
Foto: iLitterless
Pagi itu, di sudut dapur sebuah kafe di Kota Malang, tumpukan kotak susu bekas berdiri rapi di pojok ruangan. Tidak berbau, terlipat, dan tampak aman. Namun justru dari benda-benda inilah cerita tentang budaya konsumsi bermula. Bukan dari menu yang dipesan pelanggan, melainkan dari sisa yang ditinggalkan setelahnya.
Di balik rutinitas ngopi, pesan minuman manis, dan nongkrong berjam-jam, ada jejak konsumsi yang jarang diperhatikan. iLitterless, sebuah inisiatif pengelolaan sampah berbasis edukasi dan penjemputan terpilah, membaca jejak itu melalui sampah yang mereka terima setiap hari. Mayoritas bukan sisa makanan, melainkan kemasan kotak susu UHT, gelas plastik, botol minuman, hingga bungkus produk perawatan diri. Sampah-sampah ini menjadi semacam catatan harian gaya hidup urban cepat, praktis, dan berlapis kemasan.
Kotak Susu dan Konsumsi yang Seragam
Kotak susu menjadi simbol paling kentara. Hampir semua kafe menggunakannya, dan hampir tak ada yang benar-benar memikirkan kemana ia pergi setelah kosong. Dari luar tampak seperti karton biasa, padahal kemasan ini tersusun dari beberapa lapisan kertas, plastik, dan aluminium yang membuatnya sulit didaur ulang. Di banyak kota, kotak susu dianggap tak punya nilai ekonomi dan berakhir di TPA.
“Jenis sampah yang disetorkan ke kami itu sebenarnya menggambarkan apa yang dikonsumsi teman-teman,” ujar Nina Amelia. Ia menyebut, dari kafe sebagian besar yang terkumpul adalah kotak susu dan gelas minuman, sementara dari rumah tangga dan kos-kosan didominasi kemasan plastik dan produk perawatan diri. “Dari situ kelihatan, konsumsi kita sehari-hari itu seperti apa.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa sampah bukan sekadar residu, melainkan refleksi dari pola konsumsi yang seragam dan masif. Ketika hampir semua kafe bergantung pada susu UHT dan kemasan sekali pakai, tumpukan sampah menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Rumah, Kos, dan Gaya Hidup Praktis
Cerita yang sama berlanjut di level individu. Botol skincare yang sudah dicuci bersih, berdatangan ke iLitterless. Menariknya, seiring waktu kondisi sampah yang disetor justru semakin rapi bersih, terpilah, bahkan labelnya dilepas.
Menurut Nina, ini menunjukkan adanya perubahan perilaku. “Awalnya banyak yang setor dengan kondisi masih ada residu. Tapi sekarang, skincare botolnya benar-benar bersih, kadang labelnya juga dilepas. Artinya ada proses belajar.” Namun ia juga menggarisbawahi bahwa perubahan ini belum tentu menyentuh akar persoalan. Konsumsi tetap berjalan, hanya pengelolaannya yang lebih tertib.
Sampah sebagai Kritik Diam
Di titik ini, kritik terhadap budaya konsumsi menjadi relevan. Banyak kampanye lingkungan berhenti pada ajakan memilah dan menyetor, tanpa menyoal mengapa kemasan sekali pakai begitu mendominasi. iLitterless membaca fenomena ini secara jujur, sampah yang mereka terima adalah cermin dari sistem produksi dan konsumsi.
“Produsen itu berperan besar. Banyak produk yang dari awal sudah didesain dengan kemasan berlapis dan sulit didaur ulang,” kata Nina. Ia menilai, selama industri masih mengandalkan kemasan praktis tanpa memikirkan daur hidupnya, beban akan terus jatuh ke konsumen dan pengelola sampah di hilir.
Laporan bulanan yang dikirimkan iLitterless ke kafe mitra bahkan sering memunculkan refleksi lain. Ada pengelola kafe yang menyadari volume sampahnya menurun seiring turunnya penjualan. Sampah, dalam hal ini, menjadi indikator ekonomi konsumsi diam, tetapi jujur.
Anak Muda di Tengah Sistem
Sebagian besar penyetor aktif datang dari kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Mereka hidup dalam sistem yang membuat konsumsi instan terasa wajar. Ngopi sambil setor sampah, dapat voucher, atau ikut kampanye yang fun memang efektif menarik partisipasi. Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung, apakah kita sedang mengurangi sampah, atau hanya merapikan jejak konsumsi?
Bagi iLitterless, edukasi menjadi kunci. “Kalau kita cuma jemput sampah tanpa edukasi, itu nggak akan berhasil,” ujar Nina. Sampah harus dipahami sebagai cerita tentang pilihan, kebiasaan, dan sistem yang lebih besar dari individu.
Menengok ke Pojok Dapur
Pada akhirnya, kritik budaya konsumsi tidak selalu harus lantang. Ia bisa hadir lewat tumpukan kotak susu yang rapi, lewat botol skincare bersih tanpa label, lewat pertanyaan sederhana, dari mana semua ini berasal dan mengapa jumlahnya sebanyak ini?.
Jika sampah adalah bayangan dari apa yang kita konsumsi, maka mengelolanya dengan sadar adalah langkah awal untuk menantang bayangan itu. Di meja kopi, cerita ini akan terus berulang. Tinggal kita memilih, menyesap minuman lalu lupa, atau menengok ke pojok dapur dan mulai bertanya.