Sunalis Edukasi Warga Manfaat Abu Sampah

Sunalis, saat bercerita tentang kisah inspiratifnya mengelola abu sampah
Foto: Dok Pribadi/Natera

Sejak 2014, Sunalis warga Blitar memulai perannya sebagai pengelola dan pengepul limbah sampah serta abu bekas pembakaran untuk menjawab persoalan sampah desa yang dibuang sembarangan ke sungai dan kebun. Melalui edukasi langsung, Sunalis ubah persepsi masyarakat tentang sampah dengan contoh nyata, dan keteladanan. Ia mengajak warga memilah sampah dan melihatnya sebagai sumber peluang, bukan sekadar masalah.

Di sebuah sudut desa di Blitar, abu bekas pembakaran sampah tak lagi dipandang sebagai sisa tak berguna. Di tangan Sunalis, abu justru menjadi medium belajar, alat kampanye, sekaligus bukti bahwa sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai. Perjalanan itu bermula lebih dari satu dekade lalu, saat tak banyak orang bersedia menyentuh urusan sampah apalagi menjadikannya jalan pengabdian.

Sunalis mengenang awal mula keterlibatannya pada 2014, ketika desanya mengikuti program Desa Berseri. Saat itu, belum ada sistem pengelolaan sampah. Warga membuang sampah ke sungai, kebun, atau titik-titik kosong. Ketika desa mencari kader pengelola sampah, tak satu pun anak muda berminat.

“Akhirnya ya saya terjun sendiri,” ujarnya.

Keputusan itu tidak mudah. Sunalis harus berhadapan dengan rasa malu, bau menyengat, hingga cibiran. Ia dicap “cari muka” dan “kurang kerjaan” oleh sebagian warga. Namun, ia memilih bertahan.

“Kalau tidak ada proses seperti itu, mental kami nggak akan kuat,” tuturnya.

Dalam tiga bulan pertama, ia bersama segelintir warga mulai merintis layanan pengambilan sampah. Dari situ, lahirlah TPST yang kemudian dikenal warga. Pelan tapi pasti, kebiasaan warga berubah. Jika sebelumnya sampah dibuang sembarangan, kini pembuangan terpusat di satu titik dan diangkut secara rutin.

“Yang dulu buangnya sembarangan, sekarang sudah teratur. Minimal satu titik, nggak dititipkan ke tetangga lagi,” kata Sunalis.

Namun, peran Sunalis tidak berhenti pada layanan angkut. Ia melihat tantangan yang lebih besar adalah rendahnya kesadaran memilah sampah. Berulang kali ia mencoba mengedukasi warga dengan dua tempat sampah berbeda. Hasilnya sering tak bertahan lama. Alih-alih menyerah, Sunalis memilih mengalah dengan melakukan pemilahan di lokasi TPST. Bagi Sunalis, edukasi bukan soal memaksa, melainkan menyiapkan jalan agar warga perlahan paham.

Pendekatan itu diperkuat dengan keteladanan. Dari abu pembakaran sampah, Sunalis bereksperimen membuat batako, pot tanaman, miniatur candi, hingga patung Garuda. Referensinya sederhana video dari YouTube dan uji coba mandiri. Ketika warga ragu, ia membangun rumahnya sendiri dengan material berbasis abu sebagai bukti.

“Makanya saya bikin rumah ini. Tak kasih contoh langsung. Nyatanya bisa,” tegasnya.

Di titik inilah Sunalis bertransformasi menjadi edukator lingkungan. Ia tidak mengajar di ruang kelas, melainkan di halaman rumah, lokasi TPST, dan tengah masyarakat. Ia menjelaskan siklus sampah, memperagakan pemilahan, hingga mengajak warga memahami nilai ekonomi dan ekologis limbah.

Dampaknya terasa. Jumlah pelanggan layanan sampah meningkat hingga ratusan kepala keluarga. Pemerintah desa pun memberi dukungan, termasuk penghibahan tanah bengkok desa untuk TPST. Sistem iuran dibuat berjenjang bahkan ada subsidi bagi warga kurang mampu agar semua bisa ikut menjaga lingkungan.

“Yang penting mereka mau buang di satu titik dan nggak nyampah sembarangan. Itu sudah langkah besar,” kata Sunalis.

Kini, meski tak lagi terlibat langsung dalam operasional TPST, Sunalis tetap aktif berbagi ilmu. Ia bereksperimen dengan kompos, abu, dan material kaca; menanam bunga sebagai uji coba; serta mendorong regenerasi pengelola. Baginya, warisan terpenting bukan bangunan atau produk, melainkan kesadaran.

Kisah Sunalis menunjukkan bahwa perubahan perilaku lingkungan tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Ia bisa bermula dari satu orang yang mau kotor, mau dicibir, dan mau memberi contoh. Di tangan Sunalis, abu bekas menjadi bahasa sederhana untuk mengajar warga: bahwa memilah sampah adalah tanggung jawab bersama, dan dari sisa-sisa yang dianggap masalah, selalu ada peluang untuk dirawat dan dihidupkan kembali.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.