
Foto: Trash Hero
Malang – Halo Naters! Di balik citra Kota Malang yang sejuk dan asri, persoalan sampah masih terus membayangi. Setiap musim hujan, tumpukan plastik, sisa makanan, hingga limbah sekali pakai kembali muncul ke permukaan menandakan bahwa masalah sampah belum benar-benar selesai.
Di tengah situasi itu, sekelompok warga memilih tidak tinggal diam. Tanpa seragam khusus dan tanpa imbalan, mereka berkumpul di akhir pekan, memungut sampah satu per satu. Mereka adalah relawan Trash Hero Tumapel. Bagi komunitas ini, relawan bukan sekadar tenaga bantuan, melainkan jantung yang menjaga gerakan tetap hidup.
Bergerak dengan Kesadaran
Trash Hero Tumapel tidak membangun gerakan relawan secara spontan tanpa arah. Mereka menggunakan pendekatan organisasi lingkungan untuk memastikan keberlanjutan gerakan.
“Untuk relawannya memang kami pakai pendekatan organisasi lingkungan. Ada semacam open recruitment,” ujar salah satu penggerak Trash Hero Tumapel.
Relawan inti yang ingin terlibat lebih jauh tidak langsung diterjunkan. Ada proses pendaftaran, screening, hingga masa orientasi agar setiap orang memahami nilai dan arah gerakan.
Meski begitu, Trash Hero Tumapel tetap membuka ruang bagi relawan individu yang ingin terlibat secara fleksibel. Pada kegiatan tertentu, relawan bisa langsung datang dan bergabung melalui informasi yang dibagikan di media sosial. Sistem ini membuat gerakan tetap inklusif tanpa kehilangan struktur.
Semua Bisa Jadi Relawan
Keberagaman menjadi salah satu kekuatan utama Trash Hero Tumapel. Komunitas ini tidak membatasi siapa yang boleh terlibat. Usia, latar belakang pendidikan, maupun profesi bukan menjadi syarat utama. Yang dicari hanya satu kemauan untuk peduli dan bergerak.
“Relawan inti itu mulai SMA sampai dosen itu ada,” ungkap salah satu penggerak Trash Hero Tumapel.
Keberagaman ini menuntut pengelolaan yang rapi di lapangan. Agar relawan terutama yang baru pertama kali ikut tidak merasa canggung atau kebingungan, Trash Hero Tumapel selalu memberikan informasi sejak awal. Mulai dari titik kumpul, jenis kegiatan, hingga perlengkapan yang perlu dibawa sudah disampaikan sebelum hari-H. Relawan dianjurkan membawa tumbler sendiri sebagai upaya mengurangi sampah sekali pakai, serta mengenakan sepatu yang sesuai dengan medan, terutama untuk aksi di sungai atau pantai yang licin dan tidak rata.
Sebelum aksi dimulai, briefing menjadi agenda wajib. Di momen inilah relawan dikumpulkan, diperkenalkan pada alur kegiatan, serta diberi arahan keselamatan. Pembagian tugas dilakukan agar kerja di lapangan lebih efektif dan tidak saling tumpang tindih.
Ratusan Orang, Satu Gerakan
Peran relawan paling terasa ketika Trash Hero Tumapel menggelar aksi berskala besar. Pada momen-momen inilah denyut gerakan terlihat jelas bukan hanya dari tumpukan sampah yang berhasil diangkut, tetapi dari jumlah orang yang rela hadir dan bekerja bersama di ruang yang sama.
Salah satu peristiwa yang paling membekas terjadi pada akhir 2018, jauh sebelum komunitas ini berkembang seperti sekarang. Saat itu, sebuah aksi bersih-bersih digelar di kawasan pantai sekitar Balekambang. Antusiasme warga melampaui perkiraan.
“Yang paling banyak itu dulu akhir 2018. Pernah di pantai, sekitar 400-an,” kenang salah satu penggerak Trash Hero Tumapel.
Pantai yang biasanya hanya dipenuhi wisatawan berubah menjadi ruang kolaborasi warga. Ratusan relawan menyebar di garis pantai, memungut sampah yang terseret arus laut dan tertinggal di pasir. Suasana gotong royong terasa kuat orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bekerja berdampingan, disatukan oleh kepedulian yang sama terhadap lingkungan.
Momen itu menjadi penanda penting bahwa isu sampah bukan persoalan segelintir orang. Ia adalah masalah bersama, dan ketika ruang partisipasi dibuka, respons warga bisa sangat besar.
Bagi Trash Hero Tumapel, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Yang lebih penting adalah keberlanjutan keterlibatan relawan. Ada mereka yang hanya sekali ikut karena rasa ingin tahu, ada yang kembali berulang kali, dan ada pula yang perlahan menjadi bagian inti komunitas. Dari sinilah gerakan bertumbuh secara organik pelan, tapi konsisten.
Di tengah persoalan sampah yang terus membayangi Kota Malang dan sekitarnya, Trash Hero Tumapel menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu menunggu kebijakan besar atau proyek berskala nasional. Ia bisa dimulai dari kumpulan orang biasa yang memilih untuk hadir. Selama relawan terus datang dan bergerak bersama, jantung itu akan tetap berdetak menjaga harapan akan lingkungan yang lebih bersih dan lebih adil bagi semua.