
Foto : Dokumentasi Pribadi
Di banyak kota, isu sampah, krisis iklim, dan lapangan kerja sering muncul sebagai cerita terpisah. Padahal, ketiganya saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda.
Saat peluang kerja terasa kian sempit, sektor hijau justru menyimpan ruang tumbuh yang belum banyak tersentuh. Di tengah situasi itu, komunitas Trash Ranger hadir dengan menjadikan isu lingkungan sebagai pintu masuk green job di Indonesia.
Dimas Dwi Pangestu berdiri di balik inisiatif itu. Ia adalah Founder Trash Ranger sekaligus Youth Empowerment Community Development Specialist. Aktivitasnya merentang dari advokasi, pengembangan komunitas, hingga produksi konten edukatif lingkungan.
Selain aktif sebagai konten kreator, Dimas terlibat sebagai Vice President Indonesia Geopark Youth Forum. Forum ini mengembangkan konsep pembangunan kreatif berbasis UNESCO, dengan dukungan perencanaan nasional dari BPNAS dan pengelolaan daerah oleh Bappeda. Pengalaman organisasi mahasiswa lintas sekolah kedinasan juga membentuk caranya memandang kolaborasi dan pemberdayaan.
Green Job dan Arah Baru Dunia Kerja
Dimas memulai banyak diskusi dengan isu green job. Menurutnya, sektor ini menyimpan peluang besar yang sering luput dari perhatian anak muda. Saat banyak orang membicarakan sulitnya mencari kerja, arah kebutuhan tenaga justru perlahan bergeser.
“Sebenarnya pekerjaan itu sama. Hanya aja trennya bergeser. Yang awalnya pekerjaan konvensional, jadi pekerjaan informal.”
Perubahan itu terlihat jelas pada kebutuhan tenaga ahli. Permintaan muncul untuk panel surya, pengelolaan limbah, hingga perancang sistem energi bersih. Dunia kerja mulai bergerak mengikuti krisis iklim dan tuntutan keberlanjutan.
Trash Ranger tidak berhenti sebagai komunitas relawan. Dimas menekankan peran komunitas sebagai ruang persiapan sumber daya manusia yang adaptif. Anak muda perlu kesiapan skill, bukan sekadar kepedulian isu.
“Dimana kita nggak cuma sebuah komunitas, tapi kita juga mempersiapkan SDM yang kuat untuk menghadapi green job ini.”
Secara regulasi, arah hijau juga telah jelas. Kebijakan nasional mencakup energi terbarukan, pengolahan limbah, konservasi, pertanian organik, efisiensi energi, ekonomi sirkular, hingga teknologi hijau. Semua sektor itu membutuhkan tenaga terampil dengan pemahaman lintas disiplin.
Trash Ranger Jawab Tantangan Nyata
Dorongan kebijakan memperkuat optimisme tersebut. Dalam berbagai perencanaan nasional dan daerah, ekonomi hijau masuk sebagai agenda utama pembangunan. Transisi energi, net zero emission, dan transaksi energi hijau terus menguat dalam dokumen perencanaan.
BPNAS bahkan memproyeksikan penciptaan 4,4 juta pekerjaan hijau pada 2030. Waktu lima tahun terasa singkat jika kesiapan tidak mulai sejak sekarang. Survei juga menunjukkan minat anak muda terhadap karier hijau terus meningkat.
Namun peluang besar itu hadir bersama tantangan struktural. Akses pendidikan belum merata. Kesenjangan keterampilan masih terasa kuat. Informasi kerja hijau sering terkonsentrasi di kota besar.
“Tapi, kita punya tantangan nih yaitu skill gap,akses pendidikan, peluang kerja, dan juga disiplusi yang masih belum merata”
Di titik itulah Trash Ranger memposisikan perannya. Komunitas ini berupaya menjembatani anak muda dengan kebutuhan industri hijau melalui pelatihan, konten, dan jejaring.
“Nah, Trust Ranger, komunis yang dimasak-bangun, itu mengisi skill gap tersebut. Di mana menjembatani industri dan anak muda agar terkoneksi.”
Komunitas sebagai Jembatan Masa Depan
Ruang belajar dalam Trash Ranger terbuka luas. Anak muda dapat terlibat dalam perumusan kebijakan, produksi konten lingkungan, hingga akademi yang membahas isu karbon dan transisi hijau.
Mulai dari pendidikan energi terbarukan, pengelolaan limbah, ekonomi sirkular, hingga pertanian dan pangan berkelanjutan. Teknologi pertanian, kehutanan, restorasi konservasi, dan transportasi hijau ikut masuk dalam spektrum pembelajaran.
Industri hijau dan manufaktur juga tak luput dari perhatian. Isu ESG, proper, dan rantai pasok berkelanjutan muncul sebagai kebutuhan nyata industri. Semua itu membuka ruang kolaborasi lintas sektor yang luas.
“Nah, penting buat kawan-kawan itu juga join komunitas ataupun join suatu platform, di mana kawan-kawan nggak cuma sekedar menyeluruhkan hobinya tapi juga merancang masa depan.”
Menurut Dimas, keterlibatan komunitas memberi lebih dari sekadar pengalaman. Anak muda belajar membaca arah zaman, memahami kebutuhan pasar, sekaligus merancang peran diri secara strategis.
Akses terhadap berbagai skill menjadi kunci. Green job tidak hanya membutuhkan aktivis lingkungan, tetapi juga komunikator, analis data, desainer sistem, hingga pendidik. Lingkungan menjadi ruang kerja, bukan sekadar isu.
Di tengah ketidakpastian kerja, Trash Ranger menunjukkan satu hal penting. Masa depan hijau bukan janji kosong, tetapi ruang yang bisa anak muda masuki sejak sekarang, selama mereka mau belajar dan terhubung.