Trash Ranger Lawan Aksi Lingkungan yang Hanya Kejar Atensi

Di tengah ramainya aksi lingkungan yang sering berhenti di panggung digital, Trash Ranger mengajak publik menengok ulang makna keberlanjutan, dalam webinar “Youth Powered Circular Future: Implementasi Ekonomi Sirkular Indonesia Berbasis Strategi Global” oleh GreenSkill ID.
Foto : Dokumentasi Pribadi

Gerakan lingkungan sering tampak meriah. Webinar penuh peserta, kampanye ramai unggahan, dan poster aksi memenuhi linimasa media sosial. Namun di balik atensi itu, banyak program berhenti tepat setelah acara usai.

Fenomena itu bukan hal baru. Banyak komunitas lingkungan berlomba mengumpulkan massa, tetapi lupa menyiapkan keberlanjutan, evaluasi, dan perubahan perilaku yang nyata. Dampak kerap kalah penting dari jumlah peserta.

“Kebanyakan program-program yang dilakukan sekarang oleh komunitas organisasi, itu bersifat terlalu banyak bersifat ceremony, terlalu bersifat formalitas, terlalu bersifat formal dan tidak mengedepankan keberlanjutan dan juga penilaian indikator yang perlu dipersiapkan.” Ujar Dimas Dwi Pangestu atas persoalan ini secara lugas, dalam sebuah sesi diskusi.

Ia melihat banyak gerakan berjalan tanpa fondasi yang kuat. Program lahir cepat, lalu menghilang tanpa jejak. Tidak ada tindak lanjut yang terukur.

Bagi Dimas persoalan itu berakar dari rancangan program yang ada. Banyak komunitas melewatkan proses berpikir yang seharusnya menjadi dasar gerakan.

“Tidak melewati design thinking, tidak melewati penilaian framework yang lebih tepat.”

Tanpa kerangka yang jelas, program mudah berubah menjadi euforia sesaat. Dampak lingkungan hanya berhenti sebagai wacana, bukan praktik yang konsisten.


Ketika Angka Mengalahkan Perubahan

Obsesi pada angka menjadi jebakan lain dalam gerakan lingkungan. Banyak organisasi yang hanya mengejar target besar saja tanpa menyiapkan perubahan nyata setelahnya. Jumlah peserta sering menjadi tolok ukur utama.

“Terkadang kita terlalu berabisi untuk mengubah hal besar, sampai lupa ada hal kecil yang bisa kita lakukan.” Dimas menyoroti kecenderungan sebagai bentuk ambisi yang keliru.

Target ribuan peserta, ratusan unggahan, dan puluhan kolaborasi tidak selalu sejalan dengan perubahan perilaku. Banyak orang pulang dari acara tanpa mengubah kebiasaan hariannya.

“Bahwa hal besar memang baik, tapi ada hal kecil yang bisa kita lakukan, sederhana. Itu mengubah diri kita sendiri.”

Dalam konteks ini, keberlanjutan tidak bergantung pada besarnya acara. Ia bertumpu pada konsistensi tindakan, bahkan pada skala paling personal.

Ia juga menekankan pentingnya tindak lanjut pasca acara. Program tidak boleh berhenti pada dokumentasi dan laporan.

“Bukan tentang program yang seberapa besar, bagaimana tindak lanjut program yang telah dilakukan, dan seberapa partisipasi aktif dalam program yang kalian telah lakukan.”

Ia melihat banyak gerakan gagal menjaga api perubahan. Tanpa kesinambungan, antusiasme awal cepat memudar.

Trash Ranger dan Jalan Sunyi Keberlanjutan

Dari kegelisahan itu, Trash Ranger mengambil posisi yang berbeda. Komunitas ini tidak mengejar keramaian semata. Mereka memilih membangun sistem yang bertahan lama.

“Nah, Thrash Ranger, pada intinya, kita adalah suatu komunitas yang tujuannya adalah mengkamaian isu lingkungan secara berlanjutan, secara konkret dan berlanjutan.” Jelas Dimas soal arah gerakan Trash Ranger.

Pendekatan ini menempatkan keberlanjutan sebagai inti, bukan pelengkap. Program harus berjalan lintas sektor dan lintas waktu.

Trash Ranger menggunakan pendekatan pentahelix sebagai kerangka utama. Lima sektor menjadi fondasi setiap gerakan.

“Pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan juga swasta.”

Baginya, keberlanjutan tidak bisa berdiri sendiri. Setiap sektor membawa kepentingan, peran, dan tanggung jawab yang saling terkait. Gerakan lingkungan perlu merangkai semuanya.

Seiring waktu, Trash Ranger bertransformasi. Mereka tidak hanya menjalankan aksi, tetapi membangun ekosistem inovasi.

“Nah, ThreshRanger sekarang sudah mulai bertransformasi, menjadi talent pool dan juga think tank buat kawan-kawan yang punya inovasi.”

Transformasi ini menjawab masalah lama dalam gerakan lingkungan. Banyak inovasi berhenti setelah lomba dan penghargaan. Tidak ada sistem yang menjaga keberlanjutan.

Trash Ranger mencoba mengisi ruang kosong itu. Mereka menjembatani ide, sumber daya, dan pemangku kepentingan agar inovasi tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

“Nah, penting untuk kita saling menjaga dan konsisten satu sama lain, untuk memahami bahwa kita hidup saling bergantungan dan saling bergantung.” Tekannya.

Di tengah krisis lingkungan, pesan ini terasa relevan. Gerakan yang bertahan bukan yang paling ramai, tetapi yang paling konsisten menjaga arah dan dampak.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.