
Foto: Dok Capunglam
Hello Naters!-Di sebuah sekolah dasar, beberapa anak duduk melingkar di depan kelas sambil memegang gambar botol plastik, sisa makanan, dan kertas bekas. Suasana belajar terasa cair dengan tawa dan tepuk tangan, seiring dengan hadirnya Capunglam komunitas lingkungan yang dipimpin oleh Cahyo Ilham Firmansyah Subagio atau yang akrab disapa Firman, Mereka menjalankan program Capunglam Goes To School dengan mengunjungi sekolah dasar setiap enam bulan sekali untuk mengajarkan anak-anak cara memilah sampah lewat metode bermain sebagai upaya menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.
Belajar Sampah dengan Cara yang Dekat
Saat Capunglam datang ke sekolah, suasana kelas langsung terasa berbeda. Anak-anak tidak diminta duduk diam mendengarkan penjelasan panjang yang sering membuat bosan. Tim Capunglam justru mengajak mereka bergerak, bermain, dan terlibat sejak awal kegiatan. Kelas berubah menjadi ruang interaksi, tempat anak-anak bebas bertanya, menjawab, dan mengekspresikan rasa ingin tahu mereka tentang sampah.
Tim Capunglam membawa poster bermain berisi gambar-gambar sampah yang dekat dengan keseharian anak. Botol plastik, bungkus jajanan, kertas bekas, hingga sisa makanan menjadi bahan diskusi bersama. Anak-anak menebak jenis sampah dari setiap gambar dan menentukan kemana seharusnya sampah itu dibuang. Dari aktivitas sederhana ini, mereka mulai memahami bahwa tidak semua sampah bisa diperlakukan dengan cara yang sama.

Foto: Dok Pribadi/Natera
“Kalau anak-anak langsung kami libatkan, mereka lebih cepat paham dan ingat,” ujar Firman, ketua Capunglam.
Selain poster, Capunglam juga mengajak anak-anak memainkan tepuk sampah. Anak-anak bertepuk tangan sambil menyebutkan kategori sampah secara bergantian. Gerakan sederhana ini membantu mereka mengingat jenis sampah dengan lebih mudah, karena tubuh dan pikiran bekerja bersamaan. Suasana kelas pun tetap hidup, penuh tawa, sekaligus menjadi ruang belajar yang menyenangkan.
Selain itu, Capunglam mengenalkan warna tempat sampah dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Warna hijau mereka perkenalkan sebagai tempat sampah organik, kuning untuk anorganik, dan merah untuk residu. Anak-anak tidak hanya diminta menghafal warna, tetapi juga memahami arti di baliknya melalui permainan, tanya jawab, dan contoh yang mereka temui sehari-hari di sekolah.

Foto: Dok Capunglam
Capunglam memilih pendekatan bermain karena anak-anak belajar paling cepat saat mereka merasa nyaman. Alih-alih merasa digurui, anak-anak justru merasa diajak terlibat langsung dalam proses belajar. Situasi ini membuat mereka lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat, tanpa takut salah.
“Kami ingin mereka merasa sedang bermain, bukan sedang diberi pelajaran.” kata Adel tim Marketing Capunglam.
Di beberapa sesi, anak-anak mulai menceritakan kebiasaan mereka di rumah. Ada yang mengaku masih membuang semua sampah dalam satu tempat, ada pula yang sudah mengenal pemisahan sederhana. Cerita-cerita kecil ini membuka ruang diskusi dan membantu Capunglam melihat kondisi nyata di luar sekolah, sekaligus memahami tantangan yang masih dihadapi di lingkungan rumah.
Bagi Capunglam, momen-momen seperti ini memiliki arti penting. Edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi hidup melalui percakapan sederhana bersama anak-anak, percakapan yang perlahan menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan baru.
Dari Edukasi ke Kebiasaan Nyata
Capunglam Goes To School tidak berhenti pada kegiatan belajar di kelas. Capunglam melanjutkan edukasi itu melalui program pick up sampah agar anak-anak bisa melihat langsung kelanjutan dari proses memilah yang mereka pelajari.
Lewat program ini, Capunglam mengambil sampah yang sudah dipilah untuk kemudian dikelola lebih lanjut. Anak-anak pun memahami hubungan antara pengetahuan dan dampak nyata. Mereka melihat bahwa memilah sampah bukan sekadar tugas sekolah, melainkan langkah kecil yang benar-benar berpengaruh.
Program pick up sampah juga membantu sekolah menjaga kebiasaan memilah agar tetap berjalan setelah sesi edukasi selesai. Dengan dukungan ini, sekolah memiliki ruang untuk meneruskan praktik yang sama tanpa harus kembali mencampur sampah.
Bagi Capunglam, edukasi tanpa praktik sering kali hanya berhenti sebagai wacana. Karena itu, mereka berusaha menghubungkan pengetahuan dengan tindakan sederhana yang bisa dilakukan bersama, baik oleh sekolah maupun anak-anak.

Foto: Dok Pribadi/Natera
Saat ini, Capunglam Goes To School masih berfokus pada sekolah dasar. Namun, Capunglam membuka peluang untuk mengembangkan program ini ke jenjang yang lebih tinggi, seperti SMP hingga SMA. Mereka memandang langkah tersebut sebagai kelanjutan alami, bukan target utama dalam waktu dekat.
Kalau dari kecil sudah terbiasa, nanti tinggal dikembangkan,” ujar Adel.
Capunglam tidak menargetkan perubahan instan. Mereka memilih berjalan pelan, tapi konsisten. Mereka percaya kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali akan membentuk pola baru. Di tengah persoalan sampah yang terasa besar dan kompleks, Capunglam Goes To School hadir sebagai pengingat bahwa solusi tidak selalu datang dari teknologi canggih. Terkadang, solusi tumbuh dari poster sederhana, permainan ringan, dan percakapan jujur bersama anak-anak.