
Foto: iLitterlessindonesia.org
Industri kecantikan sedang berada di puncak popularitasnya. Dari serum hingga sunscreen, dari lip tint hingga body lotion, rutinitas perawatan diri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup generasi muda. Namun di balik kulit glowing dan kemasan estetik yang memenuhi rak kamar mandi, kita jarang mempertanyakan ke mana semua botol, tube, dan kemasan itu pergi setelah isinya habis.
Bagi iLitterless, organisasi pengelola sampah berbasis komunitas di Malang, limbah kecantikan justru menjadi salah satu potret paling jujur dari pola konsumsi masyarakat urban. Dari pengalaman mereka menerima setoran sampah warga, botol skincare, body care, dan make up semakin sering muncul dan sering kali dalam kondisi kotor serta tercampur residu.
“Jenis sampah yang disetorkan itu sebenarnya menggambarkan apa yang kita konsumsi,” ujar Nina, tim Education iLitterless.
Jika dari kafe dominan kotak susu dan cup minuman, maka dari rumah tangga dan anak kos, limbah kecantikan menjadi salah satu yang paling menonjol.
Mobi Girl: Recycling Station Khusus Limbah Kecantikan
Keresahan itu mendorong iLitterless melahirkan Mobi Girl, sebuah dropbox khusus khusus untuk menampung sampah skincare, body care, dan make up. Berbeda dengan tempat sampah konvensional, Mobi Girl tidak hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi menjadi bagian dari sistem edukasi dan perubahan perilaku yang iLitterless bangun.
iLitterless mengembangkan Mobi Girl sebagai seri terbaru dari rangkaian recycling station Mobi, setelah sebelumnya menghadirkan Mobi RS untuk botol plastik dan Mobi Plate berbahan HDPE. Kehadiran Mobi Girl menjawab satu kebutuhan spesifik, bagaimana mengelola limbah kecantikan yang semakin meningkat seiring tren self-care.
Untuk menjangkau generasi muda, Mobi Girl dikemas dengan pendekatan yang berbeda. Ia hadir melalui tiga karakter Luma, Hana, dan Kira yang masing-masing ditempatkan di ruang-ruang berbeda seperti beauty space, area olahraga, hingga kafe. Pendekatan ini sengaja dibuat agar terasa lebih dekat, lebih ringan, dan lebih mudah diterima.
“Kami ingin edukasi itu fun, tidak menggurui, dan terasa seperti dari teman,” kata tim
Dengan cara ini, memilah sampah tidak lagi hadir sebagai kewajiban moral semata, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup.
Lebih dari itu, Mobi Girl juga membawa mekanisme reward untuk mendorong partisipasi. Setiap orang yang menyetor sampah skincare, body care, atau make up ke Mobi Girl bisa mengikuti kampanye dengan mengunggah story di Instagram menggunakan template iLitterless dan menandai akun mereka. Sebagai apresiasi, iLitterless akan mengirimkan voucher reward langsung melalui direct message Instagram para pengguna.
Skema ini sejalan dengan strategi iLitterless yang sejak awal mengandalkan pendekatan insentif. Dalam acara tahunan Green Consumer Day, misalnya, warga yang menyetor sampah mendapat imbalan berupa kopi gratis di kafe mitra. Bagi iLitterless, pengalaman yang menyenangkan memudahkan perubahan perilaku untuk tumbuh.
Perubahan mulai terlihat ketika iLitterless mencatat peningkatan kualitas sampah skincare yang disetorkan pengunjung. Jika dulu banyak botol masih berisi sisa produk dan label menempel, kini semakin banyak orang mencuci bersih dan melepas labelnya sebelum menyetor. Hal Ini menunjukkan bahwa kesadaran tidak hanya muncul saat mau menyetor, tetapi juga bagaimana cara mereka menyiapkan sampah agar benar-benar siap diproses.
Merawat Diri Tanpa Meninggalkan Luka pada Bumi
Di tengah industri kecantikan yang terus memproduksi kemasan baru, Mobi Girl hadir sebagai intervensi kecil yang berdampak besar. Ia menghubungkan rutinitas merawat diri dengan tanggung jawab ekologis, tanpa harus mengorbankan kenyamanan atau gaya hidup.
Karena pada akhirnya, merawat diri dan merawat bumi seharusnya tidak berada di dua sisi yang berseberangan. Melalui Mobi Girl, iLitterless membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai bahkan dari satu botol serum kosong.