
Foto : Dok Pribadi/Natera
Naters, pernah kebayang ke mana perginya sampah setelah truk oranye itu berlalu? Di Kota Malang, penjelasannya hampir selalu sama: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang . Lokasi ini setiap hari menerima ratusan ton limbah rumah tangga. Bau menyengat, antrean truk, dan gunungan sampah membentuk lanskap yang sulit dihindari.
TPA Supit Urang di Kelurahan Mulyorejo menjadi saksi bagaimana kota ini berpacu melawan volume sampah. Setiap hari, limbah terus datang. Gunungan itu tumbuh, meninggi, dan mendekati batas daya tampung. Namun di balik kondisi tersebut, muncul satu harapan besar:
mengubah sampah menjadi energi listrik melalui proyek PSEL .
Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang mencatat timbulnya sampah mencapai sekitar
731 ton per hari pada tahun 2024 . Dari jumlah itu, 400–450 ton berakhir di Supit Urang . Angka ini menjadikan Supit Urang sebagai lokasi paling potensial untuk pengembangan teknologi pengolahan skala besar
“Setiap hari itu truk nggak pernah berhenti, mulai pagi sampai malam masih ada yang masuk,” tutur Arif Dermawan, merujuk pada sosok yang memiliki peran penting dalam pengelolaan TPA Supit Urang di Kota Malang, ketika ditemui di sela aktivitasnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa masif dan konsistennya aliran sampah yang masuk ke lokasi. Justru karena itulah, proyek PSEL dianggap relevan: jika dikelola dengan baik, tumpukan sampah ini bisa diubah menjadi sumber energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Gunungan Sampah dan Ambisi Mengubah Beban Menjadi Energi
Pemerintah pusat sebenarnya telah menetapkan proyek PSEL sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kota Malang menjadi salah satu kandidat kuat karena memiliki kapasitas lahan yang cukup luas dan sistem pengelolaan yang mulai bertransformasi. Menurut ANTARA Jatim (September 2025), Pemkot Malang telah mengusulkan Supit Urang sebagai lokasi penerapan WTE (Waste to Energy) untuk mendukung pengurangan sampah dan pemanfaatan energi terbarukan
Selain menjadi solusi atas masalah penumpukan sampah, proyek ini juga diharapkan bisa mengurangi beban TPA yang hampir mencapai batas daya tampungnya. Dengan dukungan teknologi, sampah yang semula dianggap masalah bisa menjadi sumber daya baru.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Masalah di Hulu: Ketika Sampah Tak Dipilah Sejak Rumah
Namun di lapangan, tak semudah itu. “Masalah paling besar di sini itu justru dari awal: sampahnya belum dipilah,” jelas Arif. Ia mengaku, meski fasilitas di TPA sudah cukup baik, tetapi sistem di hulu yaitu di tingkat rumah tangga dan perkantoran masih menjadi kendala utama.
Sebagian besar sampah datang dalam keadaan tercampur antara organik, plastik, logam, dan residu lainnya. Padahal, teknologi PSEL sangat bergantung pada kualitas dan komposisi bahan baku sampah agar proses pembakaran atau gasifikasi bisa optimal.
Selain tantangan teknis, warga sekitar TPA masih menghadapi dampak sosial. Bau tak sedap, lalat, dan kumpulan lindi muncul terutama saat musim hujan. Proyek besar seperti PSEL berpotensi menimbulkan konflik jika pemerintah mengabaikan aspek sosial.
Arif mengingatkan bahwa solusi sampah tidak bisa berhenti di mesin. Pendidikan masyarakat tetap menjadi kunci. Pemilahan sejak rumah tangga akan menentukan keberhasilan sistem di hilir.
Pengalaman kota lain menunjukkan proyek serupa bisa terhenti jika tata kelola tidak siap. Tanpa koordinasi lintas sektor, investasi besar justru berisiko gagal
Meski begitu, Arif tetap optimis. Ia percaya Supit Urang bisa menjadi contoh pengelolaan modern di Jawa Timur. Namun perubahan harus dimulai dari kebiasaan kecil.
Meski begitu, Arif tetap menyimpan optimisme. “Kalau bisa dikelola dengan baik, sebenarnya TPA ini bisa jadi contoh pengelolaan sampah modern di Jawa Timur,” ujarnya.
Keyakinan itu mungkin sederhana, tapi justru menjadi inti dari gagasan besar ini: bahwa perubahan dimulai dari tata kelola kecil yang konsisten.
Di akhir wawancara, Arif menutup pembicaraan dengan refleksi.
“Sampah itu bukan sekadar kotoran yang dibuang, tapi cermin dari perilaku kita sendiri. Kalau masyarakatnya nggak berubah, seberapa canggih pun alatnya, tetap aja numpuk.” ujarnya
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tak akan berarti tanpa perubahan budaya. Supit Urang kini berada di persimpangan antara krisis dan peluang dan keputusan hari ini akan menentukan apakah gunungan sampah itu tetap menjadi beban, atau berubah menjadi sumber cahaya bagi masa depan Malang.