Potensi PLTMH di Malang Melimpah, Tapi Realisasi Masih Minim: Apa yang Menghambat?

Kota Malang – Halo Naters! Jika berbicara soal energi terbarukan, Kota Malang sebenarnya berada di posisi yang sangat melimpah dan menguntungkan. Dikelilingi pegunungan, dilalui sungai-sungai besar seperti Brantas, dan memiliki ratusan sumber mata air aktif, wilayah ini menyimpan potensi besar untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).

Namun ironisnya, dari potensi yang melimpah itu, hanya sebagian kecil yang benar-benar terealisasi menjadi pembangkit listrik aktif. Banyak titik air masih berhenti sebagai wacana, studi awal, atau proyek percontohan yang tak berlanjut. Lantas, apa yang sebenarnya menghambat realisasi energi air di Kota Malang?

Air Ada, Tapi Tidak Selalu “Bebas Dipakai”

Secara teknis, prinsip PLTMH tergolong sederhana: memanfaatkan energi jatuh atau aliran air untuk memutar turbin, lalu diubah menjadi listrik. Bahkan dalam wawancara lapangan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), narasumber menegaskan bahwa PLTMH relatif ramah lingkungan.

“Kita hanya memanfaatkan energi jatuh air. Energi potensial berubah jadi energi mekanik yang memutar generator. Tidak menambah emisi dan tidak merusak lingkungan,” jelas Dr.Ir. Suwarsono, Kepala Pusat Pengkaji dan Penerapan Energi Baru dan Terbarukan (P3EBT).

Namun di lapangan, air bukan hanya sumber energi, ia juga sumber kehidupan. Di Kota Malang, satu aliran air bisa melayani irigasi pertanian, kebutuhan rumah tangga, hingga sektor wisata. Ketika PLTMH masuk, sering kali muncul konflik kepentingan.

“Begitu debit air menurun, PLTMH yang masih sering menerima kritik. Padahal airnya dibagi ke banyak sektor. Debit irigasi dialirkan 6000 liter/detik; kebutuhan untuk pengairan sawah 3000 liter/detik dan PLTMH Sengkaling sebesar 1000 liter/detik.” ungkap Dr.Ir Suwarsono.

Kebutuhan debit air yang stabil membuat PLTMH sangat rentan terhadap perubahan distribusi dan musim.

Perizinan dan Tata Kelola Air yang Kompleks

Hambatan berikutnya adalah tata kelola dan perizinan. Meski air tampak sebagai sumber daya alam gratis, pemanfaatannya tetap masuk dalam sistem administrasi yang ketat.

“Kalau memanfaatkan air, tetap ada aturan. Bahkan liter airnya pun dihitung. Jadi bukan sekadar pasang turbin lalu jalan,” ujar Suwarsono.

Untuk proyek skala kecil seperti PLTMH desa atau kampus, proses perizinan yang panjang dan biaya administrasi bisa menjadi penghambat utama sejak awal.

Biaya Awal Tinggi, Balik Modal Lama

PLTMH dikenal murah dalam operasional, tetapi mahal di tahap awal. Biaya pembangunan saluran air, rumah turbin, generator, hingga jaringan distribusi bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Tak heran, banyak PLTMH di Malang lahir dari skema hibah, grant internasional, atau kerja sama riset.

“Beberapa fasilitas awal itu hasil bantuan dan hibah. Kalau murni swadaya, berat,” kata Suwarsono. Tanpa dukungan pendanaan awal, banyak rencana PLTMH berhenti di tahap desain.

Tantangan Teknis dan Hubungan dengan PLN

Masalah lain muncul ketika listrik hasil PLTMH ingin disalurkan ke jaringan nasional. Skema on-grid membutuhkan standar teknis tertentu, kesepakatan tarif, serta proses sinkronisasi dengan sistem PLN.

Bagi PLTMH kecil, proses ini sering kali terasa tidak sebanding dengan kapasitas listrik yang dihasilkan. Akibatnya, banyak PLTMH hanya digunakan secara off-grid dan terbatas pada komunitas tertentu.

Bukan Soal Potensi, Tapi Ekosistem

Jika dirangkum, minimnya realisasi PLTMH di Kota Malang bukan karena kekurangan air, melainkan karena ekosistem pendukungnya belum matang. Mulai dari konflik distribusi air, regulasi, pembiayaan, hingga skema bisnis listrik.

Padahal, jika dikelola dengan pendekatan kolaboratif melibatkan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan pengelola irigasi PLTMH bisa menjadi solusi energi bersih yang adil dan berkelanjutan.

“Energi air itu potensinya besar. Tapi harus disepakati bersama sejak awal airnya untuk apa, listriknya untuk siapa, dan manfaatnya dibagi ke siapa,” ujar suwarsono.

Pengembangan PLTMH bukan sekadar soal listrik, tetapi juga tentang ketahanan energi lokal, pengelolaan sumber daya air yang bijak, dan transisi menuju energi bersih. Seperti air yang terus mengalir, upaya ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan arah yang jelas.

Harapan ke Depan

Menurut kaca mata Natera Meski menghadapi berbagai tantangan, PLTMH tetap menyimpan harapan besar. Kabupaten Malang dengan bentang alamnya yang kaya air memiliki modal alam yang tidak dimiliki semua daerah. Jika didukung riset berkelanjutan, kebijakan yang berpihak, serta keterlibatan masyarakat, PLTMH bisa menjadi energi alternatif yang realistis dan berkeadilan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.