PLTMH UMM Manfaatkan Sungai Brantas untuk Irigasi Sawah Tegalgondo

Poster Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Universitas Muhammadiyah Malang yang menggambarkan pemanfaatan aliran sungai sebagai sumber energi listrik terbarukan.
Poster informasi PLTMH Senggaling 1 yang menggambarkan pemanfaatan aliran Sungai Brantas sebagai sumber energi listrik berbasis mikrohidro.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Malang – Bagaimana aliran Sungai Brantas dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik tanpa mengurangi hak air petani, sekaligus menopang irigasi sawah-sawah di Tegalgondo? Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), Universitas Muhammadiyah Malang mengubah energi jatuh air (Energi Kinetik),  Sungai Brantas menjadi listrik yang digunakan untuk mendukung sistem irigasi pertanian di kawasan tersebut.

PLTMH ini berdiri di jalur Sungai Brantas yang melintasi Tegalgondo, Kabupaten Malang. Pembangkit dikelola oleh tim internal kampus dan sejak awal dirancang sebagai infrastruktur energi terbarukan berskala kecil yang terintegrasi langsung dengan kebutuhan lokal. Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Energi Baru dan Terbarukan (P3EBT) UMM, Dr. Ir. Suwarsono, menjelaskan bahwa prinsip utama PLTMH bukan mengambil alih air sungai, melainkan memanfaatkannya sementara sebelum dialirkan kembali.

“Kita hanya memanfaatkan energi jatuh air. Airnya tidak dihabiskan. Setelah memutar turbin, airnya kembali lagi ke saluran irigasi,” ujar Suwarsono saat ditemui tim Natera

Mikrohidro yang Mengikuti Aliran Sungai

Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air skala besar yang identik dengan bendungan masif, PLTMH UMM bekerja dengan prinsip run-off river. Air Sungai Brantas dialirkan melalui saluran menuju turbin dengan tinggi jatuh tertentu, lalu dikembalikan ke jalur irigasi utama. Menurut Suwarsono, pendekatan ini dipilih agar fungsi utama sungai sebagai sumber air pertanian tetap terjaga.

“Yang paling sensitif itu pembagian air. Di sini sudah dihitung. Kebutuhan irigasi petani diprioritaskan, baru sebagian kecil debitnya dimanfaatkan untuk pembangkit,” katanya

Di Tegalgondo, Brantas mengalir ke beberapa jalur irigasi yang mengairi sawah-sawah warga. PLTMH mengambil debit air yang telah disepakati bersama, lalu mengembalikannya ke saluran yang sama. Skema ini memungkinkan listrik dihasilkan tanpa memutus aliran air ke lahan pertanian, sekaligus menjaga hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Listrik untuk Menggerakkan Irigasi

Poster Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Universitas Muhammadiyah Malang yang menggambarkan pemanfaatan aliran sungai sebagai sumber energi listrik terbarukan.
Kepala Pusat Energi Baru UMM, Suwarsono, saat menjelaskan pemanfaatan PLTMH yang mengubah aliran Sungai Brantas menjadi sumber listrik untuk irigasi sawah di Tegalgondo
Foto: Dok Pribadi/Natera

Energi listrik yang dihasilkan PLTMH UMM tidak disalurkan ke jaringan umum, melainkan dimanfaatkan langsung untuk mendukung sistem irigasi. Listrik digunakan untuk menggerakkan pompa air yang membantu distribusi air ke area persawahan, terutama di titik-titik yang sebelumnya sulit dijangkau aliran gravitasi.

“Dulu petani harus pakai listrik PLN untuk memompa air. Biayanya bisa besar. Sekarang, listriknya dari sini dan dipakai bersama,” ujar Suwarsono

Menurutnya, keberadaan PLTMH ini membantu menekan biaya operasional irigasi dan membuat distribusi air lebih merata. Dalam konteks pertanian, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian penting dari sistem produksi pangan terutama saat musim kemarau ketika pasokan air menurun.

Dalam praktiknya, listrik dari PLTMH membantu menjaga ketersediaan air irigasi, terutama di titik-titik sawah yang tidak sepenuhnya terjangkau aliran gravitasi. Dengan pompa yang digerakkan listrik mikrohidro, air dapat didistribusikan lebih merata ke lahan pertanian.

Bagi kawasan pertanian seperti Tegalgondo, irigasi bukan hanya soal air, tetapi juga soal energi. Tanpa listrik, distribusi air menjadi terbatas. PLTMH UMM menghubungkan dua kebutuhan tersebut dalam satu sistem yang saling bergantung.

Dinamika Air dan Tantangan Teknis

Meski relatif ramah lingkungan, pengelolaan PLTMH tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Salah satu isu utama adalah fluktuasi debit Sungai Brantas, terutama pada musim kemarau atau saat hujan ekstrem. Dalam kondisi tertentu, pengelola harus menyesuaikan operasi turbin agar irigasi tetap berjalan.

“Kalau debit turun, kita bisa tutup sementara. Prinsipnya, irigasi dulu yang jalan,” kata Suwarsono

Selain itu, tantangan teknis seperti sedimentasi dan perawatan turbin juga menjadi perhatian. Material yang terbawa arus sungai berpotensi mengganggu kinerja pembangkit jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, pemantauan dan perawatan rutin menjadi bagian penting dari keberlanjutan PLTMH.

Pendekatan ini menegaskan bahwa PLTMH tidak berdiri sebagai sistem yang berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan dinamika sungai dan kebutuhan pertanian. Listrik hanya dihasilkan sejauh tidak mengganggu aliran air ke sawah.

Mikrohidro dalam Peta Transisi Energi

Di tingkat nasional, pembangkit listrik tenaga mikrohidro dipandang sebagai salah satu opsi penting dalam transisi energi, terutama untuk wilayah pedesaan dan kawasan pertanian. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa potensi energi air skala kecil di Indonesia masih besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Pemanfaatan mikrohidro memungkinkan energi diproduksi secara lokal, mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis fosil, serta mendukung aktivitas produktif masyarakat seperti pertanian dan irigasi. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola air dan keterlibatan masyarakat di sekitar sungai.

Energi, Air, dan Pangan

Di Tegalgondo, hubungan antara energi, air, dan pangan terlihat nyata. Aliran Sungai Brantas tidak hanya menghidupi sawah, tetapi juga menggerakkan turbin yang menyediakan listrik agar air tetap bisa dialirkan ke lahan pertanian. Bagi Suwarsono, inilah inti dari pengembangan PLTMH UMM.

“Tujuannya bukan sekadar listrik. Tapi bagaimana air, energi, dan pertanian bisa jalan bareng,” katanya.

Praktik PLTMH UMM menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Di tingkat lokal, energi terbarukan bisa hadir dalam skala kecil, dekat dengan kehidupan warga, dan langsung terasa manfaatnya. Namun satu hal menjadi pengingat yaitu selama sungai tetap mengalir dan terjaga, turbin akan berputar dan sawah pun tetap hidup.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.