
Foto : Dok Pribadi/Natera
Malang – Halo Naters! Setiap hari, ratusan liter minyak jelantah dari dapur rumah tangga, warung, hingga hotel di Kota Malang bergerak dalam rantai pasok yang tidak banyak diketahui publik. Limbah yang selama ini dianggap kotor dan tak berharga itu ternyata menempuh perjalanan jauh hingga ke Belanda, salah satu negara dengan industri biodiesel terbesar di Eropa. Dalam rantai panjang itu, nama PaLim (Pahlawan Limbah) menjadi salah satu penghubung penting antara dapur warga dan pabrik biodiesel internasional.
Tujuh Tahun Menjaring Jelantah
PALIM berdiri tujuh tahun lalu, bukan dari perencanaan matang, melainkan dari tawaran sederhana. Seorang teman mengajak Hari membantu mengumpulkan minyak jelantah untuk dipasok ke pabrik eksportir. Ia menerima dengan modal nol rupiah.
“Saya mulai naik sepeda, bawa jerigen satu, keliling warung. Dikasih paling 1–2 liter,” kenang Hari. Saat itu ia tak memikirkan untung. Ia hanya membutuhkan pekerjaan dan aktivitas.
Namun aktivitas kecil itu ternyata menjadi pintu bagi ekosistem yang lebih besar: rantai pasok minyak jelantah yang menghubungkan dapur rumahan Malang dengan industri energi bersih Belanda.
400 Liter Sehari dari Warung, Rumah Tangga, hingga Hotel
Kini setiap hari Hari mengumpulkan sekitar 400 liter minyak jelantah dari berbagai titik yaitu dari ibu rumah tangga, warung kecil, bank sampah, restoran, hingga hotel besar. Hari juga pernah bermitra dengan Selecta, Hawaii Waterpark, Orchid, dan Sai Chicken.
Minyak-minyak itu tidak langsung dibawa ke Belanda. PALIM hanyalah satu mata rantai. Setelah ditampung dan disaring kasar, truk dari pabrik eksportir datang menjemput. Pabrik inilah yang melakukan pemurnian, memastikan jelantah memenuhi standar UCO (Used Cooking Oil), sebelum diekspor.
“Harga beli di sini Rp5.000 per liter, atau Rp6.000 per kilo. Penjemputan gratis, nggak ada minimal,” ujar Hari.
Sistem semacam ini membuat warga mau mengumpulkan jelantah, karena mereka merasa dihargai dan tidak repot.
Bagi pabrik eksportir, model seperti PALIM adalah solusi pengumpulan jelantah dari sektor yang selama ini tidak tersentuh rumah tangga dan warung kecil.
Tidak Boleh Tercampur Air
Tidak semua jelantah yang diterima PALIM layak masuk jalur ekspor. Ada enam kategori kualitas, salah satu yang paling penting adalah kadar air. Minyak yang tercampur air terlalu banyak akan langsung ditolak pabrik.
Karena itu Hari rajin melakukan sosialisasi ke warga bahwa minyak harus ditampung dengan bersih dan tidak dicampur air. Ia mendatangi kelompok PKK, bank sampah, hingga rapat RT, menjelaskan alurnya, menunjukkan surat resmi pabrik eksportir, dan bahkan membawa contoh lilin serta sabun yang pernah ia buat dari jelantah sebagai edukasi tambahan.
“Saya nggak mau warga mikir ini minyak buat dioplos jadi minyak goreng lagi,” katanya.
Pernah ada warga yang meminta menukar jelantah dengan minyak baru, tapi ia menolak karena khawatir dianggap mengedarkan minyak oplosan.
Ketika Kapal Tidak Bisa Sandar di Musim Salju
Meski permintaan ekspor tinggi, perjalanan minyak jelantah menuju Belanda tidak selalu mulus. Salah satu hambatan terbesar justru datang dari cuaca ekstrem di Eropa.
Hari menceritakan bahwa ketika musim salju tiba, kondisi pelabuhan di Belanda bisa sangat kacau.
“Kalau musim salju, kapalnya nggak bisa sandar. Airnya membeku, cuaca buruk. Otomatis barang jadi macet,” ujarnya.
Akibatnya, kontainer minyak yang sudah siap dikirim harus menunggu lebih lama. Tidak hanya kapal yang tertahan, tetapi pabrik di Indonesia pun menahan pembelian karena gudang mereka menumpuk.
“Kita mau setor ke pabrik, tapi pabrik nahan. Mereka juga nggak bisa kirim, kapalnya nggak bisa turun,” tambah Hari.
Kondisi itu menjadi salah satu tantangan besar dalam ekspor jelantah, di luar masalah kualitas dan regulasi. Cuaca ekstrem menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok global, bahkan untuk komoditas sejenis minyak bekas.
Energi Masa Depan Dimulai dari Dapur
Di tengah krisis iklim dan kebutuhan energi bersih, perjalanan minyak jelantah dari dapur-dapur sederhana di Indonesia menuju pabrik canggih di Eropa adalah simbol bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil. Dari satu botol minyak bekas, lahirlah peluang ekonomi, upaya pengurangan limbah, dan kontribusi pada energi terbarukan dunia.
Limbah yang dulu tak dianggap, kini justru menjadi komoditas masa depan. Dan Indonesia berada tepat di jalur peluang itu.