
Kota Malang — Di banyak rumah, botol plastik, kaleng minuman, dan karung goni bekas biasanya berakhir sebagai “barang sisa” yang menunggu dijual kiloan atau dibuang begitu saja. Namun di tangan Cecilia Triputri Wardhani, pengrajin yang membangun Thrills4Life, limbah justru diperlakukan seperti bahan baku: dipilah, dibersihkan, lalu diolah menjadi aksesori dan produk fesyen yang fungsional.
Kesadaran itu tidak datang tiba-tiba. Cecilia mengakui kesalahannya berangkat dari masalah yang ia lihat sehari-hari: tumpukan sampah, terutama plastik sekali pakai.
“Yang paling terasa itu masalah sampah plastik dan keresek yang numpuk di mana-mana,” katanya.
Pengalaman melihat kondisi lapangan termasuk ketika berkunjung ke TPA mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
“Karena kalau sudah cinta lingkungan tuh otomatis ingin merawatnya,” lanjut Cecilia.
Dari situ, Thrills4Life berkembang dengan dua jalur utama: Plastika Art yang mengolah limbah plastik menjadi material baru, dan Trilogic yang menghadirkan ecoprint berbasis flora lokal. Meski pendekatannya berbeda, keduanya bertemu pada satu prinsip: memperpanjang umur material agar tidak cepat menjadi sampah.
Mengolah limbah jadi material aksesori: dimulai dari pemilahan
Bahan-bahan seperti botol dan kaleng memang kerap diasosiasikan dengan sampah yang “lebih mudah” dijual. Tetapi bagi pengrajin, tantangan sesungguhnya ada pada konsistensi bahan dan keamanan saat dipakai. Di Thrills4Life, Cecilia menekankan pentingnya memilih dan menyiapkan material apa pun bentuk limbahnya agar layak dijadikan produk.
Untuk jalur Plastika Art, bahan yang paling sering ia temui justru kantong kresek. Ia memilihnya karena jenis limbah ini melimpah dan sulit terurai.
“Keresek kami kumpulkan, pilih warnanya, dibersihkan, lalu di press dengan teknik tertentu sampai jadi lembaran,” jelasnya.
Dari lembaran inilah aksesori bisa dibentuk: dipotong, disambung, dijahit, dan diuji kekuatannya.
“Banyak yang kaget karena hasil akhirnya tidak terlihat seperti plastik sama sekali,” kata Cecilia.
Dengan cara itu, limbah yang semula dianggap rapuh berubah menjadi bahan aksesori yang lebih tebal dan tahan pakai. Cecilia bahkan mencontohkan ketahanan material olahan tersebut: semakin banyak lapisan yang diproses, semakin kuat hasilnya sehingga tidak mudah “jebol” seperti plastik biasa.
Karung goni bekas: bukan beli baru, tapi diolah ulang
Selain plastik, Cecilia juga memakai karung goni bekas sebagai bahan. Baginya, penting menjaga konsistensi nilai “upcycle”: bukan sekadar mengganti bahan, tetapi juga memastikan tidak menciptakan jejak konsumsi baru.
“Kalau saya nggak, saya benar-benar karung bekas,” ujarnya.
Ia membedakan karung goni bekas dengan karung baru yang dijual meteran. Karung bekas menurutnya punya karakter serat dan tekstur berbeda sekaligus membawa cerita penggunaan sebelumnya. Prosesnya pun tidak instan: dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diolah agar siap dipakai sebagai bagian produk.
Prinsip “tidak membeli yang baru” ini ia pegang karena Thrills4Life dibangun dari gagasan keberlanjutan.
“Semua bahan harus natural, prosesnya berkelanjutan, dan konsumen harus tahu asal-usul produknya,” kata Cecilia.
Dari fungsi ke cerita: aksesori yang mengedukasi
Di jalur Trilogic, aksesori dan produk ecoprint tidak berhenti pada motif. Cecilia menjadikan narasi sebagai identitas. “Saya lebih ke narasi,” ujarnya. Ia menempelkan cerita pada produk: daun apa yang dipakai, tema apa yang dibangun, bahkan detail visualnya.
“Setiap produk selalu saya beri narasi. Jadi orang bukan hanya beli produk, tapi bawa pulang cerita.”
Bagi Cecilia, edukasi justru bagian paling melelahkan sekaligus paling penting. Ia menyadari banyak orang masih memandang rendah produk dari limbah. “Yang paling sulit itu meyakinkan orang bahwa produk dari limbah itu punya nilai,” katanya. Orang kerap memotong proses panjang hanya menjadi satu label: “cuma sampah”.
Padahal, proses mengubah limbah baik botol, kaleng, plastik, maupun karung goni menuntut pemilahan, kebersihan bahan, ketelitian, dan konsistensi. Karena itu, ketika karya Thrills4Life dipertunjukkan atau digunakan, Cecilia berharap yang terbaca bukan hanya desainnya, tapi juga pesan lingkungan di baliknya: bahwa material sekali pakai masih bisa diberi peran baru, selama manusia mau memikirkan ulang cara memakainya.