Seven Sec Action di Kopi Nako Ajak Tujuh Detik Untuk Peduli Bumi

Di Kopi Nako, segelas plastik tidak berhenti pada tegukan terakhir. Lewat alat Seven Sec Action, tujuh detik sederhana mengantar gelas menuju perjalanan baru untuk bumi.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Tahukah Naters, di Kopi Nako, gelas plastik tidak berhenti setelah kopi terakhir kamu habis. Dari tanganmu, gelas itu masuk cerita baru yang lebih berarti untuk bumi.

Kopi Nako mengajak pengunjungnya berinteraksi langsung dengan sampah gelas plastik. Ajakan itu hadir lewat alat bernama Seven Sec Action. Hanya tujuh detik, tetapi maknanya panjang.

Seven Sec Action berangkat dari prinsip sederhana. Tanpa pemilahan dan pengolahan, plastik akan terus menjadi sampah selamanya. Prinsip itu Kopi Nako terapkan dalam alur bisnis hariannya.

Pengunjung berperan penting dalam proses tersebut. Mereka menikmati kopi, sekaligus ikut bertanggung jawab pada gelas yang mereka pakai. Semua berlangsung dengan sederhana.

Langkah Seven Sec Action

Langkah pertama dimulai setelah kopi habis. Pengunjung membawa gelas plastik Kopi Nako ke mesin Seven Sec Action. Sisa cairan lalu dituang ke lubang khusus.

Langkah berikutnya, Bibir gelas plastik ditekan ke ujung besi alat. Kemudian air akan menyemprot dan membersihkan bagian dalam serta bibir gelas selama sekitar tujuh detik.

Setelah bilasan selesai, gelas terasa bersih. Pengunjung lalu memasukkan gelas ke keranjang pengumpulan di samping mesin. Proses berhenti di sana, tetapi dampaknya terus berjalan.

Alat ini juga membersihkan penutup gelas. Prinsipnya sama, tekan, bilas, lalu kumpulkan. Semua berlangsung cepat dan intuitif.

satu atau dua gelas di atas meja tampak sederhana, tapi bayangkan jumlahnya dalam satu hari nongkrong. Dari sini, cerita tentang plastik dan tanggung jawab kita mulai layak dipikirkan.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Seven Sec Action bukan ajakan untuk memakai ulang gelas. Rony Rahardian selaku Founder sekaligus COO DBMF yang juga menjadi salah satu perancang utama produk daur ulang Kopi Nako. Baginya, tujuan alat ini tetap pada daur ulang.

“Ada yang bilang bahwa cup-nya dipakai lagi untuk seduh kopi. Tidak. Cup-nya tidak dipakai lagi, dicuci untuk didaur ulang, bukan untuk dipakai lagi untuk minum. Semuanya sekali pakai,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.

Kopi Nako memandang sampah plastik sebagai tanggung jawab internal. Gelas plastik berasal dari gerai Kopi Nako di seluruh Indonesia. Semua kembali ke satu titik pengolahan.

“Kan, semua kopi yang ada di seluruh kafe Kopi Nako itu dikirim dari Bogor. Jadi, mobil boks itu berangkat bawa kopi, pulang bawa sampah plastik,” kata Rony.

Sampah plastik tiba dalam kondisi bersih. Proses bilas sejak gerai membuat pengolahan berjalan lebih efisien. Plastik siap masuk tahap berikutnya tanpa hambatan berarti.

Dari Mesin Bilas ke Gerakan Kolektif

Seven Sec Action hadir sebagai pintu masuk partisipasi publik. Kopi Nako ingin pengunjung merasakan peran langsung dalam siklus daur ulang.

Beberapa gerai Kopi Nako memasang mesin Rinse and Collect secara terbuka. Sehingga pengunjung melihat sendiri alur sampah setelah kopi habis. Transparansi ini membangun kesadaran perlahan.

Kopi Nako berada di bawah PT Jendela Kuliner Bersama dan Kanma Group. Awalnya, perusahaan ini hanya menjual sampah plastik ke pabrik lain. Plastik bekas Kopi Nako sempat dikirim ke Surabaya. Di sana, plastik berubah menjadi panel dinding. Panel itu kemudian terpasang di berbagai ruang.

Namun, Robert Wanasida selaku Chief Marketing Officer and Creative Kanma Group merasa langkah itu belum selesai. Ia ingin produk daur ulang hadir lebih dekat dengan keseharian.

“Kami berharap ini jadi gerakan ke semua, terutama yang bisnis kuliner, supaya mengurangi sampah plastik yang sudah telanjur menggunung,” kata Robert.

Dari sana, gagasan Daur Baur mulai tumbuh. Daur Baur kemudian lahir sebagai ruang eksplorasi. Tidak ada lagi gelas Kopi Nako yang berakhir tanpa arah. Semua masuk alur pengolahan bernilai.

Di Kopi Nako, meja ini lahir dari gelas plastik bekas minuman pengunjung. Lewat Daur Baur Micro Factory, sampah yang semula sekali pakai kini kembali hadir sebagai bagian ruang nongkrong.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Ia membayangkan perubahan skala besar. Jika banyak kedai kopi melakukan hal serupa, plastik tidak lagi menumpuk sebagai masalah. Plastik akan terus berputar dalam siklus baru.

Seven Sec Action menjadi simbol pendekatan tersebut. Waktunya singkat, tetapi mengajak refleksi panjang. Setiap tujuh detik menghubungkan kopi dengan bumi.

Hadir di Malang!

Di Malang, Kopi Nako resmi beroperasi sejak Sabtu, 19 Oktober 2025. Gerai ini buka 24 jam setiap hari. Lokasinya berada di Jalan Sultan Agung No.4, Kiduldalem, Klojen.

Pengunjung Malang kini bisa mencoba Seven Sec Action secara langsung. Setelah kopi habis, mesin menunggu di sudut ruang. Tidak ada alasan untuk melewatkannya.

Kopi Nako menunjukkan bahwa perubahan bisa terasa ringan. Tidak perlu teknologi rumit atau waktu panjang. Cukup tujuh detik setelah kopi terakhir.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.