TPA Supit Urang, Titik Akhir 490 Ton Sampah Kota Malang

Tumpukan sampah yang mulai menggunung di TPA Supit Urang Kota Malang.
Bukan hanya tempat berakhirnya sampah, lokasi ini memperlihatkan sisi lain dari jejak dari kebiasaan harian yang jarang kita pikirkan setelah dibuang  dan pengelolaan limbah yang belum tertata.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Pagi baru saja menyapa Kota Malang. Di antara remang-remang kabut, deru truk oranye milik Dinas Lingkungan Hidup melaju di sepanjang jalan. Dari pasar, dari restoran, dari perumahan, semua truk itu menuju satu titik di ujung kota, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang.

Setiap harinya, di sinilah seluruh sampah warga Malang berakhir, bercampur, diturunkan, lalu diratakan agar tak cepat menjulang. Namun di balik rutinitas itu, Supit Urang menyimpan cerita tentang bagaimana kota ini berjuang menghadapi sampahnya sendiri.

TPA Supit Urang, Satu TPA yang Tersisa

Kota Malang tak selalu bergantung pada Supit Urang. Dulu, ada empat TPA lain yang sempat menjadi penopang, yaitu TPA Simpang Majapahit yang tutup pada tahun 1988, TPA Pandanwangi dan TPA Gadang yang tutup tahun 1994, kemudian penutupan TPA Lowokdoro pada tahun yang sama.

Penutupan keempat TPA ini karena sistem open dumping yang menimbulkan tumpukan sampah semakin tinggi dan pencemaran yang parah. Sejak saat itu, Supit Urang berdiri sendiri, menanggung beban satu kota yang terus tumbuh.

Gerbang masuk TPA Supit Urang Kota Malang menuju area pengelolaan sampah organik dan pembuatan pupuk kompos
Di TPA Supit Urang, tempat yang setiap hari menerima ratusan ton sampah. Volume yang terus naik ini menjadi tantangan besar bagi pengelolaan limbah di Kota Malang.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Satu hari 740 ton potensinya, tapi itu berdasarkan data KTP. Artinya belum termasuk mahasiswa dan pendatang,” jelas Arif Darmawan, Kepala UPT  TPA Supit Urang. “Jadi sebenarnya jumlah sampah yang muncul jauh lebih besar.”

Kini, lahan seluas 32 hektar itu menjadi tempat singgah bagi ratusan ton sampah setiap hari. Berdasarkan data dari databoks tahun 2024, penduduk Kota Malang mencapai 885.270 jiwa, dengan rata-rata produksi sampah 0,8 kilogram per orang per hari.

Jika kita kalikan, total seluruh sampah mencapai 740 ton setiap harinya. Namun yang benar-benar sampai ke TPA hanya 490 ton, sisanya tercecer, terbakar, dan mengalir di sungai.

Dampak Sistem “Kumpul, Angkut, Buang” Pada Pengelolaan Sampah Kota Malang

Selama puluhan tahun, cara Kota Malang menangani sampah tak banyak berubah. Polanya sederhana, sampah dikumpulkan dari tiap rumah, diangkut ke TPS, lalu berakhir di TPA. Selesai. Tapi tahukah Naters, di balik sistem “kumpul–angkut–buang” yang terdengar tertib itu, ada masalah besar yang terus menumpuk.

Dengan sistem tersebut, sampah-sampah yang berakhir di TPA tak banyak terolah dengan baik. Semuanya hanya ‘Berpindah tempat’ saja dari tong sampah ke truk, lalu dari truk ke gunungan sampah yang terus meninggi.

Sistem ini dikenal sebagai open dumping, yaitu cara lama di mana sampah ditumpuk begitu saja di lahan terbuka tanpa pemrosesan yang berarti. Akibatnya, tumpukan itu menimbulkan bau tak sedap, risiko kesehatan, dan tentunya menggerus daya tampung TPA dari tahun ke tahun.

Tumpukan sampah botol plastik bekas minuman sekali pakai di TPA Supit Urang Kota Malang
Dari minuman kemasan hingga wadah makanan, hampir semua sampah plastik sekali pakai berakhir di TPA. Percaya atau tidak, tumpukan yang terlihat ini hanyalah sebagian kecil dari total sampah yang kita hasilkan setiap hari.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Catatannya cukup mencengangkan : empat dari lima TPA di Kota Malang dengan sistem open dumping sudah berhenti operasional. Kini, hanya tersisa TPA Supit Urang di Kecamatan Sukun, yang masih beroperasi dan menampung seluruh sampah dari berbagai penjuru kota Malang setiap harinya.

Lalu, bagaimana nasib keempat TPA yang dulu menjadi tempat persinggahan sampah Kota Malang itu?

TPA Lowokdoro, Dari Gunungan Sampah ke Wisata Gantangan

Nama Lowokdoro mungkin sudah tak asing bagi warga Malang bagian selatan. Dulu, kawasan ini terkenal sebagai salah satu titik penampungan sampah terbesar di kota Malang. Lowokdoro sempat berstatus TPA keempat sebelum berstatus nonaktif pada 1994. Namun, ceritanya belum selesai di situ. Antara tahun 2009 hingga 2019, tempat ini kembali beroperasi sebagai TPS untuk menampung sampah warga sekitar.

Gunungan sampah di TPA Lowokdoro Malang sebelum penutupan operasional
Tumpukan sampah di TPA Lowokdoro dulu menjulang hingga melebihi atap rumah. Volume yang terus meningkat membuat tempat ini tak lagi mampu menampung, sebelum akhirnya tutup dan beralihfungsi.
Foto : bangsaonline.com

Masalah muncul kembali ketika sampah datang dari luar wilayah. sampah yang terus menumpuk akhirnya membuat TPS ini tak lagi sanggup menampung beban. Hingga akhirnya pada tahun 2019, pemerintah kota Malang memutuskan untuk menghentikan seluruh aktivitas pembuangan di Lowokdoro.

Dari balik pagar kawat yang mulai berkarat, Suparman, penjaga lama area TPA Lowokdoro ini masih mengingat jelas masa-masa penutupan itu.

“Otomatis kalau mau dijadikan RTH, TPA ini harus ditutup. Nanti akan kami beri plang larangan membuang sampah. Dan nanti kami minta Satpol PP untuk berjaga di TPA Lowokdoro ini,” tuturnya dalam wawancara dengan Suryamalang.com

Kemana Perginya Gunungan Itu?

Setelah bertahun-tahun menampung ribuan ton sampah, TPA Lowokdoro akhirnya ditutup. Tapi pertanyaannya masih sama, “ke mana semua tumpukan sampah itu pergi?”

Tidak ada penjelasan yang pasti. Yang jelas, sejak proyek Wisata Gantangan Malang Satu Titik mulai dibangun di sisi utara dengan anggaran sekitar Rp15 miliar secara bertahap, bagian selatan area itu masih menyimpan sisa masa lalu.

Gunungan sampah masih terlihat, bahkan beberapa warga mengaku lokasi itu masih dijadikan tempat pembuangan hingga kini.

Tampak tulisan besar Wisata Gantangan Malang Satu Titik di lokasi lama TPA Lowokdoro
Tulisan besar “Wisata Gantangan Malang Satu Titik” berdiri gagah seolah menandai semangat baru bagi ruang publik kota. Namun di balik papan nama yang megah ini, sudahkah persoalan sampahnya ikut dibenahi?
Foto : Yusuf Gunawan on X

Pada 17 September 2023, Wali Kota Malang Sutiaji meresmikan kawasan gantangan sebagai wajah baru Lowokdoro. Setiap akhir pekan, suara burung dan riuh penonton menggantikan aroma menyengat yang dulu memenuhi udara.

Namun di balik panggung baru ini, bayangan lama belum benar-benar hilang. Sampah-sampah itu mungkin tidak lagi terlihat di permukaan, tapi keberadaannya masih terasa diam, menunggu giliran untuk diingat kembali.

Lowokdoro Belum Benar-Benar Usai

Meski papan nama “Eks TPA Lowokdoro” sudah lama diganti dan area utara mulai disulap jadi wisata gantangan burung, kenyataannya sebagian warga masih datang ke sana dengan membawa karung dan gerobak penuh sampah.

Truk-truk kecil sesekali berhenti, menumpahkan sisa rumah tangga di titik yang sama seperti dulu. Tidak ada petugas, tidak ada pos pengawasan, hanya bau yang akrab dan pemandangan yang tak banyak berubah sejak TPA itu resmi ditutup bertahun-tahun lalu.

Pemerintah sebenarnya sudah berulang kali berencana mengalihfungsikan lahan ini jadi ruang terbuka hijau. Tapi di lapangan, gunungan kecil baru terus muncul, menandakan bahwa sistem pengelolaan sampah di kota ini belum benar-benar menemukan ujungnya.

Plakat bertuliskan Gantangan Burung Lowokdoro di lokasi bekas TPA Lowokdoro yang kini dialihfungsikan sebagai area wisata
Plakat bertuliskan Gantangan Burung milik Pemkot Malang berdiri di depan tumpukan sampah yang berserakan. Pemandangan ini menjadi ironi di tengah upaya kota membangun citra wisata.
Foto : Hafid/Suarajatimpost.com

Lowokdoro mungkin sudah kehilangan status resminya sebagai TPA, tapi bagi sebagian masyarakat, tempat itu tetap jadi jawaban paling mudah untuk satu pertanyaan sederhana, “buang ke mana lagi?”

Di Balik Truk-Truk yang Tak Pernah Berhenti

Rata-rata, 160 truk masuk ke Supit Urang setiap harinya. Sebelum menurunkan muatan, semuanya melewati jembatan timbang otomatis yang terhubung dengan sistem digital Waste Information System (WIS). Data berat dan jumlah truk tercatat secara real time- mencerminkan denyut harian produksi sampah warga Malang.

Setelah ditimbang, sampah disortir oleh sekitar 20 pekerja di area pemilahan. Mereka memisahkan 9 jenis sampah anorganik-mulai dari plastik putih, logam, kardus, hingga botol dan kertas. Sedangkan sampah organik, terutama dari pasar dan ruang terbuka hijau, diolah menjadi pupuk kompos sebanyak 15 ton per hari.

TPA Supit Urang Langkah Menuju Sistem Baru

Arif Darmawan, selaku Kepala UPT TPA Supit Urang menceritakan kepada Tim Natera bagaimana TPA Supit Urang masih mampu bertahan menahan volume sampah yang membuldak di Kota Malang.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Dari ratusan truk yang silih berganti datang setiap hari itu, total sekitar 600 ton sampah akhirnya bermuara di TPA Supit Urang. Dulu, semua sampah ini hanya ditumpuk begitu saja di lahan terbuka, menyebarkan bau menyengat, mengundang serangga, dan rawan longsor.

Tapi sejak 2017, situasinya mulai berubah. Kawasan ini kini menjadi contoh penerapan sistem sanitary landfill, hasil dari program ERIC SWM (Emission Reduction in Cities Solid Waste Management) yang dijalankan bersama tiga daerah lainnya di Indonesia, yaitu Jombang, Sidoarjo, dan Jambi. Tujuannya jelas untuk mengurangi emisi karbon dari timbunan sampah yang terus meningkat.

Antara Protes dan Ketergantungan

Tak bisa dipungkiri, keberadaan TPA ini kerap menimbulkan protes. Warga di sekitar area sering mengeluh soal bau dan lalat. Namun, sebagian lain justru bergantung pada TPA untuk hidup. Mereka bekerja sebagai pemulung, petugas sortir, atau buruh harian.

“Ada yang komplen, tapi ada juga yang menggantungkan hidup di sini,” kata Arif. “Kalau TPA ditutup, mereka kehilangan pekerjaan. Tapi kalau dibiarkan tanpa perubahan, kota ini bisa tenggelam oleh sampahnya sendiri.”

Setiap minggu, Supit Urang menerima 300 hingga 1.000 kunjungan-mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga komunitas yang ingin belajar soal pengelolaan sampah. Bagi sebagian orang, TPA ini bukan lagi jadi tempat pembuangan, tapi ruang belajar tentang bagaimana manusia berdamai dengan limbah yang ia hasilkan sendiri.

Bagaimana TPA Supit Urang Dua Tahun Lagi?

Menurut Arif, jika volume sampah terus meningkat dengan ritme yang  tak berubah, TPA Supit Urang bisa penuh pada akhir tahun 2026. Lahan yang ada hampir mencapai batas maksimal.

Gunungan sampah yang meninggi di TPA Supit Urang Kota Malang
Gunungan sampah di TPA Supit Urang yang terus meninggi, seolah mengingatkan kita pada tumpukan masalah yang belum juga terurai.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Kalau sistemnya masih begini, dua tahun lagi bisa tutup,” ujarnya. “Dan kalau itu terjadi, seluruh kota akan kewalahan. Bayangkan 490 ton sampah per hari tanpa tempat pembuangan.” 

Di balik gunungan sampah yang membisu di TPA Supit Urang, tersimpan kisah tentang kebiasaan yang belum beranjak. Setiap kantong plastik yang kita buang, setiap bungkus makanan instan yang kita lepaskan dari tangan, perlahan menjadi bagian dari bukit yang kian meninggi itu.

Mungkin dua tahun terdengar lama, tapi waktu berjalan cepat di tengah ritme kota yang tak pernah berhenti menghasilkan sisa. Ketika lahan akhirnya benar-benar sudah penuh, pertanyaannya bukan lagi “ke mana sampah akan pergi?”, melainkan “sampai kapan kita akan menutup mata?”.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.