
Foto: Dok Pribadi/Natera
Pagi masih basah oleh sisa hujan ketika beberapa warga berjalan pelan di gang sempit permukiman Kota Malang. Di tangan mereka, botol plastik bekas diisi cairan kecokelatan minyak jelantah dari dapur rumah. Bukan untuk dibuang, melainkan untuk disetor. Di sebuah meja sederhana, botol-botol itu disusun rapi, ditakar, lalu dicatat. Dari sinilah cerita setor jadi rupiah bermula.
Dulu, minyak bekas menggoreng tempe atau ayam dianggap selesai begitu saja. Tinggal dibuang ke saluran air. Praktis, tanpa repot. Kini, rutinitas itu berubah. Jelantah disimpan, disaring, dan dibawa ke bank sampah. Nilainya memang kecil, tapi maknanya jauh lebih besar.
Dari Limbah Dapur ke Buku Tabungan
Skema yang diterapkan sebenarnya sangat sederhana. Warga menyetor minyak jelantah minimal satu liter. Syaratnya hanya satu, tidak tercampur air. Setelah itu, jumlahnya dicatat dan dikonversi ke nilai rupiah. Saat ini, nilainya sekitar Rp5.000 per liter, meski pernah lebih tinggi.
Uang hasil setoran tidak selalu langsung diambil. Banyak warga memilih menabung. Tabungan ini biasanya dicairkan saat ada kebutuhan tertentu biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, atau momen-momen besar seperti menjelang Lebaran. Dalam konteks ini, jelantah berfungsi layaknya celengan kolektif yang lahir dari dapur.
Mengubah Kebiasaan, Bukan Sekadar Mengumpulkan Minyak
Perubahan terbesar dari program ini bukan pada jumlah rupiahnya, melainkan pada kebiasaan. Warga mulai berpikir dua kali sebelum membuang minyak bekas. Botol kosong tak lagi langsung masuk tempat sampah. Anak-anak pun ikut terlibat, melihat orang tuanya menyimpan jelantah dan membawanya ke bank sampah.
“Yang paling menantang itu membiasakan,” ujar Nur, salah satu penggerak bank sampah, mengenang masa awal program. Banyak warga sempat ragu, ada pula yang belum paham standar penyetoran. Tapi pelan-pelan, lewat contoh dan obrolan sehari-hari, kebiasaan baru itu terbentuk.
Dampak Kecil yang Terasa Nyata
Dari sisi lingkungan, setiap liter jelantah yang disetor berarti satu potensi pencemar air yang dicegah. Minyak bekas yang dibuang sembarangan bisa merusak tanah dan menyumbat saluran air. Dengan dikumpulkan, risiko itu berkurang.
Bank sampah di sini berperan sebagai titik kumpul. Minyak jelantah yang terkumpul kemudian diambil pihak ketiga untuk diolah lebih lanjut. Pengurus pernah mencoba mengolahnya menjadi sabun dan lilin dalam konteks pelatihan, namun fokus utama tetap pada pengumpulan yang rapi dan berkelanjutan.
Pintu Masuk Menuju Kesadaran Lingkungan
Menariknya, setor jadi rupiah sering menjadi pintu masuk bagi warga untuk terlibat lebih jauh. Mereka yang awalnya hanya menyetor minyak, mulai bertanya soal pemilahan plastik, kardus, hingga aluminium. Dari satu kebiasaan kecil, kesadaran lingkungan berkembang ke aspek lain.
Bank sampah pun berubah fungsi. Ia tak lagi sekadar tempat setor, tetapi ruang temu warga. Ada percakapan, ada saling mengingatkan, dan ada rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar.
Cerita Sederhana yang Terus Berjalan
Di tengah isu besar tentang krisis lingkungan, cerita ini terasa membumi. Tidak ada jargon rumit atau teknologi mahal. Hanya botol bekas, buku catatan, dan komitmen warga untuk konsisten. Selama dapur masih menyala dan minyak masih digunakan, program ini akan terus relevan.
Di gang-gang kecil Malang, jelantah tak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah proses memasak. Ia adalah awal dari tabungan, perubahan kebiasaan, dan bukti bahwa langkah kecil jika dilakukan bersama bisa memberi dampak yang bertahan lama.