
Foto : Dok Pribadi/Natera
Pelestarian budaya kerap kali hadir lewat pameran di bangunan megah atau perayaan seremonial. Namun bagi Ahmad Redam Sunalis, budaya justru bisa hidup dari limbah yang sering luput dari perhatian kita.
Di Desa Jatinom, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Sunalis memanfaatkan abu residu pembakaran sampah sebagai medium berkarya untuk merangkai ikon budaya lokal, Candi Penataran.
Mimpi Sunalis di Candi Penataran
Perjalanan Sunalis mengolah abu residu pembakaran sampah sebagai medium berkarya bermula dari sebuah mimpi. Dalam mimpinya, ia mencetak batako sebagai material bangunan seperti biasa, tetapi yang ia cetak adalah bangunan Candi Penataran.
Mimpi itu terasa aneh namun membekas. Suatu kebetulan terjadi di keesokan harinya, ada sebuah peristiwa kecil yang seolah menjawab mimpinya.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Waktu pemilahan sampah nemuin candi fiberglass itu pecah, saya sambung pake kawat, saya benahin.”
Saat temannya memilah sampah, ia menemukan miniatur candi dari fiberglass dalam kondisi pecah. Sunalis mengambilnya, lalu menyambung bagian yang rusak menggunakan kawat.
Setelah bentuknya kembali utuh, Ia membawa miniatur tersebut ke rumah cetakan cor-coran. Dari sanalah ide membuat cetakan candi muncul dan terus berlanjut hingga sekarang.
“Udah jadi, saya bawa ke tempat cetakan teman kami yang biasa bikin cor-coran rumah. Akhirnya dibuat cetakannya itu.”
Karya dari Abu Residu
Sunalis mulai membuat replika Candi Penataran dari abu pembakaran residu ini saat dirinya masih bekerja di TPST sejak 2014. Namun kini, ia bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten sebagai petugas kebersihan di ruang terbuka hijau.
Pengalaman panjang bergelut dengan sampah membentuk caranya memaknai sebuah karya. Baginya, nilai karya tidak berhenti pada bentuk fisik.
“Orang membeli bukan karena produknya, tetapi karena karya.” Kalimat itu menjadi prinsip yang ia pegang saat menjual hasil kerajinannya.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Karya ini Ia pasarkan di kantor desa, namun Ia tetap melayani langsung warga sekitar yang ingin membeli. Penjualan ini baginya sekaligus jadi sarana menyampaikan pesan moral.
“Jadi hampir setiap desa di Kecamatan Kanigoro sudah ada miniatur candi buatan saya,” ujar Sunalis.
Tak hanya di Kanigoro, karya Sunalis juga telah tersebar ke beberapa kecamatan lain, seperti Talun, Garum, dan Sanankulon.
Terlebih, di Kabupaten Blitar, Candi Penataran menjadi salah satu simbol daerah. Karena itu, ikon budaya sudah seharusnya hadir dan mudah ditemui di ruang publik.
“Jadi masa seandainya ga mau masarin atau beli ya kebangetan soalnya kan ini ikon budayanya.” Kalimat itu mencerminkan kegelisahannya melihat budaya kerap terpinggirkan.
Nyalakan Kembali Lentera Sejarah
Upaya Sunalis tidak selalu berjalan mulus. Ia sering bersilaturahmi ke kantor dan rumah warga, tetapi tidak semua orang menerima karyanya. Namun, ia tetap berjalan membawa harapan.
“Siapa tau dengan apa yang saya torehkan ke kantor desa itu bisa manginspirasi petugas sampah lurah.”
Lebih dari sekadar kerajinan, Sunalis ingin menanamkan kembali nilai budaya dan sejarah. Baginya, sejarah harus tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia percaya, bahwa budaya bisa hidup jika terus dikenalkan.
“Saya ingin tanamkan kembali, saya hidupkan lenteranya.”
Jika memiliki cukup dana, Sunalis ingin membeli alat untuk mengembangkan karyanya. Ia berencana membuat tempat bolpoin dan gantungan kunci berikon Candi Penataran.
“Jadi nanti buat kenalin nilai-nilai sejarah kembali biar hidup.” Produk-produk itu ia bayangkan sebagai media edukasi untuk anak-anak TK dan SD.
Melalui limbah, Sunalis merawat ingatan budaya. Dari abu residu, ia menyalakan kembali lentera sejarah, perlahan namun penuh keyakinan.