Setor Sampah di BSM jadi Rupiah!

Isa, Teller dan Admin BSM saat jelaskan sistem setor sampah tukar rupiah

Bank Sampah Malang (BSM) di Kota Malang menjadi tempat warga menukarkan sampah anorganik menjadi tabungan rupiah untuk kebutuhan sehari-hari sejak berdiri pada 2011. Melalui sistem setor dan penimbangan sampah yang bernilai ekonomi, masyarakat menjadikan limbah rumah tangga sebagai sumber pemasukan tambahan sekaligus solusi lingkungan.

Setiap hari, aktivitas di Bank Sampah Malang (BSM) tak pernah sepi. Warga datang membawa karung berisi botol plastik, kardus, kertas, hingga kaleng bekas. Sampah-sampah itu kemudian ditimbang, dicatat, dan dikonversi menjadi nominal rupiah yang masuk ke buku tabungan masing-masing penyetor. Bagi sebagian warga, kegiatan setor sampah ini telah menjadi rutinitas yang membantu menopang ekonomi harian.

Bank Sampah Malang berdiri pada 15 November 2011 sebagai respons atas persoalan timbulan sampah kota yang terus meningkat. Inisiatif ini berangkat dari kegelisahan pengelola melihat beban tempat pembuangan akhir (TPA) yang kian berat.

 “Waktu itu sampah di Kota Malang terus bertambah, sementara kesadaran masyarakat untuk memilah masih rendah,” ujar Isa, admin dan teller Bank Sampah Malang.

Pada awalnya, konsep bank sampah belum sepenuhnya diterima masyarakat. Banyak warga mengira bank sampah hanya memindahkan tumpukan sampah ke lingkungan permukiman. Namun, melalui sosialisasi berkelanjutan, BSM memperkenalkan sistem menabung sampah anorganik kering yang memiliki nilai jual.

“Kami tekankan bahwa sampah yang disetor itu sudah dipilah dan bersih, sehingga aman dan bernilai,” katanya.

Seiring waktu, jumlah nasabah terus bertambah. Warga dari berbagai latar belakang—ibu rumah tangga, pemulung, hingga pensiunan—menjadi penyetor aktif. Sampah yang sebelumnya dibuang kini dikumpulkan secara terpisah di rumah. Ketika mencapai jumlah tertentu, sampah disetorkan ke BSM dan ditukar dengan nominal sesuai jenis dan beratnya.

“Setiap kilo sampah itu ada harganya, jadi warga bisa langsung melihat hasilnya,” ujar pengelola.

Nilai rupiah dari sampah memang tidak besar dalam sekali setor, namun akumulatif. Bagi sebagian warga, tabungan sampah digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, membayar iuran lingkungan, hingga keperluan sekolah anak.

“Ada warga yang rutin setor sampah setiap minggu karena hasilnya bisa untuk belanja harian,” tuturnya.

Sampah Bisa Dicairkan Jadi Uang Tunai

Selain sistem tabungan, BSM juga melayani pencairan langsung bagi warga yang membutuhkan uang tunai. Skema ini membuat bank sampah semakin relevan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan aset kecil yang bisa diuangkan kapan saja.

“Kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaat ekonominya, supaya semangat memilah sampah terus terjaga,” kata pengelola.

Dari sisi lingkungan, dampaknya signifikan. Setiap bulan, BSM mampu mengelola sekitar belasan ton sampah anorganik yang disetorkan warga. Sampah tersebut kemudian disalurkan ke industri daur ulang atau diolah lebih lanjut. Kebiasaan memilah di tingkat rumah tangga pun tumbuh karena adanya insentif ekonomi.

“Kalau sudah ada nilai rupiahnya, masyarakat lebih disiplin memilah,” ujarnya.

Lebih dari sekadar transaksi, aktivitas setor sampah membentuk kesadaran kolektif. Warga belajar mengenali jenis sampah bernilai, memahami harga pasar, dan bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. BSM berperan sebagai penghubung antara warga dan rantai daur ulang, memastikan sampah dikelola dengan benar dan transparan.

Meski demikian, tantangan tetap ada, mulai dari fluktuasi harga sampah hingga konsistensi partisipasi warga. Namun, BSM terus melakukan edukasi dan pendampingan agar sistem setor sampah tetap berjalan.

“Selama masyarakat masih mau memilah dan setor, bank sampah akan terus hidup,” katanya.

Kisah Bank Sampah Malang menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah bisa berjalan seiring dengan penguatan ekonomi warga. Dari aktivitas sederhana menyetor sampah, rupiah berputar di tingkat rumah tangga. Sampah pun tak lagi berakhir di tempat pembuangan, melainkan menjadi bagian dari siklus ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.