
Foto: Dok Pribadi/Natera
Blitar – Dari abu sisa pembakaran sampah yang selama ini dianggap tak bernilai, Ahmad Redam merintis Sunalis sejak 2014 sebagai upaya mengolah limbah menjadi produk fungsional, dengan mimpi jangka panjang membangun industri kreatif berbasis sampah melalui dukungan teknologi dan peran negara.
Lewat kerja mandiri di Blitar, Redam membuktikan bahwa limbah bukan akhir dari siklus, melainkan awal dari peluang baru ika diberi ruang, alat, dan kepercayaan. Bagi Redam, abu justru bahan baku.
Ia adalah penggerak Sunalis, sebuah inisiatif pengolahan limbah abu hasil pembakaran sampah di Blitar. Perjalanannya bermula dari keterlibatan panjangnya di pengelolaan persampahan desa sejak 2014. Saat itu, warga masih membuang sampah sembarangan ke sungai, kebun, atau lahan kosong karena tidak ada sistem yang berjalan.
“Anak-anak muda nggak ada yang mau terjun. Akhirnya saya sendiri yang turun, meskipun awalnya dicibir, dibilang cari muka, cari proyek,” tutur Redam, mengingat fase awal yang tidak mudah.
Di balik inisiatif ini, Redam memandang limbah bukan sebagai akhir siklus, melainkan awal dari rangkaian produk baru pot bunga, bantal, kasur, hingga boneka yang suatu hari diharapkan lahir dari sistem produksi yang lebih tertata dan didukung teknologi memadai.
Sunalis tumbuh dari praktik sederhana mengolah residu, termasuk abu sisa pembakaran sampah, menjadi produk fungsional. Namun, bagi Redam, kerja hari ini bukan tujuan akhir.
“Yang kami bangun bukan sekadar produk, tapi fondasi industri kreatif dari sampah,” ujarnya.
Visi itu menempatkan Sunalis sebagai ruang belajar, produksi, sekaligus simpul ekonomi sirkular yang berpijak pada ketersediaan bahan lokal.
Eksperimen Mandiri Sunalis dari Abu Sampah

Foto: Dok Pribadi/Natera
Tidak ada laboratorium, tidak ada mesin canggih. Referensi Redam datang dari mana saja termasuk video YouTube. Ia mencampur abu dengan pasir, pecahan kaca yang sudah ditumbuk halus, dan bahan pengikat sederhana. Prosesnya dilakukan manual, dengan alat seadanya
“Saya bikin batako dari abu dulu. Orang-orang ragu. Katanya batako sampah. Ya sudah, saya bikin rumah ini sebagai contoh,” katanya.
Batako dari abu itu menjadi produk awal Sunalis. Kuat, padat, dan bisa digunakan. Dari situ, ia mulai membuat produk lain yaitu pot tanaman, miniatur, hingga ornamen berbasis abu.
Menurut Redam, tantangan terbesarnya bukan teknis, melainkan kepercayaan.
“Kalau di desa itu, harus ada contoh nyata. Kalau cuma teori, orang nggak percaya,” ujarnya.
Pendekatan ini sejalan dengan temuan KLHK yang menyebut bahwa role model dan contoh langsung jauh lebih efektif dibanding kampanye normatif semata
Mimpi yang Lebih Besar dari Sekadar Batako
Sunalis tidak berhenti pada produk bangunan. Dalam wawancara, Redam menyebut mimpi besarnya adalah mengembangkan pot bunga, bantal, kasur, hingga boneka dari material olahan limbah, termasuk abu dan residu lain yang selama ini terabaikan.
Namun, mimpi itu tersendat pada satu hal yaitu keterbatasan alat.
“Kalau ada mesin pencacah sampah, saya bisa bikin lebih banyak produk. Sekarang semuanya manual, capek dan terbatas,” ujarnya.
Ia berharap ada dukungan pemerintah, bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tetapi alat produksi yang benar-benar dibutuhkan di lapangan.
Padahal, secara nasional, pemerintah mendorong ekonomi sirkular dan pengolahan sampah bernilai tambah. Dalam dokumen KLHK tentang pengelolaan residu, abu pembakaran disebut sebagai material yang masih bisa dimanfaatkan untuk produk non-struktural jika dikelola dengan benar
Sayangnya, kebijakan sering berhenti di level konsep, belum menyentuh pelaku kecil seperti Sunalis.
Dari Stigma ke Identitas
Redam tidak lagi mengelola TPST secara aktif. Kini ia bekerja sebagai perawat ruang terbuka hijau (RTH). Namun identitasnya sebagai pengrajin limbah tidak ia tinggalkan.
“Ini identitas saya. Dari sampah. Saya ingin ada jejak yang bisa diwariskan,” katanya.
Ia menyadari, tidak semua orang akan mau menempuh jalan yang sama. Selama bertahun-tahun, ia menerima cibiran, keraguan, bahkan tekanan sosial. Tapi ia percaya satu hal yaitu keteladanan.
“Keteladanan itu luar dalam. Bukan cuma bagus di video. Tapi benar-benar dijalani,” ujarnya.
Pandangan ini relevan dengan kritik terhadap pendekatan seremonial dalam isu lingkungan yang sering tampil indah di permukaan, tetapi minim dampak struktural.
Mimpi dan Masa Depan Industri
Apa yang dilakukan Sunalis mungkin terlihat kecil. Tapi justru di situlah letak pentingnya. Ia menunjukkan bahwa industri kreatif berbasis sampah tidak selalu harus dimulai dari modal besar, teknologi tinggi, atau investor. Ia bisa dimulai dari abu.
Dengan dukungan yang tepat mesin pencacah, akses riset sederhana, dan keberpihakan kebijakan inisiatif seperti Sunalis berpotensi menjadi simpul penting dalam pengelolaan residu yang selama ini tak tersentuh.
“Saya nggak muluk-muluk. Yang penting ada yang nerusin, ada yang sadar,” kata Redam.
Di tengah krisis sampah yang terus membesar, kisah Sunalis menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu datang dari atas. Kadang, ia tumbuh perlahan dari bawah dari tangan yang kotor oleh abu, dan mimpi yang terus menyala.