
Foto: Dok Pribadi/Natera
Seragam itu sudah tidak lagi dipakai. Warnanya kusam, bagian siku mulai menipis, dan saku depannya menyimpan bekas noda yang tak pernah benar-benar hilang. Setiap tahun, seragam seperti ini bertambah. Bukan satu, bukan dua melainkan puluhan, bahkan ratusan, dari para pekerja tambang yang rutin menerima seragam baru.
“Setiap tahun mereka ganti seragam. Yang lama sebenarnya masih bagus, tapi ya tidak mungkin dipakai lagi,” ujar Ardhiana Malrasari penggagas program pengumpulan seragam bekas pekerja tambang ini
Di sinilah persoalan bermula. Di balik disiplin industri tambang, ada satu hal yang jarang dibicarakan, ke mana perginya seragam-seragam lama para pekerja tambang.
Ketika Seragam Lama Mulai Menumpuk
Bagi pekerja tambang, seragam bukan sekadar pakaian kerja. Ia bagian dari standar keselamatan dan identitas perusahaan. Namun setelah masa pakainya selesai, seragam-seragam ini kehilangan fungsi dan sering kali berakhir menumpuk di lemari, gudang, atau bahkan langsung dibuang.
Masalahnya, seragam tambang dibuat dari bahan kuat dan tebal. Artinya, ia tidak mudah rusak dan juga tidak mudah terurai jika dibuang.
“Kalau ukurannya standar, kadang masih bisa dikasihkan. Tapi kalau big size, ya tidak mungkin. Akhirnya disimpan, lalu menumpuk,” ujar Ardhiana
Tumpukan itulah yang kemudian memicu ide sederhana, bagaimana jika seragam-seragam ini dikumpulkan secara sistematis, bukan dibuang satu per satu.
Program Pengumpulan Seragam Bekas Pekerja Tambang
Program ini berjalan melalui kerja sama dengan perusahaan tambang di Kalimantan. Setiap kali ada pergantian seragam atau rebranding, perusahaan membuka pengumpulan seragam lama dari para pekerja.
“Biasanya mereka bikin pengumuman: seragam lama dikumpulkan di satu titik. Setelah itu dikirim ke kami,” jelasnya
Seragam-seragam yang terkumpul datang dalam kondisi beragam. Ada yang masih rapi, ada yang penuh noda kerja lapangan. Namun prinsipnya satu yaitu tidak ada yang langsung dibuang.
Pengumpulan ini menjadi cara untuk menghentikan alur limbah sejak awal sebelum seragam berubah status menjadi sampah tekstil.
Proses Pemilahan, Menentukan Mana yang Masih Bisa Diselamatkan
Setibanya di tempat pengolahan, seragam-seragam ini tidak langsung diolah. Langkah pertama adalah pemilahan berdasarkan dua hal utama, tingkat kekotoran dan ukuran.
“Kalau terlalu kotor, kita pisahkan dulu. Yang masih bisa dibersihkan, kita treatment sendiri,” katanya.
Bau oli menjadi tantangan terbesar. Beberapa seragam harus dicuci dengan perlakuan khusus agar benar-benar bersih dan aman digunakan kembali.
Setelah itu, seragam dibongkar satu per satu. Kancing dilepas. Benang ditarik. Label dan reflektor dipisahkan.
“Benang dan kancing itu kita kumpulkan. Prinsipnya sebisa mungkin tidak dibuang, meskipun belum semuanya bisa dimanfaatkan sekarang,” ujarnya
Menghentikan Seragam Bekas Berakhir di Tempat Sampah
Inti dari program ini bukan sekadar mengolah ulang, tetapi menghentikan alur buang-pakai-buang yang selama ini terjadi di industri.
“Kalau seragam ini dibuang, dia akan jadi sampah. Padahal bahannya masih kuat. Sayang,” katanya.
Dengan program pengumpulan ini, seragam-seragam bekas pekerja tambang tidak lagi berakhir di TPA atau dibakar. Mereka dialihkan ke jalur baru jalur pemanfaatan ulang yang lebih panjang.