
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di mana program eco enzyme ini dilakukan, siapa yang menginisiasi, dan bagaimana prosesnya terjadi?Pembelajaran itu berlangsung di Retrorika, sebuah kafe berkonsep green entrepreneur di Kota Batu, yang mengajak orang tua dan anak mengenal pengolahan limbah organik melalui pembuatan eco enzyme berbahan daun jeruk.
Dari Kafe Bernuansa Retro ke Ruang Belajar Lingkungan
Retrorika mungkin terlihat seperti kafe artistik dengan dekorasi retro, tetapi bagi pendirinya, Bu Ismi, tempat ini sejak awal berdiri pada 2018 memang dirancang sebagai ruang edukasi lingkungan.
“Awalnya kami ingin membuat tempat yang bisa mengajak orang pelan-pelan peduli lingkungan,” kata Bu Ismi, mengingat perjalanan Retrorika dari taman kaktus hingga kini menjadi ruang kreatif berbasis barang bekas dan praktik 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Repair.)
Komitmen itu kemudian berkembang menjadi berbagai program, salah satunya pembuatan eco enzyme dari daun jeruk, yang kini menjadi salah satu sesi edukasi paling diminati.
Enzyme Serbaguna yang Bisa Dibuat dari Limbah Dapur
Eco enzyme bukan hal baru. Formula tiga bulan fermentasi campuran sampah organik, gula, dan air ini populer di berbagai komunitas hijau karena manfaatnya yang luas: mulai dari cairan pembersih, pengusir bau, pengomposan, hingga ramah lingkungan.
Gerakan global ini dipopulerkan Dr. Rosukon dari Thailand, dan kini semakin dikenal sebagai solusi rumah tangga untuk mengurangi sampah organik.
Namun di Retrorika, eco enzyme tidak hanya diproduksi sebagai cairan serbaguna tetapi sebagai media edukasi keluarga, terutama bagi orang tua murid dari program kolaborasi dengan Kelas Harmoni, sebuah kelas edukasi anak.
Kenapa Menggunakan Daun Jeruk? Aromanya yang “Aman” untuk Pemula

Foto: Dok Pribadi/Natera
Saat banyak komunitas membuat eco enzyme dari sisa sayuran atau kulit buah, Retrorika memilih daun jeruk.
Menurut Bu Ismi, ada alasan personal tetapi relevan “Karena aromanya lebih enak. Kalau sayuran baunya kurang nyaman,” ujar Ismi sambil tertawa kecil
Pilihan ini bukan hanya soal preferensi. Daun jeruk juga mengandung minyak atsiri yang memperkaya aroma fermentasi, membuat eco enzyme lebih mudah diterima pemula. Untuk keluarga yang baru belajar memilah sampah, pendekatan ini membuat proses belajar terasa lebih bersahabat.
Eco enzyme inilah yang kemudian digunakan Retrorika untuk dua hal:
- Tambahan pengomposan di area “Retro Plant”, kebun mini milik kafe.
- Kebutuhan rumah tangga Bu Ismi sendiri mulai dari mencuci alat rumah tangga hingga membilas pakaian setelah deterjen
Edukasi yang Menyasar Orang Tua, Aktivitas Motorik untuk Anak
Program eco enzyme ini unik karena dibagi per peran:
- Orang tua mendapat edukasi mengenai pemilahan sampah organik, proses fermentasi, dan manfaat eco enzyme.
- Anak-anak mengikuti aktivitas motorik sederhana: mengupas jeruk, memilah bagian buah, hingga mengenal tekstur daun jeruk.
“Eco enzyme-nya sebenarnya untuk edukasi orang tuanya. Anak-anak itu lebih ke latihan motorik, seperti kupas jeruk dan pilah sampah,” jelas Bu Ismi
Pendekatan ini selaras dengan riset Waste Education for Families oleh UNEP (2021), yang menyebut bahwa edukasi lingkungan paling efektif ketika melibatkan orang tua dan anak secara bersamaan, karena kebiasaan rumah tangga berubah melalui contoh, bukan hanya instruksi.
Retrorika menerapkannya secara langsung, bukan lewat modul kaku, tetapi melalui pengalaman praktis yang menyenangkan.
Edukasi di Sekolah dan Kunjungan Balik ke Retrorika
Program eco enzyme ini tidak hanya dilakukan di dalam kafe.
Retrorika juga datang ke sekolah-sekolah ketika diminta, termasuk SMPK Tunas Bangsa dan sekolah-sekolah di Batu.
“Kami sering diminta ngajar ke sekolah. Biasanya harus janjian dulu,” kata Bu Ismi
Selain itu, banyak sekolah datang langsung ke Retrorika untuk belajar pemilahan sampah dan praktik eco enzyme, sebuah bentuk learning trip yang kini semakin populer sebagai kurikulum ko-kurikuler.
Aktivitas siswa biasanya mencakup:
- pengenalan konsep sampah organik dan anorganik,
- memilah sampah yang disediakan,
- praktik membuat kerajinan kecil dari limbah,
- hingga sesi diskusi ringan mengenai keberlanjutan.
Beberapa sekolah yang datang bahkan berasal dari luar Jawa Timur, menunjukkan bahwa praktik sustainability Retrorika sudah dikenal luas melalui komunitas dan jejaring edukasi.
Eco Enzyme untuk Mengurangi Residu Dapur
Retrorika terkenal sebagai kafe yang hanya menyisakan 15% residu sampah angka yang sangat kecil untuk sebuah bisnis kuliner.
Limbah organik mereka dipilah menjadi dua:
- sisa makanan untuk pakan ternak,
- daun-daunan untuk kompos.
Sisanya diproses dengan eco enzyme atau EM4 untuk menjaga kualitas kompos
Konteks ini penting, mengingat 80% sampah organik Indonesia berasal dari sektor kuliner, menurut KLHK (2024).
Dengan kata lain, perubahan kecil di dapur sebuah kafe bisa berdampak besar jika diterapkan secara konsisten.
Edukasi yang Tumbuh dari Komunitas, Bukan Tren
Retrorika tidak memasang tarif mewah untuk edukasi ini. Program berlangsung dengan pendekatan komunitas pelan, konsisten, dan tidak seremonial.
Sebagian peserta kembali mempraktikkan eco enzyme di rumah, sebagian mulai memilah sampah sehari-hari. Yang penting bagi Bu Ismi bukan seberapa cepat perubahan terjadi, tetapi seberapa jujur perubahan itu dimulai.
“Yang penting pelan-pelan sadar. Nggak harus langsung sempurna,” ujarnya.
Di tengah derasnya lifestyle ramah lingkungan yang sering tampak sekadar tren, program eco enzyme Retrorika mengingatkan bahwa perubahan paling nyata justru lahir dari ruang-ruang kecil seperti dapur rumah, meja kopi, dan obrolan santai antara orang tua dan anak.