebagai Top 350 PFpreneur. Pengakuan ini menempatkan D’Belel dalam jajaran pelaku usaha perempuan yang dinilai memiliki kontribusi dan potensi dalam pengembangan UMKM.

Bagi Ardhiana, penghargaan tersebut memiliki makna personal sekaligus struktural.


“Sebagai perempuan pelaku UMKM, pengakuan seperti ini memberi semangat bahwa kerja kecil kami terlihat,” katanya.

 Ia menilai, apresiasi ini memperluas ruang percaya diri bagi perempuan UMKM untuk terus bertahan dan berkembang.

Makna Penghargaan bagi D’Belel

Ardhiana menekankan bahwa rangkaian penghargaan tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir. Baginya, pengakuan berfungsi sebagai alat untuk memperkuat kepercayaan baik dari publik, mitra, maupun lembaga pendukung.


“Setelah ada penghargaan, orang lebih percaya. Ketika kami bicara soal upcycle, mereka tidak lagi melihatnya sebagai sekadar hobi,” ujarnya. 

Kepercayaan ini berdampak pada terbukanya ruang kolaborasi dan kesempatan mengikuti berbagai program lanjutan.

Tanggung Jawab Pasca Penghargaan

Di sisi lain, Ardhiana menyadari bahwa penghargaan membawa tanggung jawab baru. Standar publik terhadap kualitas produk dan konsistensi nilai menjadi lebih tinggi.


“Orang akan lebih kritis. Itu tantangan yang harus kami jaga,” katanya.

D’Belel memilih untuk tidak terburu-buru memperluas produksi hanya demi memenuhi ekspektasi. Ardhiana menegaskan bahwa menjaga prinsip upcycle dan kualitas tetap menjadi prioritas, meskipun pengakuan terus bertambah.

Penghargaan sebagai Alat Edukasi

Bagi D’Belel, penghargaan juga menjadi pintu masuk edukasi. Ardhiana kerap menggunakan momen pengakuan untuk menjelaskan kepada publik bahwa produk berbahan limbah bisa memiliki nilai dan diakui secara resmi.


“Ketika orang tahu D’Belel mendapat penghargaan, mereka jadi lebih mau mendengar ceritanya,” ujarnya. 

Dari situ, percakapan tentang upcycle dan keberlanjutan menjadi lebih mudah dibangun.

Bukan Garis Akhir

Meski telah meraih sejumlah penghargaan, Ardhiana menegaskan bahwa semua itu bukanlah garis akhir perjalanan D’Belel. Ia memandang pengakuan sebagai simpul dalam proses panjang yang masih terus berjalan.


“Besok tetap harus kerja lagi,” katanya singkat. 

Prinsip ini menjadi cara D’Belel menjaga agar penghargaan tidak menggeser arah, melainkan justru menguatkan komitmen.

Dalam konteks itu, penghargaan yang diraih D’Belel Tas Upcycle mulai dari finalis Apresiasi Kreasi Indonesia 2024, sertifikat Bootcamp ASIK Kriya, hingga Top 350 PFpreneur Perempuan UMKM untuk Nusantara menjadi penanda bahwa konsistensi karya berbasis limbah mulai mendapat tempat. Sebuah pengakuan yang lahir dari proses, bukan sekadar hasil akhir.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.