
Foto : Dok Pribadi/Natera
Malang – Halo Naters ! Setiap tahun, jutaan kantong kresek berakhir di sungai, tersangkut di dahan-dahan pohon, atau tertimbun dalam tanah selama ratusan tahun. Di Indonesia, plastik tipis sekali pakai menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Di tengah situasi yang tampak tanpa jalan keluar itu, sebuah studio kecil di Malang menghadirkan jawabanbukan lewat mesin raksasa, melainkan dari kreativitas tangan manusia.
Namanya Thrills4Life, sebuah usaha kreatif yang memilih jalan berbeda mengubah kantong kresek menjadi karya seni dan produk fungsional berkualitas. Dari ruangan sederhana, karya-karya ini justru menembus pasar internasional hingga Melbourne, Australia.
Thrills4Life menaungi dua lini utama: Trilogic, yang berfokus pada teknik ecoprint berbahan daun lokal, dan Plastika Art, produk upcycle dari kantong plastik atau keresek bekas. Keduanya berjalan dalam satu badan usaha, dengan satu benang merah keberlanjutan dan edukasi.
kantong kresek sering terlihat tersangkut di pagar, menyumbat selokan, atau terbawa angin hingga menumpuk di sungai. Ringan, murah, dan serbaguna, plastik ini menjadi benda paling mudah didapat sekaligus paling mudah dibuang. Namun, di balik kepraktisannya, kresek adalah salah satu jenis plastik paling sulit terurai dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk hancur, sambil melepaskan mikroplastik ke tanah dan air. Di Indonesia, limbah jenis ini menyumbang jejak yang panjang dalam pencemaran lingkungan.
Kesadaran akan ancaman itu tidak hadir tiba-tiba bagi seorang kreator berbasis Malang. Semua berawal dari hal yang sederhana: kegemaran merawat tanaman.
“Awal mulanya itu karena saya memang senang tanaman, dan semakin ke sini jadi makin dekat dengan isu lingkungan,” ujarnya suatu sore.
Dari hubungan yang semakin intim dengan alam, ia merasa terpanggil untuk menciptakan usaha yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan lingkungan.
Dari Limbah Jadi Lembar Kreatif
Sampah plastik yang datang ke Thrills4Life tidak langsung diproduksi. Mereka memilah berdasarkan warna, tekstur, dan tingkat kelayakan. Proses awalnya sederhana namun teliti, kantong dibersihkan alu dikeringkan, dan dilelehkan dengan teknik khusus hingga berubah menjadi lembaran baru yang disebut Plastika Art material khas yang menjadi identitas mereka.
“Karena keresek itu limbah yang paling banyak dan paling sulit terurai. Dan setelah diuji, ternyata kalau diolah dengan teknik tertentu, dia bisa jadi material yang kuat, ujarnya.”
Lembaran plastik ini kemudian dipotong, dijahit, dan disusun menjadi berbagai produk: pouch, totebag, tas, hingga karya dekorasi. Tidak ada yang sama. Setiap produk menyimpan pola dan warna acak dari plastik-plastik yang diselamatkan.
Di luar Plastika Art, Thrills4Life juga memiliki lini Trilogic yang lahir dari kecintaan Cecilia pada tanaman dan narasi. Trilogic mengolah kain menggunakan teknik ecoprint, memanfaatkan daun-daun lokal seperti jati, ketepeng kebo, dan daun mentor sebagai motif alami. Proses ini dilakukan tanpa pewarna sintetis, membiarkan pigmen daun berpindah langsung ke kain. Setiap lembar kain tidak hanya menampilkan motif visual, tetapi juga membawa cerita tentang flora lokal dan lanskap tempat daun itu tumbuh.
“Saya ingin produk ini tidak berhenti di fungsi pakai. Orang yang membeli juga tahu ceritanya, lalu bisa menceritakan lagi ke orang lain,” katanya.
Bukan Sekadar Ekspor, Tapi Cerita
Dani menekankan bahwa ekspor Thrills4Life bukan semata soal menjual produk ke luar negeri. Setiap kain yang dikirim selalu disertai narasi: jenis daun, proses pewarnaan, hingga filosofi motif.
“Produk itu harus bisa bercerita. Jadi ceritanya tidak berhenti di saya,” katanya.
Pendekatan ini membuat pembeli tidak hanya mengenakan kain, tetapi juga memahami asal-usulnya. Dalam konteks pasar global yang mulai kritis terhadap praktik greenwashing, transparansi proses menjadi nilai tambah. Cecilia menyadari, klaim ramah lingkungan harus dibuktikan dengan praktik nyata.
Dari Lokal ke Global
Sebelum menembus Melbourne, Thrills4Life telah lebih dulu berkolaborasi dengan berbagai hotel di Malang dan sekitarnya, seperti Ijen Suites dan Songgoriti Hot Spring. Kolaborasi ini menjadi etalase awal untuk menunjukkan bahwa produk ramah lingkungan bisa diterima pasar.
Ekspor ke Melbourne menjadi pembuktian bahwa karya berbasis lokal memiliki peluang di pasar global, selama memiliki keunikan dan cerita yang kuat. Namun Cecilia menegaskan, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Ketersediaan bahan alami, konsistensi kualitas, hingga edukasi konsumen menjadi pekerjaan yang terus berjalan.
Tas dari kresek bekas inilah yang kemudian dibawa ke Melbourne dalam sebuah agenda fesyen dan pameran berkonsep ramah lingkungan. Karya tersebut tidak dikirim sebagai produk massal, melainkan dibawa langsung oleh pihak yang mengikuti acara, menjadi perpanjangan tangan cerita Thrills4Life di panggung internasional. Di sana, tas-tas Plastika Art memancing rasa ingin tahu publik: bagaimana mungkin limbah yang selama ini identik dengan sesuatu yang rapuh dan kotor bisa berubah menjadi material kuat dan layak pakai.
Ekspor ini menjadi pembuktian bahwa produk berbasis limbah lokal memiliki peluang menembus pasar global, selama dikerjakan dengan serius dan memiliki narasi yang kuat. Bagi Cecilia, tas dari kresek bekas bukan sekadar barang fungsional, tetapi medium untuk menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik dapat direspon dengan kreativitas, bukan sekadar wacana.