Thrills4life berhasil Mengurai Sampah Kota dari Halaman Rumah

Potret Cecilia saat menjelaskan produk ecoprint dari sampah daun di halaman rumah
Foto: Dok Pribadi/Natera

Kota Malang – Ketika persoalan sampah kota kerap dibahas masyarakat seperti TPA yang penuh, sungai tercemar, dan plastik menumpuk. Thrills4Life justru memulainya dari ruang paling sederhana, dari halaman rumah. Dari sanalah praktik sustainability ini tumbuh, pelan tapi konsisten, dengan pengelolaan daun ecoprint dan limbah plastik agar tak pernah benar-benar menjadi sampah.

Thrills4Life merupakan UMKM berbasis ecoprint dan upcycle yang dikelola oleh Cecilia Tri Putri Wardhani. Bertempat di Kota Malang, usaha ini memanfaatkan daun sebagai bahan utama ecoprint dan kantong kresek bekas sebagai material produk upcycle. Namun di balik produk yang dihasilkan, terdapat praktik keberlanjutan yang jarang terlihat yaitu pengelolaan limbah produksi secara mandiri.

Di sudut halaman rumahnya, Cecilia memilah daun jati, ketepeng kebo, hingga daun mento yang telah digunakannya dalam proses ecoprint. Sebagian daun dicetak ke kain sebagai motif alami, sementara sisa daun yang telah direbus atau tidak terpakai dikumpulkan untuk masuk ke lubang kompos. Tujuannya tentu saja gara tidak ada yang dibuang ke tempat sampah.

“Kalau kita pakai daun dari alam, tanggung jawabnya bukan cuma sampai kain jadi,” ujar Cecilia.

Sampah Organik yang Sering Diabaikan

Disisi lain, permasalahan sampah perkotaan, sering kali tertuju pada limbah plastik. Padahal, sampah organik termasuk daun dan sisa produksi UMKM juga menyumbang volume besar ke tempat pembuangan akhir. Cecilia melihat celah ini sejak awal menjalankan bisnis ecoprint.

Proses ecoprint menghasilkan residu organik berupa daun bekas rebusan, sisa rendaman, dan tangkai. Alih-alih membuangnya, Cecilia memilih mengomposkan seluruh limbah tersebut di halaman rumahnya. Selama beberapa minggu, daun-daun itu terurai secara alami dan berubah menjadi kompos yang kembali digunakan untuk menyuburkan tanaman di sekitarnya. 

Tanaman-tanaman itulah yang kelak menjadi sumber daun baru untuk ecoprint berikutnya. Siklus ini sederhana, tetapi berdampak begitu besar. Dalam satu rumah, sampah organik yang biasanya berakhir di TPS kini berhenti di halaman sendiri.

Dari Skala Kecil untuk Masalah Besar

Bagi Cecilia, sustainability tidak harus menunggu kebijakan besar atau teknologi mahal. Ia percaya perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. Thrills4Life menjadi contoh bagaimana UMKM bisa mengambil peran langsung dalam mengurangi beban sampah kota.

“Kalau semua orang bisa mengelola sampahnya sendiri, skalanya akan terasa,” katanya.

Prinsip inilah yang juga ia terapkan pada bisnis upcycle plastiknya, Plastika Art. Kantong kresek bekas yang kerap menjadi masalah perkotaan dikumpulkan, dibersihkan, dan diolah menjadi material baru seperti tas. Dengan cara ini, limbah plastik tidak langsung berpindah dari rumah ke TPA.

Ecoprint dan Kota yang Berkelanjutan

Ecoprint Thrills4Life tidak hanya bicara soal estetika kain, tetapi juga relasi manusia dengan lingkungan perkotaan. Daun yang digunakan bukan daun impor, melainkan daun lokal yang tumbuh di sekitar. Prosesnya pun mengikuti musim, cuaca, dan kondisi alam.

Warna yang dihasilkan tidak selalu sama, tidak selalu cerah. Namun bagi Cecilia, ketidaksempurnaan itu adalah bagian dari kejujuran proses alami.

Ia menyadari, tantangan terbesar dari praktik ini adalah edukasi. Banyak konsumen belum terbiasa dengan konsep warna alami dan proses lambat. Cecilia harus menjelaskan bahwa ecoprint berbeda dengan tekstil konvensional dan bahwa keberlanjutan memang menuntut kesabaran.

Halaman Rumah sebagai Ruang Perlawanan

Di tengah krisis sampah kota yang kompleks, praktik Thrills4Life mungkin terlihat kecil. Namun justru dari skala rumah tangga inilah solusi berkelanjutan bisa tumbuh. Dengan mengomposkan limbah daun ecoprint dan mengolah plastik bekas, Cecilia menunjukkan bahwa halaman rumah bisa menjadi ruang perlawanan terhadap budaya buang-pakai.

Thrills4Life membuktikan bahwa sustainability tidak selalu harus dimulai dari pabrik besar atau program pemerintah. Ia bisa dimulai dari lubang kompos, dari daun yang kembali ke tanah, dan dari kesadaran bahwa setiap limbah adalah tanggung jawab.

Dari halaman kecil di Kota Malang, Thrills4Life mengurai sampah kota satu daun, satu proses, satu siklus kehidupan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.