Dari Sampah ‘Bersih’ ke Perubahan Perilaku: iLitterless Mengukur Kualitas Pilah Sampah Warganya

Kota Malang – Upaya mengurangi sampah kerap berhenti pada ajakan memilah. Namun, bagi iLitterless, gerakan pilah sampah tidak cukup hanya soal memisahkan jenisnya. Di Malang, komunitas ini justru menaruh perhatian pada satu hal yang kerap luput dibahas: kualitas sampah yang disetor warga.

Perubahan itu terlihat perlahan. Dari sampah yang masih bercampur residu, berbau, dan belum dibersihkan, kini banyak setoran datang dalam kondisi lebih rapi. Botol skincare dibilas, label dicopot, hingga kemasan dipisah sesuai jenisnya. Bagi iLitterless, kualitas sampah menjadi indikator penting perubahan perilaku masyarakat.

“Awalnya masih banyak residu, terutama dari skincare. Tapi semakin ke sini, botolnya benar-benar bersih, bahkan labelnya sudah dicopot,” ujar Nina, perwakilan iLitterless, saat diwawancarai.

Standar Pilah Sampah yang Tidak Sederhana

iLitterless menetapkan ketentuan cukup ketat terkait sampah yang bisa disetor. Sampah harus terpilah sesuai jenis, dalam kondisi kering, tidak berbau, dan minim residu. Standar ini bukan untuk mempersulit, melainkan memastikan sampah benar-benar bisa diproses lebih lanjut.

“Kalau sampah dijemput tanpa edukasi, itu nggak akan berhasil. Makanya kami selalu mengingatkan soal kondisi sampah ketika disetorkan,” kata Nina.

Menurutnya, kualitas sampah menentukan nasib akhir pengelolaannya. Sampah yang masih kotor atau bercampur residu sering kali sulit didaur ulang dan berisiko berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Sebaliknya, sampah yang sudah bersih membuka peluang masuk ke rantai daur ulang.

Dari Jenis ke Kesadaran

Menariknya, peningkatan kualitas ini berjalan beriringan dengan bertambahnya ragam jenis sampah yang ditanyakan warga. Jika awalnya hanya plastik, kotak susu, dan kertas, kini muncul pertanyaan soal baterai, bubble wrap, hingga jenis lain yang sebelumnya tak terpikirkan.

“Teman-teman mulai bertanya, ‘Kak, ini bisa disetor nggak?’ Itu menunjukkan ada kesadaran baru. Mereka mulai mikir, sampah ini sebaiknya diapakan,” jelas Nina.

Bagi iLitterless, sampah yang disetor sebenarnya mencerminkan pola konsumsi masyarakat. Sampah kafe didominasi kotak susu dan cup minuman, sementara dari rumah tangga banyak berasal dari kemasan belanja bulanan.

“Sampah yang disetorkan ke kami itu menggambarkan apa yang teman-teman konsumsi sehari-hari,” ujarnya.

Perubahan Kecil, Dampak Besar

Perubahan perilaku ini tidak terjadi instan. Nina mengakui, di awal banyak warga yang belum terbiasa membilas atau memisahkan sampah dengan benar. Namun, pendekatan yang berulang dan konsisten perlahan membentuk kebiasaan baru.

“Awalnya mungkin nggak kepikiran buat membilas. Tapi lama-lama mereka mulai pilih, ‘oh, yang ini harus bersih,’” katanya.

Bagi iLitterless, perubahan kecil ini justru paling krusial. Pilah sampah dari rumah dianggap jauh lebih efektif dibanding membebankan proses pemilahan pada petugas di TPS yang dibatasi waktu dan volume.

“Kalau kita pilah dari rumah, itu sangat membantu. Di TPS, petugas harus memilah sampah super banyak dalam waktu singkat,” tutur Nina.

Kualitas Sampah sebagai Ukuran Edukasi

Alih-alih menargetkan angka tonase semata, iLitterless melihat kualitas sampah sebagai tolok ukur keberhasilan edukasi. Sampah yang bersih menandakan pemahaman, bukan sekadar kepatuhan sesaat.

Pendekatan ini juga sejalan dengan semangat ekonomi sirkular yang diusung iLitterless sampah tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk ke siklus pemanfaatan.

“Kami ingin orang benar-benar merasakan bahwa pilah sampah itu gampang. Mulai dari yang sederhana dan paling mudah dilakukan,” kata Nina.

Tantangan Menjaga Konsistensi

Meski menunjukkan tren positif, menjaga konsistensi tetap menjadi tantangan. Nina mengakui, semangat warga terutama anak muda bisa naik turun. Ada yang rutin menyetor, ada pula yang berhenti setelah satu kali.

“Awal-awal semangat, tapi kalau nggak ada yang menarik terus, kadang longgar,” ujarnya.

Karena itu, iLitterless terus mengombinasikan edukasi dengan pendekatan yang lebih relevan dan ringan, termasuk ruang diskusi yang terbuka dan komunikasi yang tidak menggurui.

Bagi iLitterless, perubahan perilaku tidak selalu lahir dari kampanye besar. Kadang, ia bermula dari hal sederhana: membilas botol, memisahkan sampah, dan menyadari bahwa kebiasaan kecil punya dampak panjang bagi lingkungan. 

Menurut kaca mata Natera – cerita iLitterless menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu bermula dari kurangnya fasilitas, melainkan dari kebiasaan sehari-hari yang jarang disadari. Perubahan perilaku seperti membilas botol, memisahkan residu, hingga memahami ke mana sampah akan berakhir menjadi kerja sunyi yang dampaknya justru paling terasa.

Di tengah budaya konsumsi yang terus bergerak cepat, upaya mengukur kualitas pilah sampah memberi pengingat bahwa tanggung jawab lingkungan tidak berhenti di tempat sampah. Ia dimulai dari keputusan personal, lalu tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Ketika warga mulai memperlakukan sampahnya dengan lebih bertanggung jawab, di situlah perubahan ekologis menemukan pijakan paling nyata.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.