
Kota Malang – Kebiasaan nongkrong di kafe yang terlihat sederhana, ternyata bisa memantik lahirnya sebuah gerakan. Di Malang, iLitterless hadir bukan dari rencana besar sejak awal, melainkan dari pengalaman personal pendirinya yang resah melihat sampah menumpuk baik dari ruang publik maupun dari rumah tangga.
Sampah Kafe Tak Pernah Berhenti
Nina, perwakilan iLitterless, menjelaskan bahwa awal mula iLitterless berangkat dari keresahan founder mereka, Adinda, yang kala itu sering menghabiskan waktu di kafe bersama teman-temannya.
“Dulu awal berdiri memang berangkat dari personalnya si founder kami. Foundernya namanya Adinda,” kata Nina saat wawancara.
Dari rutinitas tersebut, mulai memperhatikan satu hal yang sering luput dari obrolan santai: sampah kafe. Menurut Nina, kesadaran itu muncul karena volume sampah yang terlihat nyata dan berulang.
“Adinda mulai sadar bahwa kok kayaknya sampah kafe itu cukup banyak,” ujar Nina.
Momentum itu semakin terasa ketika memasuki masa pandemi. Nina menuturkan, meski situasi berubah, persoalan sampah tidak ikut mereda.
“Di 2019, kemudian covid, di 2020 itu kan beberapa kafe masih beroperasi. Dan ternyata sampah yang paling besar itu dari kafe,” ungkapnya.
Dari Rumah Tangga ke Gerakan Bersama
Perjalanan personal tersebut lalu berlanjut pada fase yang lebih dekat: rumah. Pada 2021, Adinda menikah dengan Mas Mayeda, yang kemudian menjadi co-founder iLitterless. Nina menggambarkan iLitterless sebagai organisasi yang lahir dari pasangan suami istri dengan keresahan yang sama.
Jika keresahan pertama muncul dari ruang nongkrong, keresahan berikutnya datang dari aktivitas yang lebih sehari-hari: belanja bulanan. Nina menyebut, setelah menikah, mereka menyadari bahwa sampah rumah tangga pun tak kalah besar.
“Mereka habis belanja bulanan, sampah detergen, sampah plastik itu banyak banget,” ucapnya.
Namun titik balik yang benar-benar menguatkan niat untuk bergerak datang dari sebuah pengalaman emosional. Nina bercerita, Adinda pernah menonton dokumenter berjudul Plastic Ocean di Netflix. Film itu menampilkan kisah satwa laut yang mati akibat sampah plastik dan meninggalkan dampak batin yang kuat.
“Di dokumenter itu menceritakan paus bungkuk yang mati karena dia nelan sampah di laut. Di situ ada perasaan emosional yang bikin Adinda mikir, kenapa ya sampai ada makhluk lain yang menanggung akibatnya,” tutur Nina.
Dari momen tersebut, Adinda dan Mas Mayeda mulai mencari langkah yang bisa dilakukan dari lingkungan paling dekat. Mereka mencoba melihat langsung kondisi di TPS (Tempat Penampungan Sementara). Di sana, mereka menemukan realitas yang menurut Nina sangat “mencerminkan”: petugas TPS harus memilah sampah dalam waktu terbatas, sementara volume sampah terus berdatangan.
“Fakta di TPS itu sangat mencerminkan. Pekerja di sana dituntut memilah sampah yang super banyak dalam waktu singkat,” kata Nina.
Dari pengamatan itu, muncul kesadaran baru: memilah sampah seharusnya tidak dibebankan sepenuhnya pada petugas di hilir.
“Adinda dan Mas Mayeda sadar bahwa kalau kita pilah sampah dari rumah itu akan sangat membantu,” lanjut Nina.
Melihat Realitas TPS: Hilir Kewalahan, Hulu Harus Bergerak
Kesadaran itulah yang menjadi akar berdirinya iLitterless, sebuah gerakan yang pada awalnya dimulai dari lingkaran kafe yang mereka kenal. Nina menjelaskan, ide awalnya sederhana: bila sampah kafe besar, maka ajakan perubahan bisa dimulai dari kafe.
“Akhirnya coba bikin gerakan yang berangkat dari teman-teman kafe. Kita ajak orang di lingkungan terdekat, yaitu teman-teman kafe,” ujarnya.
Nama iLitterless pun dipilih sebagai pengingat misi. “iLitterless itu artinya aku minim sampah. Harapannya aku atau teman-teman bisa memproduksi sampah lebih minim daripada biasanya,” kata Nina.
Bagi iLitterless, cerita berdiri ini menjadi penegasan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari hal besar. Kadang, ia bermula dari kebiasaan sederhana nongkrong, belanja, lalu merasa tidak nyaman melihat tumpukan sampah hingga akhirnya memilih bergerak.