
Foto: Dok Pribadi/Natera
Bank Sampah Malang (BSM) Sukun tidak hanya menjadi tempat pengumpulan sampah anorganik, tetapi juga membangun sistem pengelolaan berbasis rekening tabungan. Melalui mekanisme setor, pencatatan, hingga penabungan sampah, masyarakat diajak untuk melihat sampah sebagai aset bernilai, bukan sekadar limbah. Sistem ini menjadi salah satu strategi BSM dalam mendorong perubahan perilaku warga terhadap pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan untuk menata alur pengelolaan sampah yang rapi dan transparan, BSM Sukun menerapkan sistem tabungan layaknya perbankan. Warga yang ingin menyetorkan sampah diwajibkan memiliki buku tabungan sampah. Setiap jenis sampah yang disetor akan ditimbang, dicatat, dan dikonversi ke dalam nilai rupiah sesuai kategori dan item yang berlaku.
Menurut Isa, admin dan teller BSM Sukun, sistem ini dirancang agar masyarakat dapat menyatukan sendiri hasil pengelolaan sampah yang mereka lakukan. “Di sini konsepnya menabung, jadi setiap orang yang setor sampah pasti ada pencatatannya.Sampah ditimbang, dicatat di buku tabungan, dan nilainya masuk ke saldo,” ujarnya.
Alur Setor Sampah yang Terstruktur dan Transparan
Proses setor sampah di BSM Sukun dimulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga. Warga dianjurkan untuk memilah sampah sejak awal agar memudahkan proses penimbangan dan pencatatan. Sampah yang diterima BSM terdiri dari 73 jenis barang, yang dikemas ke dalam beberapa kategori utama, seperti plastik, kertas, logam, botol kaca, dan minyak jelantah.
Setelah sampah dibawa ke BSM, petugas akan melakukan penimbangan sesuai kategori. Hasil penimbangan ini kemudian dicatat oleh admin atau teller ke dalam sistem tabungan. Isa menjelaskan bahwa setiap barang memiliki harga yang berbeda-beda, tergantung jenis dan kualitasnya. “Misalnya botol plastik, tutup, dan cincin botol itu barang beda dan harga beda. Kalau dipisah, nilainya bisa lebih tinggi dibandingkan dijadikan satu,” kata Isa.
Pencatatan dilakukan secara tertib dan sebagian besar sudah berbasis digital, meski buku tabungan fisik tetap digunakan sebagai bukti bagi nasabah. Sistem ini memungkinkan warga untuk menyetor sampah kapan saja tanpa jadwal wajib mingguan atau bulanan. “Mau setor sedikit atau banyak, terserah warga. Bahkan satu kilo pun bisa, yang penting dicatat,” tambahnya.
Selain setor mandiri, BSM juga menyediakan layanan penjemputan sampah untuk jumlah tertentu, khususnya bagi warga atau komunitas di luar area sekitar. Dengan sistem ini, BSM berupaya menjangkau lebih banyak masyarakat tanpa menghilangkan prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan sampah.
Dari Tabungan Sampah ke Manfaat Ekonomi dan Edukasi

Foto: Dok Pribadi/Natera
Tabungan sampah yang terkumpul tidak harus langsung dicairkan. Warga dapat menabung dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu hingga dua bulan, sebelum menarik saldo. Dana hasil penjualan sampah ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari keperluan rumah tangga hingga modal usaha kecil.
Isa menyebutkan bahwa sistem tabungan membuat masyarakat lebih termotivasi untuk secara konsisten memilah dan menyetor sampah. “Karena ada manfaatnya, masyarakat jadi lebih semangat. Mereka tahu kalau sampah itu bisa jadi tabungan, bukan cuma dibuang,” ujarnya.
Selain manfaat ekonomi, sistem tabungan setor sampah juga memiliki fungsi edukatif. Melalui pencatatan yang rinci, BSM dapat menunjukkan jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan dan bagaimana pola konsumsi masyarakat. Data ini menjadi dasar evaluasi dan sosialisasi lanjutan kepada warga tentang pentingnya pengurangan sampah sejak sumbernya.
BSM Sukun juga melibatkan warga dalam kegiatan pelatihan daur ulang, dimana sebagian hasil tabungan sampah dapat digunakan sebagai bahan produksi kerajinan. Produk-produk ini kemudian dipajang untuk dipajang dan dijual melalui sistem titip jual, dengan Pembagian keuntungan antara pengrajin dan BSM.
Lebih jauh lagi, sistem tabungan ini mendukung program pemerintah dalam pengurangan sampah yang masuk ke TPA. Dengan semakin banyaknya sampah yang dikelola melalui bank sampah, beban TPA dapat ditekan secara bertahap. “Tujuan awalnya memang membantu meringankan TPA, tapi yang lebih penting adalah mengubah pola pikir masyarakat,” ujar Isa.
Ke depan, BSM Sukun berharap sistem rekening tabungan setor sampah dapat direplikasi di lebih banyak wilayah. Dengan kombinasi antara pencatatan yang rapi, transparansi nilai, dan pendekatan edukatif, sistem ini dinilai mampu menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.