
Foto: Trush Hero Tumapel
Di pinggir sungai Malang Raya, perubahan tidak datang lewat slogan besar atau janji politik. Ia tumbuh dari langkah-langkah kecil, relawan yang turun ke sungai, warga yang ikut memungut sampah, dan obrolan sederhana tentang lingkungan yang lebih layak. Dari ruang inilah Trash Hero Tumapel merawat harapan tentang masa depan tanpa krisis sampah.
Trash Hero Tumapel merupakan bagian dari Trash Hero World, gerakan lingkungan global yang bermula di Swiss dan berkembang di Indonesia. Di Jawa Timur, Trash Hero Tumapel menjadi salah satu chapter yang konsisten bergerak sejak berdiri pada 2018. Fokusnya sederhana namun krusial, mengurangi sampah, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mendorong perubahan sistem pengelolaan lingkungan. Di pinggir sungai Malang Raya, perubahan tidak datang lewat slogan besar atau janji politik. Ia tumbuh dari langkah-langkah kecil, relawan yang turun ke sungai, warga yang ikut memungut sampah, dan obrolan sederhana tentang lingkungan yang lebih layak. Dari ruang inilah Trash Hero Tumapel merawat harapan tentang masa depan tanpa krisis sampah.
Trash Hero Tumapel merupakan bagian dari Trash Hero World, gerakan lingkungan global yang bermula di Swiss dan berkembang di Indonesia. Di Jawa Timur, Trash Hero Tumapel menjadi salah satu chapter yang konsisten bergerak sejak berdiri pada 2018. Fokusnya sederhana namun krusial, mengurangi sampah, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mendorong perubahan sistem pengelolaan lingkungan.
Gerakan Lingkungan yang Tumbuh Bersama Anak Muda
Wajah Trash Hero Tumapel hari ini didominasi anak muda. Pasca pandemi, mahasiswa dan pelajar menjadi motor utama gerakan ini. Relawan inti memang hanya sekitar 9 sampai 11 orang, tetapi setiap kegiatan mampu menarik 100 hingga 200 partisipan. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, warga sekitar, hingga dosen ikut turun ke lapangan.
Salah satu aksi yang cukup besar digelar di Singosari, Kabupaten Malang. Sekitar 150 orang terlibat dalam kegiatan bersih sungai dan penanaman pohon. Kolaborasi lintas komunitas dan dukungan warga menjadi bukti bahwa isu sampah bukan lagi masalah segelintir aktivis, melainkan persoalan bersama.
“Relawan inti kami itu sedikit, tapi yang datang saat kegiatan bisa ratusan. Yang paling muda kelas 12 SMA, yang paling tua dosen,” ujar Basil, Ketua Trash Hero Tumapel sejak 2022.
Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih
Trash Hero Tumapel bergerak dengan tiga prinsip utama yaitu We Clean, We Educate, We Change. Bersih-bersih lingkungan menjadi langkah awal untuk menarik perhatian. Setelah itu, edukasi dilakukan secara berkelanjutan mulai dari sekolah, kampus, hingga warga bantaran sungai. Tahap terakhir adalah mendorong perubahan kebijakan publik, terutama terkait pengelolaan sampah dan pembatasan plastik sekali pakai.
Di lapangan, tantangan terbesar datang dari kondisi sungai di Malang yang curam dan licin. Sampah yang ditemukan pun tidak ringan. Pampers menjadi jenis sampah paling sulit ditangani karena tidak bisa dipilah dengan mudah. Selain itu, limbah kemasan makanan, minuman, dan fast fashion juga mendominasi temuan, terutama di sungai dan ruang publik.
Brand Audit dan Langkah Preventif
Setiap sampah yang dikumpulkan tidak hanya dibuang. Trash Hero Tumapel melakukan penimbangan, pemilahan, dan pencatatan melalui sistem brand audit. Data tersebut dikirim ke pusat sebagai bagian dari upaya global menekan produsen agar lebih bertanggung jawab terhadap limbah yang mereka hasilkan.
Namun, bagi Trash Hero Tumapel, bersih-bersih bukan solusi akhir. Fokus utama mereka adalah langkah preventif. Membersihkan sungai hari ini tidak akan berdampak jangka panjang jika sistem pengelolaan sampah tetap bermasalah. Karena itu, edukasi dan advokasi kebijakan menjadi bagian penting dari perjuangan mereka.
Memahami Warga Bantaran Sungai, Bukan Menyalahkan
Trash Hero Tumapel memilih pendekatan yang humanis. Mereka memahami bahwa banyak warga bantaran sungai sebenarnya sudah sadar bahwa membuang sampah ke sungai itu salah. Masalahnya, sering kali tidak ada pilihan lain. Akses pengangkutan sampah terbatas, lahan sempit, dan fasilitas yang minim membuat sungai menjadi tempat pembuangan terakhir.
“Masyarakat itu sebenarnya tahu, tapi mereka sering kali tidak punya opsi. Akses pengangkutan sampah terbatas, lahannya sempit, fasilitasnya minim,” ujar Basil.
Alih-alih menyalahkan, Trash Hero Tumapel hadir sebagai fasilitator. Setelah aksi bersih sungai, relawan kerap kembali berkomunikasi dengan warga untuk membahas kondisi lingkungan. Mereka juga memberikan edukasi pengolahan sampah organik, seperti metode kompos Takakura yang cocok untuk rumah dengan lahan terbatas dan minim bau.
Kolaborasi, Konsistensi, dan Harapan Jangka Panjang
Gerakan Trash Hero Tumapel tidak berjalan sendiri. Mereka rutin berkolaborasi dengan komunitas lingkungan lain, sekolah, kampus, hingga instansi pemerintah. Pendanaan kegiatan pun berasal dari iuran anggota, tanpa skema bisnis besar atau target viral di media sosial.
Bagi Basil, ketua Trash Hero Tumapel sejak 2022, perubahan sosial tidak selalu datang cepat. Ia percaya pada keteladanan dan konsistensi. Selama aksi kecil terus dilakukan, perubahan akan muncul dengan sendirinya.
Trash Hero Tumapel mungkin tidak bisa membersihkan semua sungai di Malang. Namun, dari komunitas ini, tumbuh satu pesan penting: ketika anak muda dan masyarakat mau bergerak bersama, harapan bukan lagi sekadar wacana. Ia hadir nyata mengalir pelan, tapi terus bergerak, seperti sungai yang sedang mereka perjuangkan.