Kostum dari 1.500 Bungkus Kopi yang Mengantar Juara di Malang

Peraga menampilkan kostum dari bungkus kopi sachet bekas karya Galeri Daur Ulang Malang dalam ajang UMKM Kota Malang 2022
Foto : Info Publik

Sorak sorai memenuhi ruangan saat gaun tersebut melenggang di atas panggung. Kilau kemasannya menangkap cahaya lampu, membentuk siluet menawan yang memikat mata penonton.

Dari kejauhan, gaun itu tampak seperti busana metalik mahal. Tekstur mengilapnya memberi kesan futuristik, seolah terbuat dari bahan eksklusif industri mode.

Namun, jarak dekat mengungkap kejutan lain. Gaun dan rompi itu seluruhnya terbuat dari bungkus kopi sachet bekas, yang nyatanya di Bank Sampah, material ini kerap kali tidak punya nilai jual.

Bungkus Kopi ke Panggung Juara

Karya tersebut mengantarkan Galeri Daur Ulang Malang meraih penghargaan UMKM Kota Malang tahun 2022. Nur Alfiatul Khasanah bersama warga sekitar rumahnya yang mengatur galeri ini.

Penghargaan itu datang dari Lomba Fotografi, Fesyen, dan Kriya. Ajang tersebut menjadi panggung penting bagi inovasi berbasis lingkungan di tingkat kota.

Kostum daur ulang itu bukan sekedar pertunjukan visual. Ia adalah manifestasi perjalanan panjang mengelola bungkus kopi sachet termasuk jenis plastik multilapis yang sulit untuk daur ulang. 

Bungkus Kopi yang Tak Laku di Pasar

“Kan disini tuh banyak yang bungkus kopi yang kecil-kecil itu. Dan kebanyakan yang tidak laku dijual.” Ujarnya kepada Tim Natera menggambarkan realitas pengelolaan sampah di tingkat warga.

Ketika plastik bernilai ekonomi hasil pilah, bungkus kopi sering tersisa. Ia menumpuk, menunggu nasib, tanpa pembeli maupun solusi. Justru dari keterbatasan itulah kreativitas lahir.

Galeri Daur Ulang Malang memilih bertahan dengan pendekatan berbeda. Tim kecil beranggotakan empat orang tetangga mulai bereksperimen. Mereka bekerja di ruang sederhana, dekat dengan sumber sampah.

Nur Alfiatul Khasanah menceritakan proses panjangnya dalam mengolah bungkus kopi sachet bekas, dari sampah tak bernilai hingga menjadi kostum daur ulang berprestasi.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Jadi kita manfaatin aja gitu sih. Ngalir gitu.” Proses kreatif itu berjalan organik, tanpa rancangan megah sejak awal.

Eksperimen dilakukan dengan menganyam, menyusun, dan menjahit sachet satu per satu. Warna dan merek disusun agar membentuk pola visual.

Hasilnya bukan sekadar busana, melainkan pernyataan. Sampah yang dianggap tak berguna berubah menjadi karya panggung.

“Iya, Kalau yang cewek itu sekitar 1500. Kalau Rompinya itu satu baju sekitar 500”. Angka itu menunjukkan skala kerja manual yang dilakukan.

Setiap sachet dibersihkan, diratakan, lalu disatukan. Tidak ada mesin canggih, hanya ketelatenan dan waktu. Pengerjaan satu kostum memakan waktu empat hari hingga seminggu. Durasi bergantung pada ketersediaan bahan dan kondisi cuaca.

Di sela proses, tim juga memilah ulang sampah masuk. Tidak semua bungkus kopi bisa langsung terpakai.

Tantangan di Balik Kilau Panggung

Tantangan utama terletak pada kualitas bahan. Hanya kemasan plastik dengan kondisi terbaik yang terpilih.

“Kalau pas hujan gini loh tantangannya kan mesti basah. Tapi kalau sampahnya basah itu kadang warnanya itu agak rusak.” Cuaca menjadi faktor penentu kualitas visual.

Warna yang pudar bisa merusak komposisi desain. Karena itu, pengeringan dan penyimpanan menjadi tahap krusial.

Kondisi ini menambah waktu kerja. Namun, tim memilih konsisten demi hasil yang layak tampil. Bagi Galeri Daur Ulang Malang, karya ini lebih dari lomba. Tetapi menjadi medium edukasi tentang nilai baru sampah.

Busana itu mengajak publik melihat plastik dari sudut berbeda. Sampah bukan akhir, melainkan awal dari kemungkinan lain, seperti sebuah “karya”.

Di tengah krisis plastik sekali pakai, kisah ini menawarkan harapan. Perubahan bisa lahir dari ide sederhana sekitar kita.

Satu kostum dari 1.500 bungkus kopi membuktikan kreativitas punya daya ubah. Dari Malang, pesan itu bergema ke panggung yang lebih luas.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.