
Foto : Dok Pribadi/Natera.
Hello Naters!– Di bantaran sungai yang sering luput dari perhatian, sekelompok orang datang bukan untuk sekadar berfoto atau membersihkan lalu pergi. Mereka datang dengan karung, sarung tangan, dan satu niat yang sama mengajak warga pelan pelan sadar soal sampah. Mereka adalah Trash Hero Tumapel.
Nama “Trash Hero” mungkin sudah sering terdengar. Gerakan ini berakar dari jaringan internasional dengan pusat di Swiss, sementara pusat koordinasi nasional Indonesia berada di Bali. Di Jawa Timur, hanya ada dua chapter aktif, dan salah satunya adalah Trash Hero Tumapel yang berbasis di Malang.
Chapter ini berdiri sejak 2018, tumbuh dari keresahan sederhana sungai kotor, sampah menumpuk, tapi solusi sering berhenti di wacana. Trash Hero Tumapel memilih bergerak dari level paling dasar lingkungan tempat orang hidup setiap hari.
Gerakan Global ke Bantaran Sungai Tumapel
Trash Hero Tumapel bukan organisasi besar dengan struktur yang rumit. Mereka adalah chapter lokal berbasis relawan yang bergerak langsung di lapangan. Sejak awal berdiri, fokus mereka jelas: bekerja bersama masyarakat, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai.
“Karena di situlah sampah paling terasa dampaknya,” ujar Coqi Basil, Ketua Chapter Trash Hero Tumapel periode 2022.
Basil sudah bergabung sejak 2018, jauh sebelum ia dipercaya memimpin. Pengalaman turun ke lapangan membuatnya paham bahwa persoalan sampah selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Dalam satu bulan, Trash Hero Tumapel biasanya mengadakan minimal dua kali aksi bersih-bersih. Mereka tidak asal memilih lokasi. Banyak kegiatan justru berawal dari laporan warga lewat DM media sosial, tag di unggahan, atau pesan WhatsApp ke humas.

Foto : Trash Hero Tumapel
Setelah aksi selesai, para relawan tidak langsung pulang. Mereka menyempatkan diri berbincang dengan warga sekitar. Dari obrolan itu, Trash Hero Tumapel mencoba mengajak masyarakat melihat sampah sebagai masalah bersama, bukan sekadar urusan individu.
Bagi mereka, memungut sampah hanyalah langkah awal. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran, agar warga bisa menjaga lingkungannya sendiri secara berkelanjutan.
“Kami selalu coba ngobrol dengan warga setelah bersih-bersih,” ujar Coqi. “Bukan untuk menyalahkan, tapi buat dengar cerita mereka.”
Dengan pendekatan ini, Trash Hero Tumapel tidak menempatkan diri sebagai “penyelamat”. Mereka memilih hadir sebagai fasilitator. Para relawan tidak datang membawa solusi instan, tapi mengajak warga berdiskusi tentang kebiasaan sehari-hari, akses yang mereka miliki, dan pilihan paling masuk akal untuk kondisi lingkungan sekitar.
Trash Hero Tumapel percaya perubahan tidak bisa dipaksakan. Ia perlu tumbuh dari kesadaran warga sendiri, lewat percakapan sederhana yang berangkat dari pengalaman mereka.
We Clean, We Educate, We Change
Tiga tagline menjadi arah gerak Trash Hero Tumapel We Clean, We Educate, We Change. Ketiganya saling terhubung dan dijalankan secara bertahap, bukan sekadar slogan.
We Clean berarti aksi bersih-bersih. Ini langkah awal yang paling mudah dilihat dan dirasakan. Para relawan mengangkat sampah yang menumpuk bertahun-tahun di sungai dan selokan bersama warga. Lewat kegiatan ini, Trash Hero Tumapel membangun kepercayaan dan membuka ruang interaksi langsung dengan masyarakat.
Setelah itu, We Educate mulai berjalan. Trash Hero Tumapel mendatangi sekolah, kampung, dan komunitas. Mereka berbagi soal pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, dan cara sederhana mengelola sampah rumah tangga. Semua disampaikan dengan bahasa sehari-hari, tanpa istilah rumit, agar mudah dipahami dan bisa langsung dipraktikkan.
Tahap berikutnya adalah We Change. Di tahap ini, Trash Hero Tumapel mengumpulkan temuan dari lapangan, mendokumentasikan persoalan sampah, lalu menyuarakannya sebagai bahan advokasi kebijakan publik. Tujuannya bukan langsung mengubah aturan, tapi membuka percakapan dan mendorong perhatian di level yang lebih luas.
Meski begitu, Trash Hero Tumapel tetap menjaga batas perannya. Mereka tidak mengelola sampah dan tidak mengambil keputusan kebijakan. Fokus utama mereka ada pada membangun kesadaran dan edukasi, agar perubahan bisa tumbuh dari masyarakat itu sendiri.