
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di sebuah gang kecil di kawasan Sawojajar, Malang, suara gesekan plastik terdengar seperti ritme yang tak pernah berhenti. Di dalam ruang tamu sederhana itu yang kini lebih mirip studio kreatif empat perempuan duduk melingkari meja kecil. Jari-jari mereka lincah menganyam ratusan bungkus kopi yang sebelumnya dianggap tak berharga. Setiap lipatan, setiap tarikan, membentuk pola yang kelak berubah menjadi tas-tas unik dengan warna metalik mencolok.
Di sinilah Galeri Daur Ulang M212 berdiri. Sebuah ruang kecil yang menghadirkan imajinasi besar: mengubah sampah yang bahkan tidak laku dijual di bank sampah menjadi aksesoris, tas, dan dompet yang bukan hanya fungsional tetapi juga punya ruh cerita lingkungan.“Awalnya kami cuma bikin tas,” cerita Nur, penggerak utama galeri ini. “Sampah plastik, terutama bungkus kopi itu banyak sekali. Kalau nggak diolah ya cuma numpuk.”
Aksesoris dari Sampah yang Tak Laku: ‘Rebranding’ Limbah Rumah Tangga
Jika Gen Z punya tren “badass minimalism”, M212 punya versinya sendiri
Bahan utama yang mereka pakai bukan plastik premium, bukan pula kain daur ulang pabrik. Mereka memakai sampah paling “tidak dianggap” bungkus kopi kecil yang kita sobek setiap pagi, pembungkus deterjen yang licin, sampai kulit jagung yang sering berakhir di bak sampah.
Menurut Nur, limbah-limbah ini justru paling melimpah. Dan justru itulah alasan mereka memilihnya.
“Sampah yang tidak laku dijual itu kita olah. Kalau bisa jadi tas, dompet, atau tempat tisu, kenapa nggak?”
Setiap bulan, ratusan hingga ribuan bungkus plastik ‘diselamatkan’ dari perjalanan terakhirnya menuju TPA. Jumlahnya sangat banyak sekitar 300–400 bungkus untuk satu tas atau rompi kecil. Prosesnya bukan sebatas menempel-nempel itu ada tahap memilah, mencuci, mengeringkan, lalu menganyamnya menjadi panel yang kuat dan rapi.
Di musim hujan, tantangan terbesar muncul. Plastik yang basah sering memudar warnanya dan tak bisa dipakai.
“Kalau warnanya rusak, ya langsung kami sisihkan. Harus pilih yang bagus-bagus saja,” kata Nur.
Tas & Aksesoris yang Menjelajah Indonesia
Meski produksinya rumahan, karya M212 sudah ‘keliling Indonesia’. Ada yang dikirim ke Jakarta, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bahkan, beberapa pesanan partai besar datang dari luar kota seperti 30 rompi daur ulang yang pernah dipesan Jakarta, lengkap dengan headpiece-nya.
Namun untuk aksesoris dan tas, yang paling menarik adalah strategi pemasaran M212 yang anti-mainstream, semuanya dijual offline.
“Mereka takut kalau pesanan membludak,” cerita seorang pengrajin sambil tertawa.
Di balik itu, ada alasan serius setiap produk adalah handmade. Tidak ada mesin besar, tidak ada produksi massal. Semuanya dikerjakan oleh empat pengrajin inti, dengan waktu yang tidak sebentar. Satu tas mungkin bisa selesai dalam beberapa hari, satu kostum bahkan butuh satu minggu penuh.
Tas-tas ini biasanya dibeli saat kunjungan sekolah, pelatihan PKK, atau acara lingkungan. Banyak yang tertarik karena bentuknya mencolok campuran warna-warna plastik bekas yang disusun rapat membentuk tekstur seperti mosaik.
Bagi generasi muda, tas bukan cuma tempat barang. Tas adalah identitas. Dan produk daur ulang dari M212 menjawab kebutuhan itu unik, statement, anti-mainstream, dan punya nilai cerita yang tak dimiliki tas pabrikan.
Bayangkan membawa totebag yang terbuat dari ratusan bungkus kopi instan. Setiap lipatan tas itu membawa jejak dari warung kecil tempat plastiknya ditemukan, dari tangan-tangan yang memilahnya, hingga ruang tamu kecil tempat tas itu dirakit. Ada perjalanan ekologis yang ikut terbawa.
Ini bukan hanya fashion. Ini adalah bentuk protes kecil terhadap budaya konsumsi cepat.
Sebuah cara untuk bilang, “Aku peduli, tapi tetap fashionable.”
Tak Sekadar Produksi: M212 Jadi Ruang Belajar Lingkungan
Sisi menarik lain dari M212 adalah betapa hidupnya ruang ini sebagai tempat edukasi. Hampir setiap minggu, sekolah-sekolah datang: dari Malang, Jombang, Surabaya, sampai Sulawesi. Anak-anak belajar memilah sampah, mencoba menganyam, lalu pulang dengan tas kecil buatan mereka sendiri.
Bagi Nur, membuat tas dari sampah hanyalah sebagian kecil dari misi mereka. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan baru.“Anak-anak itu kalau sudah terbiasa ngumpulin plastik, mereka jadi lebih peduli,” katanya.
Program seperti Jumat Bersih dan kegiatan lipat-lipat kemasan dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian sejak dini.
Dari Rumah Kecil ke Jejak Besar
Ada alasan mengapa kisah M212 terdengar begitu kuat karena ia tumbuh dari hal-hal yang sangat sederhana. Dari kewajiban membentuk bank sampah. Dari sampah-sampah yang tidak laku. Dari tangan para ibu rumah tangga yang tak pernah lelah.
Dari tempat sekecil itu, lahirlah tas-tas yang kini mengisi rumah orang di seluruh Indonesia.
Galeri Daur Ulang M212 mengingatkan kita bahwa perubahan besar kadang bermula dari keputusan kecil seperti tidak membuang bungkus kopi sembarangan.
Tas daur ulang mereka bukan hanya barang. Ia adalah simbol.
Simbol bahwa setiap orang, setiap rumah, bahkan setiap sampah, punya kesempatan untuk lahir kembali.